Bab 3

1298 Words
Setelah mengantar Alif ke sekolah, Rahma buru-buru pergi ke rumah bosnya itu untuk mengantar sarapan dan bekal makan siang. Sebentar-sebentar dilihatnya jam tangannya, sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Dia harus buru-buru karena hari ini jadwal piket di sekolahnya, dia harus segera ke sekolah menyambut murid-muridnya di pintu gerbang, minggu kemarin dia sudah telat sampai sekolah, cukup kemarin saja dia ditegur kepala sekolah, hari ini dia tidak sanggup jika ditegur lagi. Sampai rumah bosnya, Rahma segera memeriksa tasnya untuk mengambil kunci rumah lelaki itu, tapi sudah lama mencari kok gak ada ya? "Ya, ampun! Pantesan gak ada, kuncinya kan ditaruh tas satunya!" dengus Rahma kesal. Saking buru-buru berangkat, Rahma salah mengambil tas. Hufhhh ... Rahma menghembuskan napas kuat-kuat, dia mencoba tenang menghadapi situasi ini. Hari ini dia memang selalu gagal fokus karena mengejar waktu, padahal dia bangun sudah jam 3 pagi untuk mempersiapkan bekal dan sarapan bosnya itu. Tok ... tok ... tok .... "Assalamualaikum, Bos! Bos ... Pak Bos!" Rahma mencoba mengetuk rumah Bosnya, dia tahu bahwa bosnya jam segini masih tidur, setiap dia mengantarkan bekal cukup menaruh di meja makan tanpa bertemu lelaki itu. "Ah, pasti masih tidur Pak Bos ini. Ya sudah, kutaruh di sini saja." Rahmapun segera menaruh makanan itu di meja teras dan segera mengirim pesan bahwa bekalnya sudah ditaruh di atas meja teras. **** Sehabis mandi dan berpakaian rapi, Bastian segera menuju meja makan untuk sarapan. Hari ini rencananya seharian dia ada meeting dengan pemilik Mall, dan ada dua orang klien baru yang ingin melihat hasil rancangan bangunan perumahan sederhana untuk menengah kebawah. Segera dia menuju meja makan untuk sarapan, tapi di meja makan tidak ada apa-apa. "Inikan sudah jam delapan, kenapa perempuan itu belum mengirim makanan? Bener-bener ya, gak becus banget kerjanya!" dengusnya kesal. Segera dikeluarkan ponselnya dan menelpon Rahma. "Ya, ampun. Kenapa sih gak diangkat-angkat?" Bastian mencoba sekali lagi menelpon. "Halo, Assalamualaikum?" suara perempuan itu di seberang sana. "Hei, mana sarapan dan bekal makan siangku?" kata Bastian to the point. "Cek aja SMS, Bos. Aku lagi sibuk.” Tuut ... tuut .... "Ya, ampun!. Gila ya? Telponku ditutup gitu aja, benar-benar perempuan lancang gak ada sopan-sopannya. Apa kata dia tadi? Cek SMS?" Segera Bastian memeriksa pesan masuk di ponselnya. (Assalamualaikum, Pak Bos. Maaf bekal saya tinggal di teras, saya lupa bawa kunci rumah. Ttd. Pembantumu) Bergegas Bastian mengambil bekalnya di teras. Di atas wadah itu sudah ditulis mana yang untuk sarapan, mana yang untuk makan siang. Segera dibukanya yang untuk sarapan. Hmm... nasi goreng. Untung wadahnya terbuat dari termos sehingga masih hangat, jika nasi goreng ini sudah dingin Bastian pasti tidak sudi memakannya. “Hmmm, ternyata enak juga,” batin Bastian Dengan lahap dia menikmati nasi goreng itu. Sudah bekerja selama tiga minggu baru kali ini Rahma menbuatkan nasi goreng untuknya. Sepertinya dia tidak rugi mempekerjakan Rahma menjadi pembantu rumah tangga, kebutuhan perutnya sudah terjamin sekarang. **** "Bas, makan siang, yuk?" ajak Romi Romi adalah patner kerja Bastin, mereka sudah akrab semenjak SMA, sama-sama mengambil arsitektur ketika kuliah, Bastian akui Romi selalu memiliki ide yang brilian sehingga klien banyak yang suka idenya. Walau Bastian pemilik usaha kontruksi ini, tapi berkat Romilah mereka kebanjiran order, selain temannya, Romi juga tangan kanannya. "Aku makan siang di sini saja, aku bawa bekal," kata Bastian. Dia masih berkutat dengan berkas ditangannya. "Sekarang kau tidak pernah makan siang di luar, Bro. Rajin amat bawa bekal tiap hari,” kata Romi. "Kaukan tahu, aku gak bisa makan sembarangan. Ini pembokat gue yang masakin." Bastian menunjuk bekalnya. "Permisi, Pak Bastian!" Sebuah suara menghentikan pembicaraan mereka. "Oh, Silvia ... masuk Sil, sini masuk," kata Romi Intonasi suara Romi yang ramah banget membuat Bastian tersenyum mengejeknya. "Dasar jomblo, lihat cewek langsung tebar pesona," bisik Bastian "Namanya juga usaha, Men!" Romi cekikikan menanggapi ucapan Bastian. Silvia, seorang gadis cantik yang selalu berdandan modis, dengan rambut ditata ikal sedada, memakai blus dan rok sepan selutut itu bekerja di bagian keuangan. Sudah lama Silvia menaruh hati pada bosnya itu setelah dia mengetahui status Bastian adalah duda. "Pak ... ini saya bawakan bekal makan siang," kata Silvia Wanita itu menyodorkan rantang kepada Bastian yang disambut Romi dengan suka cita. "Gak usah repot-repot, saya bawa bekal sendiri," kata Bastian "Nggak repot kok, Pak. Mulai besok Bapak tidak perlu repot-repot bawa bekal, saya akan membawakan untuk Bapak." Silvia tersenyum manis, memperlihatkan sebaris giginya yang dirawat dengan baik. "Tidak perlu. Ambil saja bekalmu lagi, saya tidak akan memakannya!" jawab Bastian ketus Perkataan Bastian mengagetkan gadis itu, dia tidak menyangka bosnya bersikap demikian terhadapnya. Wajah Silvia berubah menjadi pias, kata-kata Bastian meninggalkan luka, dia benar-benar malu ditolak terang-terangan seperti itu. Dia akan bertekad menundukkan bosnya itu, Silvia gadis yang cantik, kaum lelaki di kantor ini semua terpesona dengan kemolekannya. “Mustahil aku tidak bisa menundukkanmu, Bos,” batinnya. "Kalau Bastian tidak mau, biar sini aku yang makan, nanti dia kusuruh nyicipin, ya?" Romi mengerlingkan mata ke arah Silvia. Gadis itu tampak senang, dia berlalu keluar ruangan, untuk makan siang di kantin kantor, teman-teman kerjanya sudah menunggunya di sana. "Aish, gila! Asin banget masakan Silvia. Kelihatan banget itu cewek sudah pengen kawin,” seru Romi Diteguknya air mineral di botol sampai tandas. Bastian hanya tersenyum menanggapi omongan Romi. Segera di buka wadah bekalnya. Aromanya langsung menguar. Sayur sop ayam masih hangat, lagi-lagi wadahnya termos. Ada juga sambal ikan teri dan perkedel kentang. "Bawa sini nasinya, lauknya ambil sini," kata Bastian. Romi segera mengambil sop ayam dan sambel teri di bekal Bastian. "Hmmm, kalau ini pas. Enak rasanya, pantasan kau tidak mau makan di luar. Besok bilang sama pembokatmu, buatin bekal makan siang buatku juga" Permintaan Romi membuat mata Bastian mendelik. "Enak aja lu. Dia pembokat gue, hanya boleh buatin bekal buat gue seorang. Kalau elu mau bawa bekal juga, ya cari pembantulah!" dengus Bastian sewot. Yah, diakui Bastian masakan Rahma memang enak, cocok di lidah dan perutnya. Sekarang sudah penghujung bulan, dia perlu memikirkan, mau digaji berapa pembantunya itu. **** Sudah sebulan Rahma bekerja di rumah Bastian, dia sudah bisa menyesuaikan diri dengan ritme pekerjaannya. Alhamdulillah Alif pengertian sekali dengan bundanya, melihat bundanya susah membagi waktu, dia meminta tinggal di asrama sekolah tahfiz. "Benar, Nak? Alif tidak keberatan tinggal di asrama tahfiz?" tanya Rahma "Benar, Bun. Sudah lama Alif ingin menghapal Alquran tetapi Alif sering berpikir kalau Bunda akan susah mencari biaya asrama," kata anak itu. Rahma memeluk anaknya dengan sayang, Ah ... Santi, lihat anak yang kau singkirkan dalam hidupmu ini, dia ingin menjadi penghapal Alquran, dia juga anak yang sangat pengertian dan soleh. Mata Rahma berkaca-kaca mendengar permintaan putranya. "Soal biaya Bunda pasti carikan, Sayang. Tapi Bunda jadi sedih ni, Alif gak tinggal sama Bunda lagi," Rahma menatap putranya dengan sayang. "Kalau Alif tinggal di asrama, Bunda bisa fokus bekerja di sekolah dan tempat Bos Bastian. Kita kan bisa ketemu setiap weekend.” Alif membalas memeluk bundanya. Sore ini Rahma mengerjakan pekerjaan di tempat Bastian lebih cepat selesai. Dia tidak lagi kuatir memikirkan Alif yang belum dijemput dari sekolah. Jam setengah empat pekerjaannya sudah selesai. Makanan sudah terhidang di meja makan, ikan bakar, sayur asam, dan sambal terasi. Rumah sudah dibersihkan dan dirapikan, pakaian bosnya juga sudah rapi tersusun di lemari. Azan Ashar berkumandang, sebelum pulang dia akan salat Ashar dulu biar tenang. Setelah mengambil wudhu, diambil mukenanya yang selalu berada di tas kerja. Rahma salat di kamar tamu dengan khusuk dan santai. Bastian pulang lebih cepat tiga puluh menit dari biasanya. Romi berulangkali mengajaknya untuk bersantai dulu ke kafe atau ke karaoke tapi ia tolak. Dia hanya ingin istirahat, lagipula makanan di kafe belum tentu cocok dengan perutnya. Selama sebulan ini, pencernaannya tidak pernah bermasalah, itu berarti masakan Rahma cocok di perutnya. Bastian masuk rumah seperti biasanya, tidak mengucapkan salam. Dia heran karena motor Rahma tidak terparkir di halaman, berarti perempuan itu tidak di rumahnya. “Hm, apakah dia bolos kerja?” pikir lelaki itu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD