CHAPTER 4

1769 Words
"Lo sama Bara yang samperin Mang Maman, yang bilang kalo dia dicariin Bu Sari di perpus. Biar gue sama Damar ke ruang penyiaran, lihat situasinya udah aman atau belum," ujar Abey panjang lebar. Arya tersenyum kemudian mengangkat jempolnya setuju. "Urusan jahil kaya gini mah emang santapan gue sama Bara banget Bey. Lo paling ngerti emang," ujar Arya terkekeh senang. Akhirnya, dia akan kembali menjahili seseorang. Apalagi kali ini si bapak tukang kebun galak. Arya sudah lama sekali dendam dengan orang itu. Gara-gara dia, Arya pernah kepergok nyaris lompat pagar untuk bolos. Saat itu dia kepergok bersama teman sepaketnya. Bara. "Ayo Bar. Waktunya kita membalaskan dendam kesumat kita ke Mang Maman," ujar Arya lagi menggebu-gebu. Bara yang awalnya kesal dan cemberut mendadak tersenyum cerah mendengar perkataan Arya. Benar. Bara akan balas Dendam. Sekarang memang waktu yang tepat untuk balas dendam ke bapak tukang kebun galak menyebalkan itu. Mang Maman, Bara dan Arya dengan segumpal dendamnya akan segera datang!! "Ayo gas sekarang!" seru Bara tiba-tiba dengan semangat membara. Arya, Abey dan Damar bahkan sampai terlonjak kaget mendengarnya. "b*****t Bara, gak usah ngegas juga anjir!" Arya memberengut kesal sedangkan Abey dan Damar hanya diam, menetralkan ekspresinya yang sempat terlihat terkejut. Bara cengengesan tak jelas. "Hehehe ya maap, kan gue refleks tadi. Terlalu semangat buat balas dendam ke Mamang-mamang itu. Jadi ya gitu deh, lepas kontrol," ujarnya tanpa melunturkan cengengesan tak jelasnya. Cowok itu berkata sembari menggaruk belakang telinganya yang dapat di yakini sedang tidak gatal itu. "Gak usah banyak bacot. Cepet sono lo berdua jalanin misi. Gue sama Abey tunggu di depan ruang penyiaran," ujar Damar akhirnya. Malas juga lama-lama mendengarkan omong kosong yang Damar yakini jika tidak segera dia hentikan akan terus berlanjut panjang itu. Arya dan Bara mengangguk setuju. "Oke, kita duluan ya. Lo berdua jangan lupa cek situasi. Jangan cuma duduk nunggu doang," ujar Arya disertai pesan di akhirnya. Abey dan Damar menatap Arya malas. Mereka tahu itu. Arya tak perlu memberitahunya dua kali. Buang-buang waktu. Namun tak urung keduanya juga mengangguk menyanggupi. Setelahnya, Arya dan Bara berlalu pergi untuk mencari Mang Maman. Entah dimana bapak tukang kebun itu. Yang jelas, Arya dan Bara rela jika harus mengelilingi sekolah hanya untuk mencari Mang Maman. Demi membalaskan dendamnya, dan juga demi Desta. Atau lebih tepatnya traktiran dari Desta jika mereka berhasil menjalankan tugas dengan baik dan benar. Ah, Arya dan Bara seperti sekali mendayung dua pulau terlampaui. "Kita mau cari dari mana dulu nih Bar?" tanya Arya pada Bara yang saat ini berjalan di sampingnya. "Mana gue tau elah," balas Bara tanpa menoleh kearah Arya. "Eh tapi kan ya, bukannya si Mang Maman selalu nguntit Bu Sari kemana-mana ya. Jadi kemungkinan besar dia sekarang lagi di deket-deketnya Bu Sari. Iya gak?" ujarnya lagi setelah berpikir singkat. Logikanya, jika Mang Maman biasanya selalu mengikuti Bu Sari, berarti saat ini juga sama. Pasti bapak tukang kebun galak itu juga mengikuti Bu Sari. "Bener!" seru Arya setuju. "Berarti sekarang kita cuma perlu cari dimana Bu Sari," lanjutnya. "Bentar lagi istirahat kelar. Kita berarti tinggal nyari jadwalnya Bu Sari setelah istirahat pertama selesai itu dia ngajar di kelas mana," tambah Arya lagi. Bara mengangguk setuju. "Lo ada bawa jadwal gak?" tanya Bara kemudian pada Arya. Arya menoleh kearah Bara. "Rajin amat gue bawa jadwal tiap hari," ujarnya. "Cewek-cewek biasanya yang rajin bawa jadwal. Coba ntar tanya ke cewek kelas," idenya kemudian. "Yaudah sekarang aja. Kenapa harus nunggu ntar," ujar Bara ikut menoleh kearah Arya. "g****k. Kalo kita sekarang ke kelas, yang ada ntar kita gak bisa bolos anjir. Gue tebak sekarang kelas kita udah pasti ada gurunya," ujar Arya yang diam-diam disetujui Bara. Bara mengangguk. "Terus gimana sekarang? Kita gak ada yang bawa jadwal," bingung Bara. "Chat aja coba. Lo ada banyak kan nomor cewek-cewek anak sekolah sini," kata Arya. Arya dan Bara saat ini masih terus melangkah, berjalan tak tentu arah. "Gue cuma ada nomor bad girl. Mereka mana inget jadwal. Bawa buku aja palingan ogah-ogahan. Tasnya kecil, isinya make up doang lagi," cibir Bara panjang lebar. Semua yang bara ucapkan adalah kelakuan mantan pacarnya dan teman-teman mantan pacarnya itu. "Masih dendam lo sama Fariska?" Arya mengatakan itu sembari menyeringai kecil kearah Bara. Bara yang mendengarnya pun dibuat semakin kesal di tempatnya. Arya tahu Bara benci dengan Fariska, Bara kesal dengan mantan pacarnya itu. Namun selalu saja Arya seperti itu, mengejeknya, menyindirnya dan hal-hal yang sangat Bara benci lainnya justru malah dilakukan Arya padanya. Jika seperti ini, memang hanya Desta yang bisa menghentikannya. Bahkan Damar dan Abey pun tak pernah bisa berhasil menghentikan ejekan yang Arya tujukan pada Bara. Ah, bukannya tidak bisa, hanya saja mereka acuh. Mereka seakan menikmati Arya ketika mengejek Bara. Bara benci akan fakta itu. Melihat raut wajah masam dari Bara mampu membuat Arya tergelak seketika. "Hei, kalo lo masih sayang sama Fariska, kenapa lo putusin dia sih?" tanya Arya. Sudah dari lama dia penasaran dengan alasan kenapa mereka putus. Padahal setahu Arya, Bara sangat menyayangi Fariska. "Dia selingkuh b*****t!" umpat Bara kesal. Mengingat Fariska membuatnya ingat juga tentang pengkhianatan yang gadis itu lakukan padanya. Sial sekali Bara. Dia sudah menyayangi Fariska dengan sepenuh hati, malah di balas dengan hal menjijikkan seperti itu. Arya terkejut di buatnya. Dia tak pernah tahu nasib sahabatnya semenyedihkan itu. Arya sungguh tak tahu kalau selama ini Bara di selingkuhi oleh Fariska. Selama ini, Bara selalu menutup-nutupi alasan kenapa dia putus dengan Fariska. Jadi selama ini, Bara berusaha menutup aib Fariska. Arya salut. Bara begitu gentle. Dia bahkan masih melindungi harga diri seseorang yang sudah mengkhianatinya. Namun sepertinya kesabaran Bara untuk menutupi semuanya sudah habis. Dia lelah di ejek terus menerus. Bara yakin, setelah ini Arya tak akan pernah lagi mau mengungkit Fariska. Arya sudah pasti ikut merasa iba dengan nasibnya. "Sorry Bar. Gue gak tahu kalo selama ini, Fariska selingkuhi lo," Arya menyesal. Tentu saja. Selama ini hanya dia yang tak pernah bosan untuk mengejek Bara. Dia juga tak pernah absen untuk menertawai cowok itu tentang Fariska. Bukan kejam atau bagaimana, Arya terus mengejek seperti itu karena melihat rasa cinta Bara untuk Fariska masih sangat besar. "Santai aja," balas Bara tenang. "Terus ini gimana jadinya? Jadwal tanya sama siapa?" lanjut Bara bertanya. Arya terdiam sejenak. "Nesya!" pekik Arya tak lama setelah itu. Dia baru ingat, bosnya sekarang sudah memiliki pacar. Dan pacar dari bosnya itu adalah seorang good girl. "Pasti dia bawa jadwal!" lanjutnya kemudian. Bara mengangguk setuju. Benar. Nesya pasti membawa jadwal. Dia anak baik-baik dan rajin. Kehidupannya pasti terstruktur. "Coba telpon Desta deh," saran Arya kemudian yang langsung di laksanakan oleh Bara. Terdengar suara deringan dari ponsek Bara. Lama tak ada jawaban, hingga akhirnya deringan itu mati secara otomatis. Panggilan kedua langsung Bara betikan, namun tak kunjung terjawab juga. "Dua kali gak di angkat," lapor Bara pada Arya. "Sekali lagi coba. Desta pasti denger. Dia bawa ponsel kok," ujar Arya mengingat Desta tadi sempat bermain dengan ponselnya. "Dia sengaja gak angkat kayanya. Lagi berdua sama pacar. Gak mau ada yang ganggu," lanjutnya. Arya sudah cukup berpengalaman memiliki teman bucin seperti itu. Lagi-lagi dulu, ketika Bara dan Fariska masih berpacaran. Cowok itu selalu saja tak punya waktu untuk sekedar nongkrong dengan Desta, Arya, Abey dan Damar. Bahkan untuk sekedar mengangkat telepon pun Bara tak pernah lakukan. Ah sebenarnya pernah. Hanya daja itu sangat langka. "Kaya kelakuan lo dulu Bar. Bucin dasar," lagi, Arya mencibir. Bara menggerutu pelan. Lagi-lagi namanya dibawa. Masa lalunya dengan Fariska kembali di bahas. Meskipun, Arya tak lagi menyebut nama mantannya itu, tapi tetap saja kan? Akhirnya, Bara kembali mendiall-up nomor Desta. Dan benar saja, kali ini langsung di angkat oleh cowok itu. Tentu saja dengan diawali suar ngegasnya. "Apaan b*****t. Ganggu lo," semprot Desta ketika sambungan telepon mereka baru beberapa detik terhubung. Bara yang sudah menduganya itu hanya mengelus dadanya sabar. "Sabar kali bos. Gue cuma mau tanya, cewek lo ada bawa jadwal gak?" tanyanya. Di sebrang, Desta mengernyit tak suka sekaligus bingung. "Ngapain lo nanya jadwal ke cewek gue," ujarnya. Dari nada suaranya, terdengar sarat akan ketidaksukaan. "Ini penting bos. Buat ngejalanin perintah lo. Gue butuh jadwal. Ayo dong kerjasamanya," Bara memohon. Terlalu lelah jika harus mendengarkan Desta marah-marah karena cemburu tidak jelas kepadanya. Terdengar suara helaan napas dari Desta. "Lo mau tanya jadwal kelas berapa?" tanya Desta dengan nada malas. "Gak tahu sih," cicit Bara pelan. Di sebrang, emosi Desta yang sempat turun kembali naik. "Lo yang jelas dong monyet!" sentaknya. Kali ini Bara kaget. Cowok itu mengusap telinganya yang terasa panas gara-gara sentakan lantang Desta. "Tanya aja ke cewek lo, Bu Sari selesai jam istirahat pertama ngajar di kelas mana," ujar Bara setelah pulih dari keterkejutannya. Bara dapat mendengar suara bisikan pelan di sebrang. Sepertinya itu suara Desta yang sedang bertanya pada Nesya. "Di kelas cewek gue. 11 MIPA 2," ujar Desta dengan suara yang sudah lebih tenang dari tadi. "Oke thanks bos," Bara buru-buru mematikan sambungan teleponnya sebelum Desta kembali berkata. Bisa terkenal mental breakdance Bara kalau lama-lama mendapatkan amukan dari Desta. Padahal kan, ini semua Bara lakukan juga untuk cowok itu. Bisa-bisanya Bara malah kena marah. Sial memang. "Gimana?" tanya Arya langsung begitu melihat Bara menurunkan ponselnya setelah mematikan sambungan telepon. "Kelasnya Nesya. 11 MIPA 2," jawab Bara seraya memasukkan ponselnya kedalam saku seragam sekolahnya. "Ck. Gila. Jauh bener lagi itu kelas dari sini," ujar Arya berdecak malas. "Bisa patah kaki gue. Capek abang neng," keluhnya. Jarak dari tempat yang sekarang Arya dan Bara pijak dengan kelas Nesya, 11 MIPA 2 memang lumayan jauh. Ibaratnya, pojok ke pojok. Apalagi, Luas SMA Gemilang tidak main-main. "Halah, udah gak apa-apa," ujar Bara setelah mendengar keluhan dari Arya. "Ini taruhannya antara lo sudi jalan agak jauh dikit, atau lo malah mau milih di amuk sama Desta?" Bara mengatakan itu dengan raut wajah serius. "Ih, kalo gue mah ogah di amuk sama Desta. Bisa kena hantam muka ganteng gue. Ntar besok sekolah lebam-lebam. Lo mau?" tanyanya kemudian menakut-nakuti Arya. Sebenarnya tak hanya berniat menakut-nakuti, karena Desta apabila sudah marah memang akan melakukan hal itu. Tak terkecuali kepada sahabat-sahabatnya. "Iye-iye, ke 11 MIPA 2 aja. Gue mana kuat kena hantam Desta," Arya bergidik ngeri membayangkan amukan Desta. Sangat menakutkan. Bisa-bisa, Arya akan mengalami trauma jika dia benar-benar mendapatkan amukan dari bos preman sekolah itu. "Pilihan yang bagus," puji Bara sembari bertepuk tangan seakan mengapresiasi. "Yaudah skuy cabut. Gak usah buang-buang waktu," titahnya kemudian berjalan mendahului Arya yang langsung disusul oleh cowok itu. Mereka kembali berjalan beriringan. Kali ini lawan arah dari yang tadi. Sia-sia mereka jalan jauh. Taunya, mereka akan berbalik arah lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD