Setelah sepeninggalan Revan, Alea yang sudah sangat kelelahan memilih menyerah untuk berpikir tentang pakaian ganti. Tubuhnya yang sudah sangat tak bisa di ajak kompromi lagi kini sudah bersender pada sofa bersamaan dengan itu matanya ikut tertutup rapat.
Hampir saja ia terlelap, tiba-tiba ada sebuah benda menimpuk wajahnya. Karena kaget ia pun kembali membuka matanya memeriksa benda yang baru saja mengganggu tidurnya itu.
"Pakai itu saja! cuma itu yang aku punya" Ucap pria di depannya ya siapa lagi kalau bukan Revan. Alea lantas menunduk menatap ke arah benda yang baru saja di lempar oleh Revan padanya dan matanya seketika membulat tak percaya dengan benda yang di pegangnya kini.
Benda itu adalah lingerie- pakaian dinas malam untuk wanita yang sudah menikah. Pakaian bermotif macam di tambah bolong sana sini seolah kekurang bahan saat produksi. Jika ia memakainya diluar mungkin bisa dibilang sedang cosplay jadi macan betina habis dikuliti.
Dengan cepat ia menyembunyikan pakaian laknat itu ke belakang punggungnya karena merasa malu jika pakaian itu dilihat oleh Revan, meskipun pria itu yang memberikannya.
"Aku pakai gaun ini saja nggak papa" cicit Alea mencoba menolak dengan lembut takut Revan marah.
'lebih baik pakai gaun pajang ini dibanding Lingerie macan yang kekurangan bahan itu' ucap Alea dalam hati.
Tak apa Alea kesusahan memakainya dari pada sama sekali tak berpakaian.
"Banyak tingkah. Ikut aku!" Perintah Revan, lalu diikuti oleh Alea dibelakangnya. Mereka kini menuju sebuah kamar yang berada tak jauh dari tempat Alea duduk. Saat masuk ke dalam sana mata Alea terpaku pada interior kamar yang sangat nyaman, Alea menyukainya. Kamar ini adalah kamar impian Alea sejak dulu apalagi ditambah lilin aromaterapi yang memanjakkan saat masuk.
Di kamar itu juga dihiasi banyak bunga-bunga menandakan kamar pengantin baru. Dan pandangan Alea terhenti pada foto-foto yang di dalam bingkai itu ada Revan dan adiknya, Maurren. Bisa dilihat dari tiap foto-foto yang terpajang itu memancarkan aura bahagia dari keduanya seolah mereka adalah pasangan yang saling mencintai Tapi ntah kenapa Maurren malah kabur dari penikahan yang sudah sangat ia tunggu-tunggu. Bahkan keduanya juga sudah lama berpacaran. Benar, Takdir tak ada yang tau bukan? buktinya saat ini istri dari Revan tak lain adalah dirinya, perempuan yang seharusnya menjadi ipar malah menjadi istri seorang Revan.
"Mandi sana!" perintah Revan membuyarkan lamunan Alea.
Alea mendongak menatap Revan yang sedang berdiri di depannya lalu kembali menunduk sembari mematut dua jari tekunjuknya, sebuah kegiatan khas yang sering ia lakukan saat sedang gugup.
"Kenapa masih diam?"
"Aku nggak mandi aja nggak papa ya?" ucapnya kemudian.
"Nggak! aku nggak mau kamar aku yang harum jadi bau gara-gara kamu!"
"Yaudah aku tidur diluar aja"
"Mandi atau gue yang mandiin lo!" ancam Revan membuat bulu kuduk Alea itu merinding takut. Bagaimana tidak wajah pria itu kini tersirat keseriusan yang sangat-sangat.
"Revan please.." mohon Alea dengan wajah memelas berharap Revan mengasihinya.
"Ohh... lo nanta-- Belum selesai ia berucapa, Revan menyeret tubuh Alea paksa masuk kedalam kamar mandi, Alea berontak minta lepas namun pria yang sudah berstatus suaminya itu sama sekali tak mendengarnya. Di dalam kamar mandi Revan membawa Alea kebawah pancuran air, pria itu menahan tubuh Alea dengan satu tangannya dan satunya lagi menghidupkan pancuran air itu membuat keduanya menjadi basah bersama.
"Revan.. Revan basah, dingin" racau Alea berulang-ulang.
"Kalau aku bilang tu nurut!" bentak Revan.
"I-iya Maaf" ucap Alea pelan lalu di detik berikutnya ia pingsan.
Beberapa jam berikutnya.
Alea terbangun dengan kepalanya yang berat karena pusing, saat matanya pertama kali terbuka ia baru sadar kini ia sedang berada di dalam kamar dan diatas ranjang yang bisa dipastikan ini ranjang milik Revan. Alea memutar tubuhnya kesamping yang mana disana ada Revan yang juga sedang tertidur memunggunginya.
"Re-- Tiba-tiba Revan berbalik dan langsung mendekap Alea erat membuat gadis itu diam terpaku.
Sampai suara parau dari pria itu menyadarkannya.
"Aku mencintaimu Maurren" Ucapnya lalu mengecup puncak kepala Alea.
1 menit
2 menit
3 menit
Cukup. Alea tak tahan ia langsung melepas dekapan Revan dan pergi keluar kamar meninggalkan pria itu yang sepertinya sudah sadar dari tidurnya.
Disini Alea, di ruang tamu ditemani dengan pertempuran di dalam kepalanya.
"Kamu ngapain?" Tanya Revan yang baru saja keluar dari kamar, Alea yang mendengarnya pun segera memutar kepalanya mengarah dimana Revan berdiri sekarang.
"Nggak ada" Jawab Alea lalu kembali menatap kearah yang tadi ia lihat.
Revan tak kembali bertanya pria itu berjalan ke arah dapur mengambil air minum, karena tujuan pria itu bangun tadi karena kehausan setelah menuntaskan dahaganya ia pun berjalan kearah Alea dan duduk di sofa dekat gadis itu duduk.
"Maaf tadi aku kelepasan" tutur Revan.
"Hm" balas Alea
Revan memiringkan kepalanya, "Hm?"
"Makasih"
WOW! Pria itu tambah dibuat bingung oleh Alea, seharusnya gadis itu marah padanya kenapa malah bilang makasih. "Buat apa?"
"Makasih karena nggak biarin aku tidur di kamar mandi"
"Aku nggak sejahat itu" ucap Recan dengan kedua tangannya melipat di depan d**a.
"Kamu kenapa keluar? nggak nyaman tidur di kamar sama aku?" ucap Revan lagi.
Alea memalingkan wajahnya kesamping tempat dimana Revan duduk "Bukan gitu, cuma--
"Cuma kenapa?!"
"Biarin aku selesai bicara dulu"
"Nggak usah diselesain juga aku nggak masalah"
"Aku takut kamu yang nggak nyaman karena aku yang tidur disana bukan Maur--
"Nggak usah sebut nama dia bisa!" Ucap Revan dengan meninggikan suaranya.
"Maaf" cicit Alea.
"Sudahlah! ayo masuk kamar, besok aku harus bangun pagi ada rapat penting" pungkas Revan, karena takut Revan marah lagi Alea mengekori pria itu dari belakang sampai keduanya masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar besar itu hanya ada satu ranjang dan sebuah sofa di sampingnya.
"Aku tidur di sofa saja" tutur Alea.
"Emang kamu yang tidur disana!" balas Revan dengan angkuh setelahnya ia langsung membaringkan tubuhnya ranjang empuk miliknya.
Alea membuang nafas pelan lalu berjalan menuju sofa dan membaringkan tubuhnya disana.
Tak butuh waktu lama Alea kini sudah kembali terlelap namun tidak dengan pria yang tidur diranjang sampingnya, pria itu dari tadi terlihat gusar.
"Aiss!!" kesalnya lalu beranjak dari kasur berjalan menuju lemari mengambil selimut dan juga bantal disana setelah dapat ia berjalan kearah sofa dimana Alea tidur lalu meletakkan selimut itu diatas tubuh Alea asal.
"Jangan ke Geer an aku ngelakuin ini karena aku masih punya hati" gumam Revan lalu kembali ke ranjangnya.
###