Lain halnya dengan Desta yang terlihat tertawa, Nesya yang tadi sedang panik sekarang malah terlihat bingung. Bingung kenapa Desta tiba-tiba tertawa.
"Desta..., kenapa?" tanya Nesya dengan suara pelan. Namun Desta masih bisa mendengarkannya.
Sebisa mungkin Desta mulai meredakan tawanya. Cowok itu menatap Nesya dalam kemudian, sembari tangan cowok itu terangkat memegang kedua sisi bahu Nesya. "Sya, denger aku," ujar Desta mulai serius. "Kamu itu gak perlu panik kaya tadi Sya. Aku malah seneng kamu berani speak up sama aku. Aku juga seneng kamu negur aku kaya tadi kalau aku emang salah. Aku seneng kamu peduli sama aku. Jadi, gak ada hal buat kamu panik kaya tadi. Aku gak akan marah Sya," lanjutnya panjang lebar.
"Sya, tetep tegur aku kalau aku salah ya? Kamu gak perlu khawatir aku bakalan marah kalau kamu tegur. Karena aku gak akan kaya gitu Sya. Beneran deh, aku malah bakalan seneng kalau kamu mau negur aku," tambah Desta dengan nada yakin.
Nesya tertegun sejenak. Entah kenapa hatinya menghangat mendengar perkataan Desta itu. Apalagi cowok itu mengatakannya sembari menatap dalam matanya.
Perlahan Nesya mengangguk menyetujui. "Iya, aku akan tetep tegur kamu kalau kamu salah Des," ujarnya.
Desta menyunggingkan senyumnya senang. "Nes," panggilnya kemudian. "Aku boleh minta satu hal lagi sama kamu?" tanya Desta meminta persetujuan.
Nesya kembali mengangguk tanpa pikir panjang.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Nesya. Desta mulai berbicara. "Nes, boleh gak kalau aku minta kamu buat terima hubungan baru kita? Aku tau kok kalau kamu nyatain kaya tadi itu cuma gara-gara permintaan sahabat kamu. Tapi aku beneran suka kamu Nes," Desta kembali berujar serius. "Nes, kasih kesempatan aku buat bikin kamu jatuh cinta sama aku ya?" lanjutnya. Setelah mengatakan itu, Desta menjadi ketar-ketir di tempat. Sungguh, menunggu jawaban dari Nesya sangat menegangkan untuk Desta. Lebih menegangkan dari apapun.
Desta hanya takut Nesya menolaknya. Walaupun sebenarnya Desta bisa saja kembali memaksa Nesya untuk menerimanya seperti beberapa saat lalu, tapi kalau dipikir-pikir lagi, rasanya kurang nyaman jika salah satu pihak menjalaninya dengan terpaksa. Desta takut Nesya merasa tak nyaman dengannya. Maka dari itu, Desta memutuskan untuk meminta persetujuan Nesya dengan baik-baik.
Walaupun takut di tolak, namun Desta sudah berjanji akan menerima apapun keputusan Nesya. Dia tidak akan memaksa. Jikalau memang benar Desta di tolak, Desta akan berusaha untuk mencari cara lain agar bisa dekat dan mendapatkan hati Nesya.
Beberapa menit hening. Beberapa menit itu Nesya habiskan untuk memikirkan jawaban yang akan dia berikan kepada Desta. Dan beberapa menit itu pula Desta habiskan untuk menatap Nesya sembari berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi setelah ini. Kemungkinan jawaban Nesya dan langkah apa yang akan dia ambil jika Nesya menolaknya.
"Des," panggil Nesya pelan. Entah karena ragu atau karena malu.
"Ya?" balas Desta dengan detakan jantungnya yang semakin cepat. Cowok itu mendadak di selimuti rasa takut yang semakin besar. Seumur-umur, baru kali ini Desta merasa takut.
"Aku...," Nesya masih menggantung perkataannya. Gadis itu masih ragu. Tanpa Desta sadari, jantung Nesya sebenarnya juga sedang berdetak kencang. Tak kalah kencangnya dengan detakan jantung Desta.
"Kenapa Nesya?" tanya Desta sabar. Sebenarnya, sedari Nesya terlihat ragu-ragu untuk menjawab permintaannya, Desta sudah bisa merasakan rasa sakit yang teramat dalam. Semua itu di karenakan pemikiran negatifnya tentang jawaban Nesya. Padahal gadis itu bahkan belum mengatakan apapun.
Namun dipikiran Desta, bukankah keraguan Nesya itu sudah berarti gadis itu ragu untuk dengannya?
"Gak usah dijawab kalo gak bisa Nes. Aku tau kamu berat buat jawabnya," Desta kembali bersuara karena merasa Nesya tak kunjung membuka suara untuk menjawab pertanyaannya tadi. Berat. Desta sebenarnya merasa sangat keberatan untuk merelakan jawaban Nesya. Membiarkan Nesya bungkam tak bersuara. Walaupun sebenarnya, Desta masih butuh jawaban dari Nesya.
Namun, Desta sudah berjanji kepada dirinya sendiri kalau dia tidak akan memaksa Nesya. Memaksa untuk apapun itu.
"Bukan gitu Des," Nesya akhirnya bersuara setelah sekian lama terdiam. Setelah sekian lama Desta menunggunya untuk berbicara.
Ada sedikit kelegaan di hati Desta saat Nesya mengucapkan itu. Entahlah karena apa. Padahal, Nesya hanya mengatakan kata-kata ambigu yang belum tentu bermaksud akan menerima Desta.
Tapi, setidaknya dengan mendengar perkataan Nesya bisa membuat Desta merasakan ada setitik cahaya harapan kecil. Harapan yang Desta harap bisa membawanya dengan Nesya untuk selamanya.
Desta masih diam menatap Nesya. Menunggu gadis itu kembali bersuara untuk menjelaskan lebih rinci perihal perkataannya.
"Aku gak tau mau bilang apa," jujur Nesya. Desta masih diam. "Tapi, untuk saat ini aku cuma bisa bilang kalau aku mau untuk menerima hubungan baru kita. Aku mau nerima kamu untuk selalu ada di sisi aku" lanjutnya sembari menunduk malu.
Senyum Desta merekah lebar. Bahagia rasanya mendengar kalimat menyejukkan itu keluar dari gadis pujaannya. Natasya Angelica.
Desta refleks langsung maju untuk memeluk Nesya erat. Nesya yang memang sedang menunduk dan tak melihat kearah Desta itu sedikit tersentak ketika merasakan pelukan tiba-tiba dari seseorang.
Seseorang yang sialnya Nesya sendiri tak bisa untuk menolak pelukannya.
"Makasih udah kasih aku kesempatan Nes. Aku janji, aku akan gunain kesempatan yang kamu kasih dengan sebaik mungkin. Aku akan berusaha buat kamu bahagia Nes. Aku akan selalu lindungi kamu. Aku janji," ujar Desta yang masih berada di pelukan Nesya. Cowok itu kini bahkan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Nesya.
Tangan Nesya mulai terangkat membalas pelukan Desta. Meski kaku, namun Desta merasa semakin senang mendapatkan balasan dari Nesya.
Tangan gadis itu kini bahkan mengelus punggung tegap Desta dengan lembut.
"Aku percaya Desta," balas Nesya pelan. Gadis itu ikut menyunggingkan senyumnya tipis. Cinta masa SMA nya akan dimulai.
Semuanya, akan berawal dari sini.
***
Setelah selesai mengurus murid-murid yang bermasalah dengan Desta di kantin tadi, Arya, Abey, Bara dan Damar mulai menjalankan rencana mereka untuk mengumumkan perihal hubungan Desta dan Nesya di ruang penyiaran. Mungkin akan terdengar sedikit aneh di telinga orang lain dan akan menimbulkan pertanyaan seperti, kenapa harus diumunkan? Tapi itu merupakan hal wajar untuk SMA Gemilang.
Karena itu berhubungan dengan Desta dan apapun yang berhubungan dengan Desta merupakan berita yang perlu murid-murid SMA Gemilang tahu.
Bukan apa-apa, hanya saja mereka semua harus tahu itu bertujuan agar tak ada hal yang tidak diingkan terjadi. Seperti kejadian di kantin tadi, mungkin mereka memang tahu kalau Nesya adalah pacar Desta. Namun tak semua dari mereka tahu, kalau Desta benar-benar mencintai Nesya. Mereka banyak yang menganggap Desta hanya merasa kasihan atau bahkan ada juga yang mengira Desta hanya akan menjadikan Nesya babu.
Andai saja mereka tahu perasaan Desta yang sebenarnya untuk Nesya, Desta mungkin memang tidak menyatakan perasaannya kepada Nesya karena bahkan gadis itu sendiri yang lebih dulu menyatakan perasaannya kepada Desta, tapi bukan berarti dengan begitu Desta tidak memiliki perasaan kepada Nesya, Desta memiliki perasaan kepada gadis itu, bahkan mungkin jauh lebih besar perasaan yang dia miliki daripada Nesya.
Mereka terlalu cepat menyimpulkan padahal mereka tidak tahu apa-apa. Back to topic.
Sebelum Arya, Abey, Bara dan Damar pergi ke ruang penyiaran, mereka menyusun strategi terlebih dahulu. Strategi untuk mengambil kunci ruang penyiaran dari tukang kebun sekolah yang galaknya sudah menyaingi guru bk.
"Ini gimana woi, Mang Maman mah sulit banget di tipu," ujar Arya bergerak gelisah.
"Waktu terus berjalan, jangan buat Desta nunggu," celetuk Abey singkat dengan wajah lempengnya.
"Tau Bey tau, lo mah bantu mikir dong, jangan cuma bilang 'waktu terus berjalan' lo kira lo itu jam alarm?" sungut Bara kesal.
"Lo pikir gue dari tadi ngapain b**o?" ujar Abey santai, namun tajam. Abey mengatakan itu masih dengan wajah lempengnya.
"Bacot. Gak usah diladeni Bey," sahut Damar menyahuti. Memang disini, Abey dan Damar dikenal sebagai sepaket. Karena dimana ada Damar, disitu ada Abey. Karena juga, dimana Damar berkata 'A' Abey juga akan mengatakan hal yang sama.
Intinya, mereka itu seperti memiliki jiwa dan pemikiran yang sama. Mereka juga memiliki tampang wajah yang lempeng, juga memiliki kehidupan yang datar-datar saja.
Kehidupan mereka seperti kembar beda orang tua.
Lain halnya dengan Bara dan Damar. Bara dan Arya pun biasa dikenal dengan sepaket. Dengan alasan yang sama seperti Abey dan Damar. Dimana ada Bara, disitu ada Arya. Mereka selalu kompak dalam berbagai hal tentang 'lelucon'. Mereka memiliki selera yang sama tentang itu.
Hanya saja, tak jarang mereka bertengkar kecil karena hal sepele. Mereka selalu adu mulut dan jarang akur untuk itu. Mereka hanya akan bersatu ketika sudah dalam waktunya untuk 'main-main'. Main-main yang dimaksud adalah membully.
Mereka terlalu julid untuk itu.
"Wehh kenapa mikirnya lama amat sih? Kenapa kita gak tipu Mang Maman pake embel-embel Bu Sari? Yakin nih gue, tuh Mamang-mamang pasti bakal langsung gercep begitu denger nama Bu Sari," ide brillian muncul dari otak cerdik nan licik milik Arya. Arya menaik turunkan alisnya kemudian. "Gimana? My brillian idea right?" ujarnya sombong sembari menepuk dadanya dua kali.
"GAK BISA BASA ENGGRESSS" ujar Bara menyahuti dengan tak santai. Kentara sekali dari wajahnya, Bara seperti sedang menahan kesal. Kesal karena merasa kalah saing dengan Arya yang berhasil menemukan ide yang yaaaa Bara akui cukup cemerlang. Ingat ya, ini hanya cukup.
Fyi, Bu Sari adalah seorang guru yang diidam-idamkan oleh sosok Mang Maman. Bapak-bapak berkepala 4 yang berprofesi sebagai tukang kebun itu sering sekali tertangkap basah oleh Desta, Arya, Abey, Bara dan Damar sedang mencuri pandang ke arah Bu Sari.
Tak jarang pula, Mang Maman selalu tertangkap basah ketika mengikuti Bu Sari diam-diam. Mang Maman itu seperti pengagum rahasia seorang Bu Sari.
"Bener! Pake ide dari Arya aja. Menurut gue, itu lebih dari lumayan cemerlang," Damar memberikan pendapat. Abey mengangguk dua kali tanda bahwa cowok itu setuju dengan apa yang Damar katakan.
Semua mata beralih menatap Bara. Bara yang tadinya menatap kearah lain dengan raut wajah kesalnya itu menoleh menatap satu persatu teman-temannya karena merasa di perhatikan. Tatapan mereka seperti mengintimidasi Bara sekarang.
"Apa?!" tanya Bara ketus.
"Oke setuju," putus Arya, Abey dan Damar langsung.
Apa-apaan ini? Bara bahkan belum mengatakan apapun untuk pendapat Arya. Bara hanya bertanya 'Apa' dan langsung di simpulkan begitu saja? Huh, Bara merasa sepertinya teman-temannya mulai tidak waras.
Disaat seperti ini, Bara berharap Desta ada. Setidaknya, meskipun Bara tak akan di bela Desta, namun Arya, Abey dan Damar akan diam karena Desta tak suka keributan. Apalagi meributkan hal-hal yang tidak penting.
"Sinting," cibir Bara pada ketiga temannya yang malah terlihat acuh padanya. Mereka sibuk sendiri menyusun strategi. Siapa yang akan menghadapi Mang Maman, siapa yang akan langsung berjaga di ruang penyiaran atau siapa orang yang memastikan keadaan sekitar aman.
Bara tak diajak untuk membahas itu!
Mmm, sepertinya setelah ini Bara tak akan mengomentari Abey seperti tadi. Bahaya juga ternyata, dia seperti tidak dianggap sekarang.