CHAPTER 2

1639 Words
Nesya tampak tertunduk sembari berusaha fokus memakan nasi goreng yang ada di depannya. Wajahnya yang tadi sempat tenang kembali gelisah ketika gadis itu sampai di area kantin. Desta, cowok itu belum sadar dengan perubahan sikap Nesya. Lagi-lagi karena telinganya yang ia tutup rapat membuatnya mendadak menjadi tuli dengan keramaian sekitar. "Pacar lo dinyinyirin diem ae lo Des," ujar Abey ketika dia tak merasakan tanda-tanda Desta akan menghentikan nyinyiran yang ditujukan untuk Nesya. Desta yang mendengar suara Abey itu menoleh cepat, detik itu juga telinganya tiba-tiba terbuka dan akhirnya dia bisa mendengarkan keramaian kantin. Banyak kata-kata nyinyiran untuk Nesya dapat Desta dengar. Shit! Desta lupa kalau dia tadi hanya memperingatkan orang-orang yang ada di koridor menuju kantin. Bukan kantinnya. "SEKALI LAGI GUE DENGER LO SEMUA NYINYIRIN NESYA, GUE ROBEK MULUT LO DETIK INI JUGA!!" Desta menggebrak meja kantinnya keras sembari membentak. Lagi-lagi Nesya terperanjat kaget, gadis itu bahkan sampai menjatuhkan sepiring nasi gorengnya saking terkejutnya. Prang! Suara pecahan piring yang jatuh terdengar nyaring dipenjuru kantin karena suasana yang mendadak hening yang diakibatkan bentakan Desta tadi. Desta yang tadinya sedang berapi-api dan menatap tajam seluruh penghuni kantin itu menoleh kearah suara pecahan piring itu. Lebih tepatnya kearah Nesya. Wajah Desta mendadak terlihat khawatir melihat Nesya gemetaran ditempatnya. "Nes, kenapa?" Desta segera melangkah menghampiri Nesya yang duduk di depannya. Nesya menggeleng dengan mata yang terpejam erat dan masih juga dengan tubuh yang gemetaran. "Pinter banget pertanyaan lo Des," ujar Arya gregetan. "Nesya pasti takutlah lihat lo kaya gitu, dia kaget alias syok!" Ingin sekali Arya mengganti kata pintar menjadi bodoh, b**o ataupun g****k. Tapi, Arya masih cukup sayang sama mukanya. Bisa kena tonjok nanti kalo Arya berani mengatai Desta seperti itu. Desta tak menghiraukan perkataan Arya. Cowok itu segera jongkok dihadapan Nesya yang kini sudah membuka matanya. Namun, kepala gadis itu terus tertunduk kebawah. "Nesya...," panggil Desta pelan. "Gapapa Des, aku cuma males aja dengerinnya. Brisik banget ya?" Nesya tersenyum kecil. Sejujurnya, Nesya tak terlalu sakit hati mendengar perkataan mereka tentangnya. Hanya saja, Nesya memang tak suka dibicarakan. Dia tak suka menjadi pusat perhatian dan ditatap sedemikian rupa. Nesya juga tak suka mendengar suara berisik. Apalagi kebisingan itu sedang membicarakannya. "Bawa cabut Nesya Des. Kupingnya bisa ternodai ntar kalo dia lama-lama disini," ujar Bara memberi saran. "Lo tenang aja, urusan disini biar kita yang urus," lanjutnya yang langsung diangguki Abey, Arya dan Damar. Desta terlihat berpikir sebentar. Tak lama setelah itu dia mengangguk tanda setuju. "Oke, gue bawa Nesya dulu. Lo urus semuanya," ujar Desta berdiri kemudian meraih tangan Nssya untuk digenggamnya. "Ayo," lanjutnya menarik tangan Nesya pergi dari sana tanpa penolakan. "Ah iya, lo bayarin dulu ganti rugi piring yang Nesya pecahin. Ntar gue ganti duit lo," ujar Desta tanpa menoleh kearah teman-temannya. "Lo yang bayarin dulu gih Dam. Gue, Arya sama Abey mau urus hama-hama ini dulu," ujar Bara yang langsung disetujui Damar tanpa bantahan. "Tapi saran gue, habis lo urus mereka semua. Lo ke ruang penyiaran gih. Umumin tentang pacar baru Desta," saran Damar sembari melirik orang-orang yang masih tertunduk takut. "Eh lo cewek rambut merah. Diem disana! Jangan sok-sok an mau kabur lo!" teriak Damar menunjuk kesalah satu sudut kantin ketika dia mendapati gadis dengan rambut berwarna merah mentereng hendak kabur dari kantin. "Urus cepet, banyak yang mau kabur noh," lanjut Damar kemudian berlalu pergi menuju stand kantin untuk membayar ganti rugi. "Bener juga kata Damar," celetuk Arya setelah Damar pergi. "Kenapa nggak kita ke ruang penyiaran aja. Umumin pake speaker sekolah." "Ngotak anjir, lo mau di semprot sama guru-guru?" kesal Bara merasa apa yang dikatakan Damar dan Arya sungguh tidak masuk akal. "Halah Bar, lo kaya gak tau SMA Gemilang aja. Disini udah wilayah kekuasaannya Desta kali. Siapa sih yang berani lawan Desta? Bisa dibabat sama dia noh," ujar Arya dengan santainya. Memang benar sih, disini tidak ada yang berani menegur Desta. Sekalipun itu seorang guru. "Arya bener. Gue juga yakin kalo guru-guru gak akan marah semisal kita gunain speaker sekolah. Apalagi kalo mereka tau kita disuruh Desta" sahut Abey. "Desta lebih dari berhak buat lakuin apa yang dia mau disini. Siapa guru-guru itu pake segala gaya mau negur Desta?" "Tapi guru-guru itu gak tau kalo Desta yang nyuruh kita anjir. Bisa-bisa kita nanti yang kena hukuman," Bara memang badboy. Tapi cowok itu juga takut dengan hukuman. Apalagi kalau sampai ada surat BK yang mengharuskannya untuk memberikan itu kepada Mama atau Papanya. Bisa mampus Bara detik itu juga. "Ya kita nanti minta ke Desta buat bilangin ke gurunya oon," Arya jadi gregetan sendiri dengan tingkah Bara yang menurutnya terlalu over dalam ketakutan menerima hukuman. Lagipula Arya yakin, Desta tak akan membiarkan teman-temannya yang sedang menjalankan perintahnya itu terkena hukuman. Pasti Desta akan menolong mereka. "Mending lo kabarin Desta dulu deh Ar tentang rencana kita. Minta persetujuan dulu," saran Abey yang diangguki Arya. Disisi lain, sepasang muda-mudi tampak sedang duduk lesehan di rerumputan taman. Mereka tampak terlihat sangat bahagia sekarang. Tak pernah ada bayangan seperti ini pada otak Nesya. Bolos sekolah dan duduk berdua bersama sang ketua Preman Sekolahnya yang dulu sangat berusaha dia hindari. Sisi Desta yang katanya menyeramkan itu tak dapat Nesya lihat disini. Hanya Desta yang lembut dan penuh perhatian yang dapat Nesya lihat. Hari ini berulang kali Nesya dapat tersenyum hanya karena dia melihat senyum Desta. Senyum yang tak pernah sekalipun Nesya lihat. Terkadang Nesya bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Desta ini sangat tampan apabila dia tersenyum. Tapi kenapa Desta selalu menampilkan ekspresi datar menyeramkan ya? Atau mungkin karena ada sesuatu di masalalu Desta? Nesya yakin tentang itu. Biasanya, orang yang memiliki sifat seperti Desta diakibatkan oleh masalalu yang mungkin kurang baik. Nesya jadi semakin bertanya-tanya. Kejadian apa yang Desta lalui di masalalu sampai dia menjadi seperti ini? Dan siapa orang yang membuat Desta menjadi seperti ini? Pasti orang itu sangat berarti untuk Desta. Ya, Nesya yakin itu. Tapi, setelah Nesya berpikir seperti itu. Entah kenapa otak Nesya mendadak menjadi berpikir kalau jangan-jangan orang yang membuat Desta menjadi seperti ini adalah mantan cowok itu. Atau mungkin cinta pertama Desta. Sungguh, Nesya tak dapat membayangkan betapa beruntungnya orang itu kalau ternyata memang benar pemikiran Nesya. Nesya jadi iri dengan orang itu karena bisa mendapatkan cinta yang begitu tulus dan besar dari Desta. Bukannya apa, hanya saja Nesya juga ingin merasakan rasanya dicintai dengan begitu tulus dan juga besar. Bahkan hanya karena seorang di masalalu Desta yang menurut pemikiran Nesya itu pasti seseorang yang Desta cintai saja bisa membuat Desta berubah drastis seperti ini. Untuk yang tanya bagaimana Nesya bisa bilang Desta berubah drastis. Sebenarnya, Shinta dulu pernah bercerita random padanya dan Reni tentang Desta, katanya Desta itu dulu sangat ramah, hangat dan baik. Tapi entah karena apa semuanya berubah. Shinta tak memberi tau pasti tentang penyebab Desta berubah karena kalau kata Shinta, dia benar-benar tak mengetahui tentang alasan itu. Entah Shinta bohong atau tidak, Nesya tidak tahu. "Mmm Nes," panggil Desta pelan. "Ya?" Nesya membalas seadanya. Jujur saja, Nesya memang masih sedikit kagok berbicara dengan Desta. Salahkan saja Reni yang memaksanya untuk menyatakan perasaan kepada Desta. Laki-laki yang sangat Nesya takuti sekaligus hindari di SMA Gemilang. "Jangan kaku Nesya, kita sekarang udah pacaran loh," ujar Desta tak terima. Nesya seperti sedang berbicara dengan orang lain saja. Padahal ini Desta kan pacarnya. "Maaf Des," hanya kata itu yang Nesya katakan sembari menunduk. Nesya benar-benar masih takut dengan Desta. Laki-laki kejam yang biasa membully siapapun yang menurutnya mengganggu dirinya. Nesya takut akan jadi salah satu korban bullyan Desta dan teman-temannya. Walaupun saat ini Nesya sudah menjadi pacar Desta yang entah pacar resmi atau tidak itu. "Jangan keseringan nunduk juga. Gak pantes rasanya kalau seorang putri nunduk kaya gitu. Kamu harus mendongak Nesya, dunia atas jauh lebih bagus daripada dunia bawah," ujar Desta. "Nesya, kamu itu cantik. Jadi kamu gak perlu nunduk kaya gitu," tambahnya. Nesya terdiam. Entah apa makna dari perkataan Desta, Nesya tak paham. Desta terlalu tiba-tiba. Cowok itu sejauh ini terlihat sangat meyakinkan di depan Nesya. Jauh berbeda dari Desta yang biasa Nesya lihat dari kejauhan dulu. "Terkadang menunduk itu perlu Desta. Banyak hal yang harus diperhatikan di bawah. Jangan pernah meremehkan sesuatu hal yang ada dibawah kita ya Des? Batu kerikil aja yang kecil bisa membuat kita jatuh. Bener kan?" ujar Nesya mulai berani speak up. Desta tertegun sejenak. Bukan hanya karena perkataan Nesya, namun juga karena gadis itu mulai mau berbicara banyak dengannya. Nesya juga mulai mau menegurnya apabila dia salah. Itu berarti Nesya mulai peduli dengannya kan? Bukankah menegur seseorang yang berbuat salah adalah satu contoh bentuk sebuah kepedulian? Hening beberapa saat karena Desta yang masih terpaku. Cowok itu tak kunjung sadar. Nesya yang merasa tak mendapatkan respon apapun dari Desta mendadak menjadi was-was. Nesya khawatir perkataannya tadi menyinggung Desta atau bahkan membuat amarah Desta meledak. "Desta...," panggil Nesya sedikit ragu sembari tangan gadis itu terulur menyentuh bahu Desta pelan. Desta yang merasakan ada tangan yang menyentuh bahunya itu perlahan kesadarannya mulai kembali. "Ha? Iya? Kenapa?" latah Desta terkejut. "Maaf ya kalau omongan aku tadi menyinggung kamu. Aku gak maksud begitu Desta. Jangan dipikirin ya omongan aku tadi, anggap aja aku gak pernah ngomong gitu. Anggap aja kamu gak denger ya?" Nesya berujar dengan sedikit panik. "Ha?" beo Desta bingung. Cowok itu belum paham dengan perkataan Nesya. "Aku beneran gak niat menyinggung kamu Des. Aku bilang kaya gitu tadi karena aku peduli sama kamu. Serius deh, aku gak bohong," lanjut Nesya menjelaskan sembari tangannya terangkat membentuk lambang peace. Desta masih terdiam sejenak untuk berpikir. Mencerna seluruh perkataan dan penjelasan Nesya. Setelah beberapa saat. Desta akhirnya paham dengan perkataan Nesya yang ternyata mengandung kekhawatiran Desta akan salah paham itu. Desta tertawa nyaring setelah paham. Apalagi dengan melihat wajah Nesya yang sangat kentara rasa khawatir dan takut itu. Keringat di wajah gadis itu bahkan bercucuran banyak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD