CHAPTER 10

1422 Words
Gara-gara tragedi Desta menertawai Nesya di taman tadi membuat Nesya benar-benar kesal dengan laki-laki yang baru saja menjadi pacarnya beberapa jam yang lalu. Nesya melangkahkan kakinya dengan setiap langkahnya menyiratkan kekesalan yang teramat dalam. Setelah Nesya pergi dari taman meninggalkan Desta sendirian tadi, gadis itu memutuskan untuk kembali ke kelasnya, hendak menemui Shinta. Nesya ingin protes habis-habisan kepada sahabatnya itu. Bisa-bisanya sahabatnya itu menghilang dalam sekejap mata ketika Nesya benar-benar sedang membutuhkan keberadaanya. Nesya tadi benar-benar terpojok. Bahkan untuk keluar dari dalam kelas saja gadis itu takut, benar-benar tak berani. Andai tidak dengan bermodalkan nekat, Nesya tak yakin gadis itu bisa berhasil meyakinkan hatinya untuk keluar dari kelasnya sendirian. Di sepanjang koridor, siswa-siswi SMA Gemilang banyak yang masih menatap Nesya dengan tatapan penasarannya. Memang berita ini masih baru dan fresh. Apalagi berita ini menyangkut soal si pentolan preman sekolah, Desta Lorenzaky. Jadi, tak heran jika banyak siswa-siswi SMA Gemilang yang nampak sangat penasaran dan tertarik dengan berita ini. Untuk Nesya sendiri, karena gadis itu terlampau kesal dengan Desta, gadis itu bahkan tak fokus saat berjalan di koridor sekolah yang ramai. Jadi, gadis itu tidak sadar sama sekali bahwa dia saat ini menjadi pusat perhatian di seluruh koridor yang dia lewati. "Shinta!!!" panggil Nesya menyeru begitu gadis itu mulai masuk melewati pintu kelasnya. Tak hanya Shinta, namun juga semua anak di kelas Nesya terkejut mendengar teriakan gadis itu. Tak mempedulikan yang lainnya, Nesya segera berjalan cepat menuju ke meja Shinta yang sudah terdapat sang pemilik meja di sana. Shinta terlihat sedang bersantai ria. "Ap-Awww," Shinta yang baru saja hendak menjawab panggilan Nesya tadi mendadak meringis kesakitan ketika tangan Nesya terulur untuk menarik telinga Shinta sedikit keras. "Aduh Sya, sakit Sya," keluh Shinta kesakitan sembari memegangi tangan Nesya yang masih bersarang manis di telinga gadis itu. "Hm? Sakit hm?" ujar Nesya dengan nada geram. "Kemana aja lo heh?! Gue cariin dari tadi kaga ada. Waktu gue butuh temen lo malah ngilang. Bagus kaya gitu hm?" lanjut Nesya mengomel pada Shinta. "Ampun Sya ampun. Sumpah Sya ini sakit beneran," bukannya menjawab pertanyaan Nesya, gadis itu malah meringis kesakitan. "Gue tanya lo tadi kemana aja Shinta cantikkk, kenapa gak di jawab?" Nesya kembali mengulang pertanyaannya dengan nada geram. Masih kesal dengan Shinta. "I-iya Sya maaf. Tadi gue sengaja ninggalin lo," ujar Shinta terbata takut-takut. Jelas saja Shinta takut, karena pasti kejujurannya ini malah semakin membuat Nesya marah kepada gadis itu. Mendengar jawaban jujur dari Shinta membuat rasa kesal dan marah di hati Nesya bertambah. Bukan hanya tentang tragedi dia ditertawakan Desta tadi, namun juga karena alasan Shinta yang meninggalkannya tadi dengan sengaja. Demi apapun, Nesya kesal dengan orang-orang yang ada di dekatnya hari ini. "Ta-tapi, itu juga ide dari Reni Sya," ujar Shinta lagi menjelaskan dengan jujur. "Reni sempet telpon gue, dia bilang, gue di suruh ninggalin lo sendiri, biar lo bisa keluar kelas sendirian. Terus di jalan, lo ketemu sama Desta. Gitu," jelasnya lagi. Ah! Nesya paham sekarang. Ternyata pertemuannya dengan Desta di koridor tadi sudah di rencanakan oleh Desta, Reni dan Shinta. Wah, Nesya jadi merasa terkhianati. "Oh jadi gituuu, lo sama Reni ngerancanain hal kaya gitu sama Desta terus di sembunyiin dari gue supaya bisa jebak gue? Gitu ya?" ujar Nesya masih dengan nada suara geram yang kali ini bercampur dengan kesal dan kecewa. Nesya langsung melepaskan tarikan tangannya di telinga Shinta setelah mendengar cerita Shinta. Jujur saja, Nesya benar-benar kecewa dengan Shinta dan Reni. Tega-teganya mereka merencanakan hal seperti ini untuk dirinya. Nesya benar-benar merasa terkhianati. Mungkin masalah ini sebenarnya cukup sepele. Hanya saja, semua ini menyangkut harga diri. Mereka tahu Nesya anak yang sangat pendiam dan pemalu. Namun mereka mengatur hal seperti pagi tadi untuk Nesya? Itu sungguh keterlaluan. "Jadi soal tadi pagi waktu gue nyatain perasaan semuanya udah kalian setting juga?" tanya Nesya mengintrogasi Shinta kemudian. Ya, sudah terlanjur basah, maka Shinta lebih memilih langsung nyemplung sekalian. "Iya, sebenernya soal pagi tadi itu settingan dari gue sama Reni yang buat. Soal permintaan Reni untuk lo nyatain perasaan ke Desta, itu juga gue sama Reni sendiri yang rencain," ujar Shinta lagi. "Tapi, Desta gak tau soal pagi tadi itu. Dia cuma ikut ngerencanain pertemuan kalian yang ada di koridor tadi. Desta bilang ke Reni, dia pengen deket sama lo, jadi Desta nyuruh Reni buat minta gue ninggalin lo sendiri dulu pas jam istirahat. Niatnya ya supaya Desta bisa ketemu berdua sama lo di koridor," jelasnya lagi. Nesya benar-benar speechless mendengar penjelasan Shinta. Benar-benar tak terduga. Nesya menjadi semakin kecewa mendengar penjelasan dari Shinta. "Lo tau gak Shin? Mati-matian gue nahan rasa malu buat nyatain perasaan gue ke Desta di koridor sekolah pagi tadi. Di depan seluruh anak-anak sini. Mati-matian juga gue berusaha buat nutup telinga ketika banyak suara disekitar gue yang bergeming terus menggumamkan kata-kata celaan dan makian yang di tujukan buat gue. Mati-matian juga gue berusaha nahan laper sama haus gue tadi jam istirahat berharap lo cepet balik dan gue bisa beli ke kantin bareng lo," ujar Nesya mengeluarkan seluruh unek-uneknya kepada Shinta. "Lo tau gue anaknya kaya gimana Shin. Gue gak suka jadi pusat perhatian kaya sekarang-sekarang ini. Gue gak suka ketika banyak orang yang ngomongin soal gue kaya sekarang yang dilakuin sama anak-anak sini. Lo tau gue anaknya pendiem sama orang yang gak terlalu akrab. Lo tau gue anaknya pemalu ketika berada di keramaian. Dan dengan teganya lo ngatur sandiwara kaya gitu bareng Reni?" lanjut Nesya lagi panjang lebar. "Jujur aja gue beneran kecewa sama lo dan Reni Shin. Jujur aja gue kecewa sama lo berdua," tambah Nesya lagi. Shinya yang mendengar seluruh unek-unek Nesya menjadi merasa bersalah. Padahal, niatnya dengan Reni bukan seperti ini. Dia dan Reni tidak bermaksud membuat Nesya seperti ini. "Maaf Shin. Tapi niat gue sama Reni cuma pengen ngebuat lo ngelawan rasa takut lo," ujar Shinta pelan. Terdengar kekehan kecil dari Nesya. "Ha ha," kekehnya. "Ngelawan rasa takut ya? Hm," Nesya menaruh jari telunjuknya di atas dagunya. "Sebenernya niat lo sama Reni baik sih Shin. Tapi sayangnya cara kalian berdua salah langkah," ujar Nesya menambahi. "Kalian emang bener dan tujuan kalian emang berhasil karena nyatanya gue bener-bener ngelawan rasa takut gue. Hanya saja, kalian gak memikirkan gimana kondisi mental gue sekarang," ujarnya lagi. "Harusnya kalian mikir kalau semuanya itu butuh proses yang panjang. Butuh proses yang dilakukan secara perlahan dan bertahap," Nesya menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan kaya tadi pagi Shin. Itu semua terlalu mendadak. Mental gue juga kaget sama respon yang di berikan anak-anak sini," jelasnya. "Andai aja gak ada drama yang lo buat sama Reni. Mungkin gue akan dengan mudah nerima semua yang gue lakuin tadi pagi. Mungkin gue bisa rela dengan nurunin harga diri gue sendiri asal itu beneran untuk semangat kesembuhan Reni. Bukan cuma sandiwara," Nesya menatap Shinta dengan raut wajah kecewa yang tampak sangat jelas di mata Shinta. Tentu saja Shinta merasa sedih melihat itu, gadis itu juga merasakan rasa bersalah secara bersamaan. "Gue gak nyesel nyatain perasaan kaya tadi ke Desta. Hanya aja yang gue sesalin, kenapa lo sama Reni tega bohongin gue Shin?" Nesya tersenyum kecil. "Dan soal rencana bareng Desta tadi. Itu sama aja. Gue juga kecewa sama Desta. Kalian bertiga berhasil jebak gue di waktu dan hari yang bersamaan. Selamat ya," lanjutnya mengakhiri pembicaraan. Nesya maju selangkah untuk mengambil tasnya yang ada di bangku sebelah Shinta. Setelah mendapatkan tasnya, Nesya segera melangkah mundur tanpa menatap Shinta sama sekali. Sedangkan Shinta, gadis itu menatap Nesya sendu. Tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. "Sya," panggil Shinta pelan berusaha mencegah Nesya. Namun Nesya yak mengindahkan panggilan dari Shinta. "Septi. Tolong izinin gue ya. Gue mau pulang duluan, ada urusan penting yang mendesak," ujar Nesya menatap salah satu teman sekelasnya yang menjabat sebagai pengabsen. "Oh iya Sya. Siap!" ujar Septi menyanggupi. "Thanks," ujar Nesya lalu segera berlalu keluar dari kelasnya sembari membawa tas yang ada di punggungnya. Melihat Nesya keluar dari kelas, Shinta ingin menyusulnya, namun gadis itu mengurungkan niatnya begitu mengingat emosi Nesya yang masih kurang stabil. Gadis itu masih kalut dalam rasa kecewa yang timbul akibat kejadian tadi pagi. Maka dari itu, Shinta akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan kepada Reni tentang kekecewaan Nesya. Berharap, Reni akan mengabarkan mengenai itu kepada Desta. Berharap juga, Desta bisa mengatasi permasalahan ini dengan cepat dan mudah. Karena, Nesya itu tipe anak yang jarang sekali marah. Namun sekali marah, gadis itu benar-benar bisa tahan sampai beberapa minggu. Memang sangat sulit menaklukan Nesya ketika gadis itu sedang marah seperti ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD