"By the way, gimana sama adek kelas Ar? Lo berhasil deketin kaga?" tanya Bara mengisi keheningan di antara mereka.
For your information, Arya saat ini memang sedang pendekatan dengan seorang adik kelas. Arya memilihnya secara random. Dia ingin mencoba hal baru katanya. Dia belum pernah mendekati adik kelas sebelumnya.
Arya tersenyum lebar mendengar pertanyaan Bara. "Bener-bener sasaran empuk adek kelas Bar," ujarnya antusias. "Lo gombalin dikit aja udah langsung leleh. Baperan anaknya. Masih polos. Gak tahu aja kalo lagi di php-in," Arya tergelak setelahnya. Kejam. Arya ini, kelak akan segera mendapatkan karma.
"Wih beneran?" Bara mulai semakin tertarik dengan topik ini. Sembari berjalan menuju 11 MIPA 2, mereka akhirnya memutuskan untuk mengobrol. "Sabi kali Ar, bagi nomor adek kelas," pintanya kemudian.
Arya terkekeh kecil. "Gampang lah itu," Arya membalas dengan santai. "Mau yang kaya gimana lo? Gue ada banyak nomor adek kelas. Belum banyak yang gue chat. Baru sekitar 11 anak doang," lanjutnya yang ditanggapi dengan gelengan Bara.
"Parah lo Ar. 11 lo bilang dikit. Waras lo?" cibirnya. Namun tak urung, Bara ikut terkekeh pelan. "Gue mah kaga perlu yang neko-neko. Yang penting polos aja. Biar gampang di bodohi," Arya semakin tergelak mendengarkan perkataan Bara.
"Lo banyak mau kalo itu," cibir Arya. "Tapi santai aja kalo sama gue mah. Gue banyak stok yang kaya gitu. Ntar gue kirim nomornya ke w******p lo," ujarnya diakhiri dengan senyuman miring.
"Awas ya lo Ar, jangan sampe ngecewain. Kalo ngecewain, gue reture ke lo lagi. Gak mau gue," canda Bara kemudian. Arya menanggapinya dengan mengacungkan jempolnya.
"Sip lah. Gue bisa kasih ke anak lain ntar. Masih banyak yang mau," tambah Arya lagi. Masih dengan santainya.
"Lo lama-lama parah juga ya Ar. Udah jadi pebisnis jual nomor adek kelas lo?" tanya Bara.
"Heh, gue dapet nomornya juga sulit lagi. Lagian juga, gue niatnya mah baik. Gue mau cariin jodoh buat adek kelas gue tercinta. Gue sekarang bukan cuma lagi buka bisnis jual nomor adek kelas. Gue tapi juga jadi biro jodoh sekarang," jelas Arya panjang lebar. "Lagipula nih ya, gue bagiin nomornya gratis. Gue mah niatnya amal. Ada yang jomblo, minat sama adek kelas buat pdkt, atau ada yang lagi cari nomor crush tapi gak ketemu-ketemu, mereka bisa datang ke gue. Gue bisa bagiin nomornya gratis, tanpa di pungut biaya apapun," lanjutnya yang mendapatkan balasan gelengan dari Bara.
"Arya... Arya...," ujar Bara. "Saking frustasinya lo jomblo, sampe segininya. Iba gue Ar," Bara tergelak.
Kali ini Arya mendengus dengan raut wajah yang sudah berubah menjadi masam. "Niat gue bagus, mau ngebantu orang pdkt, malah di ketawain," kesalnya. "Gue jomblo itu karena gue pemilih. Bukan karena gue gak laku ya. Banyak yang ngantri di gue, tapi gue tolak. Emangnya lo, udah di selingkuhi, masih aja gagal move on," cibirnya menyindir Bara.
"Iya kalo ceweknya itu cantik natural alami kaya ceweknya si Bos Desta. Siapa sih namanya? Nesya?" tambah Arya lagi. "Ah iya. Natasya Angelica," lanjutnya ketika mengingat nama lengkap gadis yang baru saja menjadi pacar Desta belum sampai sehari 24 jam ini.
"Lah ini mantan lo si Fariska bro. Si cabe-cabean sekilo. Mukanya aja gue yakin, bedaknya ada kali 1 cm," lanjut Arya lagi. Cowok itu tak henti-hentinya mencibir Bara. Lalu, dimana perkataan Arya beberapa menit tadi yang mengatakan dia tak akan mengungkit Fariska lagi. Bullshit Arya.
"Iya-iya b*****t. Gue kalah debat," Bara akhirnya mengalah. Dia jengah dengan apa yang di katakan Arya. Memang benar, semua yang di katakan Arya benar. Jika gadis itu Nesya, sangat wajar kalau Bara gagal move on. Lah ini? Fariska. Si Bad girl yang gak punya tata krama. Memang seharusnya Bara move on dari gadis itu.
"Nah gitu dong," Arya berkata puas. Jujur saja, dia merasa tak enak mengejek Bara lagi seperti tadi. Tapi semua itu Arya lakukan agar Bara sadar, Fariska tak pantas untuk mendapatkan cinta tulus dari Bara. Banyak gadis lain yang pantas untuk itu. Gadis baik yang seperti Nesya. Hanya seperti, bukan Nesya yang asli.
Karena Nesya asli, hanya untuk Desta dan milik Desta.
"Udah ah. Gak usah galau. Lo bisa move on kok kalo udah waktunya. Jangan terlalu dipaksa. Ntar kalo semakin dipaksa, pasti justru malah semakin keinget," Arya menepuk bahu Bara dua kali tanda peduli.
Bara tersenyum kecil. Dia tahu Arya mengkhawatirkannya. Mereka berteman sudah cukup lama. "Thanks Ar," ujarnya tulus.
"It's okay. Kaya sama siapa aja lo," balas Arya ikut tersenyum kecil. "Udah yok. Kita cepet ke kelas Nesya. Kita perlu bantuin sahabat b*****t kita yang sukanya marah-marah doang."
Bara terkekeh pelan. "Gitu-gitu dia bos kita, sahabat kita juga kali," ujarnya.
"Tau kok gue."
Setelahnya, hanya keheningan yang menyelimuti perjalanan mereka. Sampai disaat mereka berada di area sekitar kelas 11 MIPA 2, Bara baru kembali mengeluarkan suaranya.
"Mang Maman lagi nyapu depan kelas 11 MIPA 2 noh," tunjuk Bara saat mendapati Mang Maman yang terlihat sedang menyapu di teras kelas 11 MIPA 2 sembari mencuri pandang kedalam kelas tersebut. Ah, sebenarnya mencuri pandang ke arah Bu Sari.
Padahal, teras 11 MIPA 2 sudah terlihat sangat bersih. Namun, tangan Mang Maman tetap saja bergerak untuk menyapunya. Namun, mata pria paruh baya itu tertuju ke dalam kelas.
"Bisa juga modusnya si Mamang," sahut Arya menanggapi. Cowok itu menggelengkan kepalanya heran dengan kelakuan tukang kebun sekolahnya. Ada-ada saja pria paruh bayar itu.
"Yaudah ayok, samperin langsung," Bara baru saja melangkah satu langkah, namun getaran ponsel di saku celananya membuatnya mengurungkan langkah.
"Kenapa?" tanya Arya bingung melihat Bara yang mendadak berhenti.
"Bentar," ujar Bara pada Arya seraya tangan cowok itu merogoh saku seragamnya untuk mengambil ponsel miliknya. Saat sudah berhasil mendapatkan ponselnya, Bara mengecek siapa yang menelponnya. Nama 'Bos Desta Galak' terpampang di layar ponsel cowok itu.
"Siapa Bar?" tanya Arya penasaran.
Sembari mengangkat panggilan telepon Desta, Bara menjawab pertanyaan Arya tanpa suara. "Bos Desta," ujarnya hanya lewat gerakan mulut. Arya hanya mengangguk paham sembari membuka mulutnya membentuk 'O' tanda bahwa cowok itu paham.
"Iya bos, kenapa?" tanya Bara to the point.
"Lo udah sampe di kelas 11 MIPA 2 belum?" tanya Desta dari sebrang.
Bara melirik Arya sekilas, cowok itu sedang berdiri tegak menunggunya. "Udah nih," balasnya kemudian kembali menatap kelas 11 MIPA 2. "Kenapa emang?"
"Tolong sekalian lo izinin Nesya ke Bu Sari. Bilangin, Nesya lagi ada urusan sama Desta," ujar Desta dengan nada memerintah.
By the way, tumben sekali Desta menggunakan kata 'tolong' biasanya cowok itu akan langsung mengatakan keinginannya tanpa ada embel-embel kata 'tolong'
"Siap laksanakan bos!" seru Bara lantang.
"Oke thanks," Desta langsung mematikan sambungan telepon itu setelah selesai mengucapkan terima kasih.
Lagi-lagi, Desta mengucapkan kata yang selama ini tak pernah Bara dengar dari mulut Desta. Pengaruh Nesya memang tidak main-main. Belum ada 24 jam, tapi Nesya sudah banyak merubah sikap Desta menjadi lebih baik.
Bara menurunkan ponselnya dari telinganya lalu segera memasukkannya ke dalam saku seragam sekolahnya.
"Ayo cepet Ar. Bos Desta ada minta tolong buat izinin Nesya sekalian soalnya. Ini sih bener-bener timing yang pas buat ngibulin Mang Maman," seru Bara mendadak semangat.
Arya menatap aneh Bara. "Lo kenapa sih Bar. Habis angkat telpon Bos Desta mendadak langsung semangat gitu," tanyanya heran.
"Bos Desta tadi bilang 'tolong' dan 'thanks' ke gue anjir," heboh Bara menggoyangkan bahu Arya keras. "Gue gak mau tahu. Kita harus berhasil kerjain perintah atau permintaan tolong Bos Desta kali ini. Gak boleh gagal!" ujarnya serius.
Arya melongo tak percaya. Bukan lebay, tapi mendengar Desta mengatakan 'tolong' dan 'terima kasih' memang merupakan hal langka. Jadi, boleh kan Arya bereaksi berlebihan?
"Demi lo Bar? Ah anjir. Gue mau denger Desta bilang gitu woi!" Arya mendadak ikit heboh.
Bara tersenyum misterius. "Selama ada Nesya, gue jamin Desta akan sering ngomong kaya gitu. Lihat aja deh," ujarnya tersenyum miring. Arya mengangguk samar.
"Udah yok. Keburu lama Abey sama Damar nunggunya. Bisa ngamuk mereka," ujar Bara lalu segera bergerak mendekati kelas 11 MIPA 2, diikuti oleh Arya di belakangnya.
"Selamat pagi menjelang siang Mang Maman yang budiman," sapa Bara dengan gaya tengilnya saat sudah berdiri di depan teras 11 MIPA 2, membuat Mang Maman yang tadinya sibuk mencuri pandang ke arah Bu Sari tersentak kaget.
"Astagfirullah," latah Mang Maman istighfar sembari mengelus dadanya. "Kamu ini ya, selalu aja bikin masalah. Untung jantung saya kuat, gimana kalau lemah? Kamu mau buat saya mati di sini?" cerocosnya begitu melihat pelakunya yang tak lain dan tak bukan adalah Bara. Salah satu siswa yang suka membuat onar.
"Si Mamang mah lebay," cibir Arya menyahuti. "Bara kan niatnya cuma mau nyapa Mang. Di Mamang nya aja yang gak fokus, makanya kaget," lanjutnya yang mendapatkan balasan pelototan tajam dari Mang Maman.
"Santai wae atuh Mang, gak usah melotot gitu. Serem. Jelek," cela Bara tanpa rem. "Bu Sari kalo lihat Mang Maman kaya gini nih, ntar jadi ilfeel loh," lanjutnya menakut-nakuti Mang Maman.
Berhasil. Karena setelah mendengar perkataan Bara, Mang Maman menjadi kelabakan sendiri dan mengubah ekspresinya menjadi sok cool.
"Nah, kalo gitu kan cakep tuh," puji Bara setengah hati.
"Maafkan Bara Ya Allah, Bara baru aja bohong," batinnya merasa bersalah.
"Udah-udah. Mau apa kalian kesini?" Mang Maman bertanya dengan mata memicing menatap Bara dan Arya bergantian. Tatapan yang di berikan sama. Tajam dan mengintimidasi serta curiga.
"Yee si Mamang mah kepo," balas Arya. Mang Maman kembali melotot mendengar itu.
"Eh eh eh," Bara mengangkat telunjuknya memperingati. "No no no," lanjut cowok itu seraya menggerakkan telunjuknya ke kiri dan kanan.
Seakan paham maksud Bara, Mang Maman kembali merubah ekspresinya Takut Bu Sari melihat wajah annoyingnya.
"Kita mau ketemu Bu Sari Mang, ada urusan dikit," ujar Bara kemudian.
"Urusan apa?!" tanya Mang Maman tak santai.
"Santai aja atuh Mang, gak akan kita ambil kok Bu Sarinya," balas Bara tenang. Cowok itu tahu Mang Maman sedang merasakan cemburu. Lucu sekali melihat pria paruh baya posesif ini.
"Terus?"
"Kita cuma mau izinin Nesya," singkat Bara menjawab. "Udah ah, keburu lama. Saya udah di tunggu sama temen saya. Saya masuk dulu ya Mang Maman" lanjutnya lalu berlalu masuk ke dalam kelas 11 MIPA 2 dengan Arya yang ikut menyusul di belakangnya. Sebelum masuk, Bara menyempatkan diri untuk mengetuk dua kali terlebih dahulu pintu kelas itu.
Brandal-brandal gini, Bara kalau ada mood, dia masih bisa menggunakan tata kramanya.