"Itu Babunya Bos." Silvia yang menjawab.
"Pembantunya? Aku pikir tadi istrinya," kata Reni si pegawai baru.
"Aih, Reni ... gue maklumi karena elu masih baru jadi gak tahu kalau Bos kita itu seorang duda," kata Lusy.
"Pembantu kok cantik banget gitu ya? Mana pintar lagi kelihatannya," kata Nina
"Cantik apaan? Kampungan gitu dibilang cantik," kata Silvia ketus kepada teman-temannya.
Rahma yang sudah berada di dekat mereka untuk mengantar tissue mendengar percakapan mereka, tapi ya dia cuek aja, tidak peduli.
"Ini tisuenya, Bu," kata Rahma menyerahkan tissue kepada Lusy.
"Makasih ya, Mbak. Oiya Mbak, mbak ya, yang masak makanan ini?" tanya Lusy
"Aih, ya mana mungkinlah. Pak Bastian itu seleranya tinggi, untuk menjamu kliennya pasti pesan di resto," potong Silvia sebelum Rahma menjawab.
Rahma hanya merespon dengan senyum.
"Babu kampungan kayak gini, mana mungkin bisa masak makanan seperti ini," lanjut Silvia.
Mendengar perkataan Silvia, Rahma gedeg juga.
'Kenapalah perempuan satu ini dari tadi mau cari gara-gara terus sama aku?' Batinnya.
"Ya sudah, silahkan dilanjutkan Ibu, saya mau kebelakang dulu," kata Rahma
Dia malas menanggapi celotehan yang menurutnya tidak jelas juntrungannya itu.
Rahma berlalu dari hadapan mereka, diikuti senyum sinis Silvia.
'Pembantu kampungan gitu mau jadi nyonya Bastian? Hadapi dulu Silvia Hadisurya, batin Silvia sambil mencebik.
"Bundaaa!!" teriak Alif berlari menyongsong Rahma, di belakangnya Romi tersenyum sumringah.
Bastian tengah memberi kata sambutan kepada para tamu, tanpa sengaja matanya melihat ke arah mereka bertiga, spontan konsentrasinya jadi pecah.
'Apa-apaan itu? Sudah kayak keluarga bahagia saja,' pikir lelaki itu
Akhirnya Bastian tidak terlalu panjang memberi kata sambutan, sekarang gantian salah satu kliennya, seorang bapak berbadan gemuk dan kepala botak yang memberi sambutan. Sebentar-sebentar Bastian melihat ke arah Rahma yang tengah mengambilkan nasi dan lauk untuk Alif dan Romi. Sekarang Bastian duduk dengan gelisah, seperti menduduki bara api saja.
"Setelah proyek pembangunan Mall ini selesai, saya memutuskan pembangunan kampus STIE, dipercayakan lagi pada CV. Anugerah Pratama," kata Bapak gemuk salah seorang taipan di kota ini.
Perkataan Bapak itu disambut tepuk tangan meriah para hadirin. Hanya Bastian yang tidak bahagia mendengar kabar tersebut, bukan lantaran kalah tender, mereka justru memberikan proyek ini tanpa tender.
'Ah, kenapa aku ini? Bawaan bad mood terus,' batinnya.
Lagi-lagi diliriknya Romi yang sekarang tengah tertawa bersama Rahma dan Alif.
"Rahma, anakmu ini pintar sekali, loh. Sekarang hapalannya sudah sampai juz 28," kata Romi sambil mengelus kepala Alif.
"Benar, sayang?" Rahma terlihat sangat bahagia.
"Iya, Bun. Target Alif dua bulan lagi sudah hapal tiga Juz," kata Alif sambil memakan nasinya.
"Subhanallah ...." Rahma senang sekali melihat putranya tersebut.
"Kata Om Romi, kalau Alif sudah hapal lima juz, mau diajak ke Dufan," kata Alif polos.
"Ha? Pak Romi, itu tidak perlu. Ke Dufan itukan jauh dan mahal," kata Rahma tidak enak hati.
"Ah, Rahma, jangan panggil Pak, dong. Panggil Abang atau Mas saja," kata Romi
"menyenangkan anak penghapal Alquran itukan berpahala juga,," lanjutnya.
"Tapi, Pak ...."
"Eits, Bang ... jangan panggil Pak. Aku belum punya anak. " Romi memotong pembicaraan Rahma sambil menggoda.
"I ... iya, Bang ... Romi" kata Rahma sambil meringis canggung, tapi ditanggapi Romi dengan tertawa lebar.
"Bunda, Alif gak bisa nginap malam ini," kata Alif lagi
"Loh, kenapa sayang? Alif gak kangen sama Bunda?"
"Alif kan masih baru di asrama, jadi wajib ikut Mabit nanti malam. Alif hanya dibolehkan ijin sampai jam tiga sore,"ujar Alif .
"Kok gitu? Pembina asrama kok gak bilang?" tanya Rahma
"Kata Ustad sudah di SMS Bunda."
Rahma segera memeriksa ponselnya.
"Oiya ... yah, Alif gak bisa tidur di rumah dong?"
Rahma terlihat sedih, tetapi Alif mencoba menghiburnya sehingga dia bisa tertawa dengan lepasnya.
****
Jam dua siang acara sudah selesai, para tamu sudah pergi meninggalkan rumah Bastian. Tinggal Bastian, Romi dan dua staf lainnya sedang rapat pribadi di kamar tamu. Rahma selesai melakukan salat zuhur bersama putranya di ruang tengah.
Rahma melihat sekeliling, tugasnya tinggal bersih-bersih. Dari arah halaman depan masih terdengar beberapa karyawan yang hendak pulang.
"Yakin kau, Sil? Belum mau pulang?" tanya Lucy berteriak.
"Aku mau bantu-bantu beres-beres dulu, kasihan Pak Bastian," seru Silvia.
"Ya, sudah. Kami pergi dulu, ya ...," ujar teman-temannya sambil melambaikan tangan.
Silvia bergegas masuk ke rumah Bastian, dilihatnya Rahma tengah mengangkat piring-piring kotor dibantu Alif.
"Mbak, ini piring kotornya banyak sekali. Ayo, ditaruh di tempat cuci piring!" perintah Silvia sudah seperti nyonya di rumah ini.
Rahma menatapnya tidak suka, tidak dihiraukan perkataan Silvia.
"Ini lagi, sudah mengangkat piring-piring itu, disapu ya, tempat ini, sudah itu di pel. Baru cuci piring-piring itu!" perintah Silvia sambil berkacak pinggang.
'What? Apa-apaan sih, perempuan ini? Sok ngatur-ngatur lagi,' batin Rahma menatap Silvia tajam.
"Kenapa malah bengong? Ayo kerjakan!" Silvia kembali memerintah.
"Hei, Mbak!. Kenapa mbak gak pulang saja sama seperti yang lain? Keberadaaan mbak di sini malah membuat mata saya sepet, tahu?" dengus Rahma sambil melempar gelas mineral yang sudah kosong.
"Hei!! Berani kamu melawan? Kamu tahu siapa saya? Saya ini calon nyonya di rumah ini. Saya calon istri bos kamu, tahu nggak?" Silvia berang.
'Wah, perempuan gak ada akhlak ini pacar Bos? Bener-bener serasi mereka, sama-sama judes, sombong, nyebelin.' batin Rahma.
"Baru calon, sudah belagu. Mbak bilang sama teman-teman Mbak, mau ikut bantu beres-beres, kan? Itu bantu cuci piring," kata Rahma cuek bebek.
"Apa?" Silvia memekik, bersamaan itu Bastian keluar dari ruangan.
"Ada apa, ini?" tanya Bastian menatap mereka berdua
"Ini, Pak Bos, Mbak ini mau membantu nyuci piring, saya tidak memperbolehkan tapi dia maksa, saya gak enak sama Bapak, itukan kerjaan saya," kata Rahma garcep.
Rasain lu ... ha ... ha ..., Rahma tertawa di dalam hati
"Apa?" seru Silvia spontan
"Ya, bagus itu ... lagipula kamukan sudah bekerja dari kemarin, pasti capek. Makasih, ya Sil ...," kata Bastian sambil berlalu ke kamarnya.
"Ayo, Mbak Silvia ... itu nyuci piringnya di dapur," kata Rahma tangannya mempersilahkan.
Silvia mendengus kesal berlalu menuju dapur.
"Siaaal!"
Wanita modis itu mengumpat sambil membanting piring keramik, untung piringnya tidak pecah, hanya menimbulkan suara gaduh.
"Hati-hati, Mbak. Piringnya jangan sampai pecah, itu piring mahal. Kalau pecah, ganti loh," kata Rahma melihat ke dapur setelah mendengar suara gaduh itu.
"Hiii!" pekik Silvia geram, Rahma hanya tersenyum penuh kemenangan.