Bab 5

1082 Words
"Assalamulaikum, Bos?" sapa Rahma "Kamu di mana?" "Saya lagi di pasar, Bos. Lagi belanja." "Oh, kebetulan sekali. Besok di rumahku ada acara, kamu masak yang enak-enak untuk tiga puluh orang, ya," kata bosnya dari sebrang sana. "Untuk berapa orang, Bos?" tanyanya memastikan. "Untuk tiga puluh orang. Masak yang enak, menunya daging, ayam, seafood. Jangan lupa cemilan, kue dan penganan ringan lainnya. Duitnya sudah saya transfer," kata Bastian langsung mematikan panggilannya. "Tapi, Bos ... Bos! Huh ...."Rahma mendengus kesal. 'Untuk acara sebesar itu kenapa tidak catering aja sih? Apa aku sanggup memasak sendiri dengan menu sebanyak itu,’batinnya. Dulu waktu menjual mie ayam, Rahma pernah membuat hingga lima ratus porsi, tapikan itu cuma semacam. Dia segera mengecek SMS Banking, di sana tertera uang yang sudah di transfer lelaki itu. Wah, lima belas juta? Yang benar saja ini? Uang segini cukup untuk membuat Akikahan anak laki-laki. "Duh, harus bagaimana aku ni? Yah terpaksa mengambil uang cash dulu di ATM," katanya sambil melajukan motornya ke mesin ATM terdekat. Setelah mengambil uang, Rahma segera membeli daging tiga kg, ayam 4 kg dan udang besar 2 kg. Membeli bumbu-bumbu dapur, cabe, bawang dan berbagai macam sayuran. Barang belanjaan yang cukup banyak, membuat Rahma kepayahan membawanya. Beruntung pedagang ayam memberinya karung bekas sehingga semua barang dimasukkan dan diikat di belakang jok sepeda motor. Rahma menaruh semua bahan makanan yang baru dibelinya di rumah, sesudah itu dia segera memesan ojek online untuk pergi ke swalayan. Di swalayan, Rahma membeli sembako, bahan-bahan kue, membeli blender, mixer kue, oven dan panci presto. Yah, semua alat ini dia beli, kan untuk memudahkan pekerjaannya. Tak lupa dibelinya magicom ukuran jumbo, agar dia tidak repot menanak nasi. Untungnya di swalayan ini lengkap menyediakan barang kebutuhan rumah tangga dan elektronik. Sepertinya masih ada yang kurang, dia segera menelepon bosnya, panggilannya tersambung dan diangkat. "Ada apa?" kata suara di seberang telepon. "Bos, di rumah Bos lengkap gak peralatan makan? Seperti piring, sendok, gelas dan tempat prasmanan?" tanya Rahma. "Ya, nggak ada. Piring di rumah cuma selusin. Ya sudah, kamu beli saja, kalau duitnya kurang, bilang!" kata Bastian "Oke," kata Rahma. Ah, Rahma sendiri heran, kenapa dia justru bersemangat sekarang? Mungkin karena seumur hidupnya dia tidak pernah berbelanja memborong barang sebanyak itu. Pelayan swalayan sampai dua orang yang melayaninya. Dia tambah piring empat lusin sekalian sendoknya, tempat prasmanan yang cantik-cantik dari keramik enam buah, gelas piala empat lusin, piring hias untuk tempat kue-kue. Tak lupa membeli air mineral empat dus. Wajan yang besar juga tak ketinggalan. Dia masih menambah membeli kompor gas tungku satu yang biasa untuk masak besar. Di swalayan habis belanjanya sepuluh juta. Pihak swalayan memberi jasa antar gratis memakai mobil pick up untuknya. Sepertinya uangnya cukup, bahkan lebih dua juta lebih. Selama di mobil Rahma kembali menelpon bosnya. "Apalagi, sih? Duitnya kurang?" tanya pria itu di seberang sana. Sebenarnya Rahma malas banget telpon-telponan dengan lelaki itu, bahasanya suka ketus, nyelekit banget bikin kuping panas. "Bos, saya masak di rumah saya, ya? Jadi, dibawa ke situ sudah matang," kata Rahma sebelum mobil pick up sampai ke tempat tujuan. "Terserah kamu, asal makan malam jangan lupa kau antar," kata Bastian "Ya ampun, Bos. Sayakan lagi repot memasak untuk besok? Beli saja kenapa sih?" "Kalau aku bisa beli untuk apa bayar pembantu,” kata pria di seberang sana. "Kan saya sedang repot?" kata Rahma "Itu urusanmu! Terus aku bakalan kelaparan semalaman gitu? Mikir, gimana biar tugas kelar semua. Sudah gak usah ganggu lagi, saya lagi rapat!" Tuut ... tuut .... Sambungan telepon diputus di seberang sana. "Hiiiih! Belagu banget sih?" Rahma kesal, hampir saja membanting HP di tangannya. "Kenapa, mbak?" tanya Sopir pick up yang sudah paruh baya di sampingnya. "Nggak, Pak. Antar ke rumah saya, Pak,” kata Rahmah sambil menunjuk jalan pada Pak Sopir. Karena dia besok sibuk, otomatis tidak bisa pergi ke sekolah. Terpaksa izin satu hari tidak masuk, karena selama sembilan bulan ini, Rahma tidak pernah izin atau sakit, maka kepala sekolah mengizinkan, tetapi hanya satu hari besok sabtu. **** Rahma sampai rumah pas azan Ashar, dia segera mengambil wudhu dan salat. Dia harus memanfaatkan waktu seefisien mungkin. Mula-mula pekerjaan yang dilakukan menanak nasi di magicom untuk makan malam bosnya. Selanjutnya me-mixer telur dan gula untuk membuat brownies panggang. Ketika tengah mixer, dia sambil meracik bumbu masakan. Kali ini dia hanya masak sederhana biar cepat, tumis kangkung dan telur kecap pedas mata sapi. Setelah racikan selesai, telur yang di-mixer sudah mengembang tinggal ditambah coklat dark, coklat bubuk, terigu dan s**u kental manis, sebelum di panggang di oven, dia taburi dengan keju parut. Brownies siap di panggang, selanjutnya dia menyiapkan lagi adonan untuk bolu mentega coklat, ketika memutar mikser yang kedua, tangannya cekatan menumis sayur kangkung dan membuat telur ceplok tiga buah. Selesai memasak, segera di masukkan rantang termos seperti biasanya. Hari sudah jam lima sore, pria itu pasti sudah pulang. Rahma segera memesan ojek online di aplikasi hijau, tidak sampai lima menit ojolnya sudah datang, Rahmah tinggal memberi ongkos kirim makanannya dan memastikan alamat yang dituju agar sang driver cepat sampai. Ah ... lega, selesai tugas satu. Siapa yang gak bisa mikir? Zaman canggih seperti ini, tidak perlu mengantar langsung tinggal sewa jasa pengantaran. Rahma jadi terpikir, kenapa selama ini dia harus pontang-panting tiap pagi mengantarkan bekal untuk pria itu, yah ... mulai besok dia akan hemat energi, tidak perlu lagi mengantarkan makanan itu sendiri. Segera Rahma mengirim pesan pada bosnya. (Bos, makanan saya antar lewat ojol) pesan sudah di baca tapi tidak dibalas. Ya sudah, yang penting sampai. Rahma kembali berkutat dengan urusan dapur, seloyang brownies, seloyang bolu mentega, seloyang bolu pandan sudah siap. Puding mangga tinggal didinginkan di kulkas, jam sembilan malam Rahma tinggal mencetak risol. Ah ... capeknya, jam sebelas malam Rahma langsung tertidur tanpa salat Isya terlebih dahulu seperti biasanya. Jam tiga pagi Rahma terbangun, dia segera salat Isya sekaligus tahajud. Setelah kesadarannya pulih, dia segera memasak daging yang sudah dipotong dadu di presto. Setelah sepuluh menit dagingpun empuk, segera diiris tipis dan dipipihkan, rencananya dia akan membuat sambal dendeng. Masih ada sisa daging balungan di kulkas, segera dikeluarkan, diraciknya bumbu sop balungan. Dimasukkan semua bumbu dan daging ke presto biar cepat matang. Setelah daging empuk dimasukkan sayur-sayuran. Jam setengah enam dendeng dan sop balungan sudah ready. Setelah salat subuh, dia kembali memasak ayam kecap, udang asam manis, sayur urap, membuat es buah, memasak nasi, dan memotong buah semangka dan buah melon. Jam setengah sebelas semua sudah siap, segera dia mandi. Yah, karena barang yang akan diantar banyak, maka Rahma menelpon jasa mobil angkut barang, datanglah mobil box mini. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD