Bab 34

1758 Words

Gerald berdiri di depan jendela sempit rumah tua itu, tirainya yang kusam tersibak sedikit oleh angin. Dari celah kecil itulah ia menatap jalan tanah yang sepi, telinganya waspada menangkap setiap suara yang mencurigakan. Berita bahwa Gevan sudah mengetahui tempat itu berputar-putar di kepalanya seperti racun yang terus menetes. Rahangnya mengeras, giginya bergesekan pelan saat ia berdecak kesal. “Anak tak tahu malu,” gumamnya penuh kebencian. “Berani-beraninya datang ke sini.” Kemarahan itu tidak lagi sekadar amarah seorang ayah pada anaknya. Ini kebencian yang bercampur rasa terancam, rasa kehilangan kendali. Gerald tidak pernah terbiasa berada di posisi terpojok. Selama ini, dialah yang mengatur, mengendalikan, menentukan nasib orang lain. Dan sekarang, semua itu terasa goyah. Ia ber

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD