Bab 4

1162 Words
Bastian masuk rumah seperti biasanya, tidak mengucapkan salam. Dia heran karena motor Rahma tidak terparkir di halaman, berarti perempuan itu tidak di rumahnya. “Hm, apakah dia bolos kerja?” pikir lelaki itu Setelah masuk rumah, menguar aroma cairan pembersih lantai dari dalam, sepertinya perempuan itu sudah selesai bekerja, pandangan Bastian beredar ke setiap sudut rumah yang telah bersih dan rapi. “Tumben jam segini sudah beres? Biasanya aku pulang masih berantakan,” gumam Bastian. Tercium aroma masakan yang menggoda, segera dia membuka tudung saji, sayur asem, dicicip sayur kesukaannya yang masih hangat itu. “Wah... seperti biasanya, enak,” gumamnya. Bastian segera menuju kamar tamu, dia biasa menyimpan berkas pekerjaannya di sana. Ceklek. Dibukanya pintu kamar itu, alangkah terkejutnya dia melihat Rahma sedang salat di sana. "Oh, ternyata pembantu itu belum pulang?" gumamnya pelan. Dia masih saja memperhatikan Rahma yang tengah berdoa, setelah itu Rahma melepaskan mukena yang menutupi kepalanya, rambut panjang sepinggangnya mengurai indah, disisir rambut indah itu, membuat Bastian tidak lepas pandangannya ke arah wanita itu. “Ah, cantik juga perempuan ini kalau lepas jilbab,” batinnya. Setelah Rahma siap-siap akan berbalik menuju pintu, Bastian bergegas pergi dari sana, dia gugup tidak tahu harus berbuat apa, seperti maling yang tertangkap basah. Akhirnya dia duduk di kursi meja makan. Setelah keluar kamar, Rahma terkejut melihat bosnya tengah duduk di kursi meja makan. “O, sudah pulang rupanya,” gumamnya. Rahma melangkah perlahan menuju nakas, di mana tas kerjanya diletakkan. "Bos, sudah pulang?" tanya Rahma Bastian hanya berdehem, tidak menoleh kepadanya. "Ya sudah, Pak Bos. Aku pulang dulu, ya?" Rahma meraih tas kerja dan memasukkan mukenanya. "Tunggu!" Bastian menghentikan langkah Rahma yang akan meninggalkannya. "Ha?" Rahma tidak mengerti, kenapa Bosnya memanggilnya. "Sini!" perintah Bastian Mata lelaki itu mengarah ke kursi di depannya, Rahma menghampirinya. "Ada apa, Bos?" "Siapkan makanan saya!” perintah Bastian. "Itukan sudah saya siapkan? Piring, sendok, air minum sudah ada di situ tinggal disendok saja nasi sama lauknya,” kata Rahma. "Sendokin!" Perkataan Bastian membuat Rahma heran. “Kok Si Bos kolokan banget sekarang?” batinnya Walau masih heran, Rahma mengambil nasi dan lauk di piring Bos nya "Segini cukup?" tanyanya Bastian hanya mengangguk. "Duduklah, ayo kawani aku makan," kata Bastian. Rahma yang masih heran, mengambil posisi duduk menghadap bosnya itu. "Ambil piring, sana! Ayo makan bersamaku, jangan cuma bengong begitu," perintah Bastian "Oh?" Rahma segera mengambil piring, diliriknya bosnya itu, ada angin apa? Kok ngajak makan bareng? Bastian tahu, pasti wanita di depannya heran dengan tingkah lakunya. "Aku bosen makan sendirian," kata Bastian. Dia harus membuat alasan untuk menanggapi keheranan Pembantunya itu. "Oh ...." Rahma tidak tahu harus bereaksi seperti apa menanggapi ucapan lelaki itu . "Kamu kok gak bawa motor?" tanya Bastian "Motorku rusak, jadi sekarang di bengkel,” kata Rahma Rahma memakan nasinya dengan canggung, dia masih belum percaya bisa makan bersama lelaki jutek itu. "Jadi gimana kamu menjemput anakmu?" "Dia tidak saya jemput lagi, kemaren sudah masuk asrama," jawab Rahma "Ooo pantesan kamu jadi fokus bekerja, belum jam empat sudah beres semua," kata Bastian "baguslah kalau gitu," lanjutnya. Rahma tersenyum kecut mendengar perkataan bosnya itu, walaupun lelaki itu sudah biasa bicara sekenanya, namun dia kadang masih suka kesal. "Kamukan bisa mengunjunginya, daripada kamu pontang panting pekerjaan gak beres-beres, ya lebih baik diasramakan,” kata Bastian Lelaki itu berusaha memilih kata-kata yang sedikit bijak, dia juga sebenarnya tidak mau menyinggung perasaan Rahma. "Alif sendiri yang mau masuk asrama biar fokus menghapal Alquran, saya ya gak mau sebenarnya pisah dari anak," kata Rahma "Tuh, kamu harus bersyukur punya anak soleh seperti Alif.” Bastian menunjukkan senyum manis yang seperti ... dibuat-buat. Hufh, Rahma menarik napas berat “Orang ini kenapa ya? Kok kayaknya mau sok ngakrab-ngakrabin gitu?” batinnya "Cek rekening, saya sudah mentransfer gaji pertamamu" kata Bastian. "Loh, saya dibayar ya, Bos? Saya pikir saya kerja cuma kerja rodi untuk membayar hutang-hutang saya," kata Rahma Sebuah notifikasi pesan berbunyi di Handphonenya. Segera Rahma membuka isi pesan itu, ada transfer dari rekening Bastian Wibisono ke rekeningnya dua juta rupiah. "Pak Bos! Ini bener? Gaji saya dua juta sebulan?" tanya Rahma tak percaya. "Makanya kamu itu kerjanya yang rajin. Mulai besok tugasmu tambah." Bastian berdiri setelah selesai makan. "Tugas apa?" "Menemani aku makan. Sudah itu beresin meja makan " Bastian merasa gengsi untuk mengungkapkan semua itu sebenarnya, sehingga dia langsung ngeloyor ke kamar. Rahmah segera beringsut membenahi meja makan dan mencuci peralatan makannya. Dia masih belum percaya kalau menjadi pembantu dirumah ini dibayar. Alhamdulillah ... bisa membayar uang Asrama Alif yang tidak sedikit. Walau dia memiliki gaji tetap, tetapi banyak yang harus dibayarnya terutama cicilan rumah yang menguras hampir empat puluh persen gajinya. Dulu, Rahma sebenarnya sudah menepis keinginannya untuk kuliah, namun ketika Alif berumur tiga tahun, dia bertemu Resti teman SMA-nya. Resti sudah menikah dan tengah mengandung, tetapi dia melanjutkan kuliah di program ekstensi jurusan bimbingan konseling, tidak seperti program reguler yang tiap hari kuliah, program ekstensi mahasiswa hanya kuliah sabtu dan minggu saja, walaupun memang biayanya lebih besar dari reguler. Rahma menjadi semangat lagi dan mencoba mendaftar, akhirnya dia lulus dan memulai hari dengan harapan sebagai mahasiswi sekaligus bisa berjualan mie ayam. Rahma bersyukur karena Alif sudah bisa ditinggal, kebetulan tetangga kontrakannya Bude Marni dan Pakde Yono semenjak Alif Bayi meminta agar Alif ditinggal bersama mereka, jika Rahma pergi bekerja. Bahkan, mereka pernah meminta untuk mengadopsi Alif karena mereka menikah sudah 10 tahun tetapi belum diberi momongan, namun Rahma sudah terlanjur sayang pada anak itu sehingga tidak bisa melepaskan. Namun, tetangganya itu banyak membantu, untuk keperluan administrasi sekolah Alif, mereka dengan suka rela membuatkan akte kelahiran yang terlulis Bude Marni dan pakde Yono sebagai orang tua Alif. Hingga tiga bulan sebelum Rahma wisuda, Pakde Yono meninggal karena penyakit diabetes yang dideritanya. Bude Marnipun pulang ke kampungnya. Selepas Wisuda Alhamdulillah ada pembukaan CPNS besar-besaran karena puluhan ribu pegawai negeri yang memasuki usia pensiun. Rahma sengaja ikut tes di luar daerah, bahkan di luar provinsi, untuk memulai hidup baru dan mengubur kenangan pahit di kota itu, sekarang sudah sembilan bulan dia berada di kota ini, merajut masa depan demi membesarkan putra yang dicintainya. **** Tidak terasa sudah hari jum'at. Sudah hampir seminggu Alif berada di asrama, besok siang rencana Rahma akan menjemput Alif untuk menghabiskan akhir pekan bersama. Rahma sudah memiliki rencana istimewa untuk menyambut putranya itu. Sepulang mengajar dia akan belanja untuk membuat masakan kesukaan Alif, ayam geprek dan bakso bakar. Selama sembilan tahun membesarkan anak itu, dia tahu benar perubahan Alif satu persatu. Waktu umur dua tahun, Alif suka sekali memakan gulai ikan patin tanpa cabe, dimakan dengan nasi hangat, dia bisa tambah-tambah makannya. Umur tiga tahun beda lagi kesukaannya, dia suka kue browies keju. Karena hari ini pulang cepat, Rahma akan segera belanja ke pasar untuk membeli bahan ayam geprek buatannya, Alif lebih suka jika dia yang membuatnya daripada membeli jadi, menurut anak itu sambelnya tidak terlalu pedas tetapi gurih dan lezat. Baru memarkirkan motor di pasar, handphone Rahma berbunyi, buru-buru dia mengambil Ponsel di tasnya, rupanya bosnya yang menghubungi. "Assalamulaikum, Bos?" sapa Rahma
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD