Lusi duduk berhadapan dengan Yunita di teras samping rumah, sinar matahari pagi jatuh lembut di antara dedaunan. Kursi roda itu diposisikan menghadap taman kecil, tempat angin membawa aroma tanah basah dan bunga yang mulai mekar. Di tangan Lusi ada mangkuk kecil berisi bubur hangat. Ia menyendok perlahan, meniupnya sebentar, lalu mendekatkannya ke bibir Yunita dengan penuh kehati-hatian. “Pelan-pelan ya, Bu,” ucap Lusi lembut. Yunita membuka mulutnya sedikit. Sendok itu masuk, dan ia menelan dengan susah payah. Setelahnya, senyum tipis muncul di bibirnya. Senyum yang sederhana, namun cukup untuk membuat d**a Lusi menghangat. “Enak?” tanya Lusi, suaranya hampir berbisik. Yunita menggerakkan jarinya pelan, berusaha meraih tangan Lusi. Jari-jarinya masih kaku, gerakannya terbatas, namun L

