Pelan-pelan Alea membuka kedua matanya. Ia mengerang pelan sambil menggeliatkan tubuhnya. Dan saat menatap ke samping pandangannya jatuh kepada Revan yang sedang tertidur nyaman di ranjang samping sofanya. Pria itu tidur dengan menghadap padanya membuat Alea bisa puas menatap wajah teduh pria itu ketika tidur.
"Tuhan hebat banget ya bisa membolak balikan takdir seseorang. Dia yang dulu aku pikir bakal jadi iparku eh sekarang malah jadi suamiku, walau hanya sebatas suami dadakan" Ucap Alea dalam hati, ia tak begitu berani untuk membuka suara takut Revan terganggu olehnya.
Perlahan Alea mulai turun dari sofanya tak lupa ia membenarkan tempat tidurnya itu dan setelah rapi baru ia memilih untuk keluar kamar.
***
Secara perlahan, Revan langsung membuka ke dua kelopak matanya. Tidur lelap pria itu terganggu karena silau matahari yang masuk dari sela-sela gordeng. Revan mengucek matanya dan ia tersadar jika Alea tak berada di sofa samping. Revan awalnya panik takut gadis itu tiba-tiba kabur dari rumah. Namun semuanya sirna kala mendengar kehebohan dari arah dapur yang tentu pelakunya adalah Alea.
Revan langsung menyingkirkan selimut dab langsung beranjak menuju kamar mandi.
Setelah segar mandi Revan langsung menuju tempat yang sedari tadi mengganggu indra pencernaan dan juga penciumannya. Bagaimana tidak? aroma sedap masakan yang di buat Alea membuat tubuhnya berkontraksi ingin diisi.
Revan terpaku sejenak, melihat bagaimana Alea sedang sibuk dengan berbagai macam peralatan masak. Gadis itu begitu telaten dan fokus dengan pekerjaannya sampai kedatangan Revan tak diidahkannya.
"Al"
Alea langsung menoleh saat ia mendengar namanya di panggil,"Eh, kamu sudah bangun? maaf aku ribut ya?" Tanya Alea sembari mematikan kompornya.
Revan mendeket sembari kepalanya menggeleng. "Nggak, tapi karena kamu perut aku keroncongan"
Alea tak mengerti dengan ucapan Revan, masa karena dia perut Revan keroncongan sangat tak masuk akal.
"Kenapa diam? sudah selesai masaknya?" Tanya Revan yang langsung memborbardir Alea dengan dua pertanyaan langsung.
"Eh iya sudah, bentar ya aku masukin dulu ke dalam wadah. Kamu duduk aja di kursi" Ucap Alea sembari mulai mengoperasikan tubuhnya lagi kesana kemari.
Revan yang tentu tak bisa membantu memilih mengikuti interuksi dari Alea, ia dengan sukarela duduk santai di kursi makannya.
Tak lama dari itu masakan yang Alea buat sudah terhidang di atas meja makan mereka. Revan yang sudah tak sabar langsung menyambar nasi goreng itu, tapi gagal karena tangannya di tahan oleh Alea.
"Kenapa?"
"Sinikan biar aku aja yang isi" ucap Alea sembari mengambil piring dan sendok nasi dari tangan Revan.
"Mau banyak atau sedikit?" tanya Alea sebelum memindahkan nasi goreng buatannya ke piring Revan.
"Banyak, aku lagi lapar soalnya"
Tak menjawab Alea langsung melakukan hal itu, piring yang tadinya kosong kini sudah penuh dengan nasi goreng beserta telur goreng dan juga lalapannya, seperti tomat selada dan juga mentimun yang menghiasi pinggir piring itu.
"Aku nggak suka mentimun"
"Maaf, aku nggak tau" lalu Alea mengambil kembal dua mentimun yang ada di piring Revan dan ia pindahkan ke piringnya yang maish kosong. Setelah itu barulah ia memberikannya pada Revan.
"Kamu nggak perlu ngelakuin ini, aku bisa sendiri" tutur Revan.
"Aku tau kita nikahnya terpaksa tapi setelah kamu mengumandangkan ijab kabul kemarin, di waktu itu juga aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi istri yang terbaik buat kamu dengan caraku. Tapi kalau kamu ada merasa risih dengan yang aku lakuin kamu bisa bilang kok nanti aku nggak lakuin itu lagi"
Revan terpaku, ia tak pernah terpikirkan untuk menjadi suami terbaik buat Alea. Jujur ia saja masih merasa aneh dengan kejadian sekarang dan hatinya juga tak secepat itu bisa melupakan Maurren gadis yang ia cintai sejak lama meski gadis itu bersikap egois dan mengecewakannya namun Revan masih mencintainya.
Alea menatap gerak gerik Revan gadis itu menyimpulkan jika Revan saat ini sedang berpikir keras "Kamu nggak perlu menjadi suami yang terbaik buat aku, cukup hargai aku ada dirumah ini aja aku sudah sangat bersyukur" tutur Alea lagi.
Revan tak menjawab ia memilih mengangguk kepalanya dan karena kecanggungan mereka ia melahap nasi Alea dengan terburu membuatnya tersedak.
Uhuk ... uhuk.. uhuk..
Alea dengan sigap mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih lalu memberikan gelas itu pada Revan yang masih terbatuk-batuk.
"Maaf gara-gar--
"Ini salah aku kenapa kamu yang minta ma-- uhuk..uhuk.. uhuk.. belum sempat ia menyelesaikan bicaranya tenggorokannya kembali gatal lagi.
***
Setelah sesi makan pagi bersama tadi kini keduanya sedang asik dengan kegiatan masing-masing Alea yang asik dengan ponselnya di ruang TV sedangkan Revan di ruang kerjanya menyelesaikan pekerjaannya yang banyak tertunda karena kemarin-kemarin sibuk menyiapkan pernikahan.
Drrtt.. drrt.. drrt..
Ponsel Alea berbunyi gadis itu lantas langsung menganggkatnya kala tau siapa yang menelponya.
"Halo Ri" ucap Alea setelah mengangkat teleponnya.
Seseorang di ujung telpon sana menjawab sapaan Alea dengan ramah, "Al kamu dimana? aku dari tadi nungguin kamu di depan kios"
"Maaf ak--
"Huaaaa... kamu nggak bisa kesini ya? aku lagi sedih tau .. Jahat banget si Al..." suara tangis diujung ponsel sana memekakkan telinga Alea, jujur ia sangat ingin ke kiosnya sekarang namun langkahnya berat karena kini Alea bukanlah gadis single yang bebas kesana kemari sebab saat ini ia sudah ada yang mempertanggung jawabnya dan tentu untuk menjadi istri yang taat kepada suaminya ia harus dapat izin dari Revan dulu untuk bisa pergi.
"Tunggu ya Ri aku minta izin dulu nanti kalau dapat aku langsung chat kamu" ucap Alea.
"Kok tumben? biasanya lo langsung keluar aja? nyokap bokap lagi ngamuk lagi ya sama lo? atau mulai ngekang kehidupan lo?" tanya Riri. Iya Riri tak tau soal Alea yang sudah menikah sebab gadis itu kemarin absen tak datang ke acara karena tak dapat izin dari perusahaanya namun kalau ia tau Alea yang menikah pasti ia akan mengusahakan sekuat tenaganya untuk datang bahkan di pecat pun ia rela demi hadir di acara Alea, namun sayang ia tak tau hal itu. Dan Alea pun tak sempat mengabari Riri karena semuanya terlalu cepat, ia berniat untuk memberitahu Riri saat mereka ketemu karena kalau lewat ponsel sangat tidak etis.
"Nggak Ri, bentar ya aku izin dulu"
"Hm yaudah. Kalau dapat hasilnya cepat beri tau gue ya biar gue nggak lumutan nungguin lo"
"Iya Ri, aku tutupnya" ucap Alea lalu menutup panggilan mereka. Setelahnya ia pun langsung berjalan ke arah ruang kerja Revan yang berada di saming kamar mereka.
Sebelum masuk tak lupa Alea mengetuk pintunya terlebuh dahulu, sampai sautan dari dalam ruangan membawanya masuk kedalam ruang kerja Revan.
"Ada apa?"
###