CHAPTER 6

1621 Words
Suara ketukan dari Bara mengalihkan atensi seluruh penghuni kelas 11 MIPA 2, termasuk Bu Sari sekalipun. "Permisi Bu Sari, minta waktunya bentar dong," sapa Bara juga dengan gaya tengilnya pada Bu Sari yang hanya mampu menggelengkan kepalanya menghadapi kelakuan muridnya tak tidak ada akhlak ini. "Kenapa Bara?" tanya Bu Sari to the point. "Bu Sari mah buru-buru, santai dulu atuh Bu," ujar Bara bercanda. Arya yang saat ini mulai kesal dan sudah merasa lelah itupun langsung menepuk bahu Bara lumayan keras. "Cepetan Bara! Kita udah lebih dari sejam. Abey sama Damar bisa ngomel-ngomel," bisik Arya kesal. Bara yang sebenarnya masih ingin bermain-main itupun hanya mampu menghela napas pasrah. Benar, mereka harus cepat. Banyak hal yang harus mereka lakukan setelah ini. "Mmm, ini pembicaraan privat Bu. Bu Sari bisa gak kalo kita ngobrolnya sambil duduk di balik meja guru aja? Kita rapat dadakan di sana?" Bara bukan hanya berniat bercanda, karena apa yang dia ucapkan memang sedikit rahasia. Bu Sari menghela napas lelah menghadapi murid absurd-nya ini. Tanpa banyak bicara, Bu Sari segera mempersilahkan Bara dan Arya untuk duduk lesehan di balik meja guru. "Sebentar ya anak-anak. Ibu mau menyelesaikan urusan sama dua bocah tengil ini," pesan Bu Sari sebelum ikut duduk lesehan bersama Bara dan Arya. Sial. Arya padahal masih waras sedari tadi. Tapi dia tetap saja di bawa-bawa. Nasib mempunyai teman gila ya gitu. Yang salah temannya, yang di salahkan semuanya. "Kenapa?" tanya Bu Sari lagi, to the point. "Ini soal Desta sama Nesya Bu," ujar Bara mulai berbicara. "Ibu tahu kan kalau Desta sama Nesya sekarang pacaran?" tanya Bara kemudian. Bu Sari mengangguk. "Tahu. Terus?" "Nah, karena mereka pacaran, banyak anak yang nyindir-nyindir Nesya, bilang kalau Nesya itu gak tau malu lah, di manfaatin Desta lah, sok cantik lah. Intinya banyak banget yang ngatain Nesya gitu Bu," lapor Bara. Bu Sari mengangguk. Wanita paruh baya itu sudah menduga itu semua akan terjadi pada Nesya. Jadi, dia tidak begitu heran ataupun terkejut. "Bu Sari mau bantu Nesya supaya gak di katain gitu lagi kan?" kali ini Arya yang berbicara. "Bu Sari tahu kan, Nesya itu anak baik-baik Bu, kasihan kalo di gituin terus, Nesya pasti gak sanggup biat ngelawannya," ujarnya diakhiri dengan nada sedih. "Saya mau bantu Nesya. Tapi saya bisa bantu apa? Lapor ke kepala sekolah? Kenapa enggak Desta langsung aja? Dia lebih mudah kalau mau lapor kaya gitu," ujar Bu Sari panjang lebar menyahuti perkataan dam pertanyaan Bara dan Arya. Bara dan Arya kompak menggeleng. "Enggak Bu. Gak perlu lapor ke kepala sekolah. Ibu cuma perlu ke Mang Maman, tolong mintain kunci ruang penyiaran. Nanti setelahnya, biar saya sama teman-temab saya yang urus," ujar Bara menjelaskan. Mendengar kata ruang penyiaran sudah membuat Bu Sari paham dengan apa yang akan dilakukan Bara dan teman-temannya. "Kenapa harus saya sih yang minta?" Bu Sari protes. Jujur saja, Bu Sari memang sudah tahu tentang Mang Maman yang menyukainya, namun justru Bu Sari merasa risih dengan itu. Alhasil, Bu Sari selalu berusaha untuk menghindari interaksi dengan Mang Maman. "Bu, ayolaaa," Bara dan Arya merengek memohon. "Ini demi Nesya lo Bu. Denger-denger, dia murid kesayangan Ibu," lanjut Arya. Bu Sari terdiam sejenak berpikir. Tak lama setelah itu, akhirnya Bu Sari mengangguk pasrah. Menyetujui. "Ya udah. Saya mintain ke Mang Maman. Tapi janji ke saya, jangan buat banyak masalah karena ini. Dan juga, cepat selesaikan masalah Nesya," ujar Bu Sari serius. "Iya Bu, janji," ujar Bara dan Arya kompak mengangkat tangannya membentuk peace. "Bentar. Sebelum saya mintain kuncinya. Saya mau tanya, sekarang Nesya kemana?" tanya Bu Sari. Hampir saja Bara dan Arya lupa untuk mengizinkan Nesya. "Ah iya, saya lupa," Bara menepuk jidatnya pelan. "Tadi saya di telpon Desta, dia bilang ke saya, dia minta tolong buat ngizinin Nesya ke Bu Sari, kata Desta, Nesya masih ada urusan sama dia. Gitu Bu," jelas Bara sesuai dengan apa yang Desta katakan padanya tadi. Bu Sari mengangguk paham. Saat ini, Nesya memang perlu berada di samping Desta agar tak banyak siswa-siswi bermulut pedas yang mencibir gadis itu. "Nesya tapi sekarang aman kan sama Desta?" tanya Bu Sari memastikan. Guru paruh baya itu khawatir dengan keadaan Nesya. Gadis itu terlalu pendiam. Bu Sari bisa pastikan, gadis itu tak pernah terkena masalah ataupun terkena nyinyiran. "Tenang Bu, kalo Nesya sama Desta mah gak perlu di khawatirin. Di jamin aman terkendali," Arya menyahut menjawab dengan semangat yang membara. Membanggakan Desta, sahabatnya itu. Di depan Bu Sari. Bu Sari memutar bola matanya jengah mendengar jawaban Arya. Namun tak bisa dipungkiri, Bu Sari juga menyetujui perkataan Arya di dalam hati. Desta memang bisa diandalkan untuk menjaga Nesya. Tak perlu di ragukan lagi. "Ya udah, kalian keluar dulu. Bentar lagi Bu Sari nyusul. Kalo udah dapet kuncinya, cepat di selesaikan. Jangan lama-lama," pesan Bu Sari pada Bara dan Arya. Kedua cowok itu langsung mengangguk setuju setelahnya. "Cepetan ya Bu. Kita udah di tungguin Abey sama Damar di ruang penyiaran soalnya. Udah kelamaan," ujar Arya sebelum cowok itu bangkit berdiri di susul dengan Bara. "Terima kasih Bu sebelumnya," Bara menunduk sopan. Kali ini cowok itu terlihat lebih berakhlak dari biasanya. Entah kerasukan apa dia sampai tiba-tiba menjadi patuh seperti itu. Tidak ada yang tahu. "Iya," Bu Sari mengangguk. Bara dan Arya segera keluar setelah itu. Mereka memilih menunggu Bu Sari di depan kelas 11 MIPA 2. Saat mereka baru berjalan keluar kelas, mereka sudah di sambut dengan lirikan sinis dari Mang Maman. Pria paruh baya itu terlihat seperti marah dan kesal. Mungkin cemburu dengan mereka yang bisa dengan santai mengobrol dengan Bu Sari. Bahkan mereka mengobrol dengan Bu Sari dalam kurun waktu yang cukup lama. "Biasa aja kali Mang lihatnya. Gak usah pake sinis gitu. Dikira keren apa," cibir Arya tengil. "Cemburu bilang bos," lanjutnya yang langsung membuat Bara tergelak. "Iri tanda tak mampu Mang," timpal Bara. "Masa udah 50 tahun hidup di dunia gak tau cara menaklukan cewek sih Mang. Saya aja yang belum kepala dua udah bisa bikin ratusan cewek disini klepek-klepek," bangganya kemudian. "Ikan kali ah klepek-klepek," sahut Arya. Mereka berdua tergelak bersama kemudian. "Dahlah, kita mlipir aja Ar. Biar yang tua yang beraksi," ujar Bara mengandung makna yang kompleks. Mereka kemudian sedikit melipir ke samping, berdiri di sana dengan jarak yang tentu saja masih dekat dengan Mang Maman. Mereka tentu tak mau melewatkan tontonan yang sebentar lagi akan tersiarkan secara langsung di depan mata mereka. Mereka ingin menonton bagaimana reaksi berlebihan Mang Maman ketika berinteraksi dengan Bu Sari. Ah, sebenarnya saat ini mereka baru merasa kalau mereka malah membantu Mang Maman untuk berinteraksi dengan Bu Sari yang memang biasanya selalu menghindar dari pria paruh baya itu. Karena perubahan rencana mendadak mereka, yang seharusnya mereka mengibuli Mang Maman, sekarang malah Mang Maman yang mendapatkan keuntungan karena mereka meminta Bu Sari untuk menemui pria paruh baya itu. Halah, tidak apa lah. Sekali-sekali membantu musuh sendiri. Musuh? Bukannya Mang Maman memang menatap Arya dan Bara layaknya musuh biasanya? Berarti tidak salah dong kalau Arya dan Bara juga menganggap Mang Maman sebagai musuh mereka? Mmm, kurasa tidak. "Ar-Ar, kira-kira gimana ya reaksi Mang Maman," bisik Bara sembari matanya terus menatap pria paruh baya yang tadi sempat menatap sinis kearah mereka. "Palingan juga tremor. Geter tuh pasti badannya," sahur Arya ikut berbisik menjawab pertanyaan Bara. "Di pikir-pikir, kita baik juga ya Ar. Ngebantu musuh pdkt. Kapan lagi coba Bu Sari mau ngobrol sama Mang Maman. Kalo bukan karena kita, kayanya gak pernah mau deh Bu Sari," ujar Bara. Arya terlihat mengangguk setuju setelahnya. "Kita diajari untuk membalas kejahatan dengan kebaikan Bar. Gak heran kalo kita jadi baik kaya gini. Kita itu sebenarnya preman berjiwa malaikat. Mata anak-anak sini aja yang pada buta. Orang kita baik kaya gini dikira berandal. Apalagi Mang Maman tuh. Kita udah bantuin dia, eh malah dia ngelirik kita sinis banget. Emang gak tau terima kasih," ujar Arya panjang lebar. Cowok itu bertingkah seolah bijak. Seolah anak baik-baik. Padahal, ah kalian tau lah dia seperti apa. "Heem," Bara mengangguk juga. Dia setuju dengan apa yang dikatakan Arya. "Kita sering dipandang sebelah mata Ar. Kita selalu dilihat dari sisi jeleknya doang. Padahal mah, sisi baiknya kita juga lumayan kok. Gak dikit-dikit amat. Bisa kali di lirik," ujarnya. "Manusia emang gitu sih ya Bar. Suka lihat jeleknya doang. Bagusnya di lupain," Arya mencebikkan bibirnya setelahnya. Tak lama setelah Arya berbicara, Bu Sari terlihat keluar dari dalam kelas 11 MIPA 2. Bara yang tadinya ingin membalas perkataan Arya menjadi mengurungkan niat. Fokus mereka langsung teralih pada Bu Sari dan Mang Maman. "Eh Bu-bu Sa-Sari," sapa Mang Maman terbata-bata. Mata pria paruh baya itu berbinar menatap Bu Sari yang berdiri dengan senyum canggung di depan pria paruh baya itu. Pria paruh baya itu terlihat tersenyum malu-malu. Dia juga terlihat salah tingkah. Hal itu dapat tertangkap dengan jelas di mata Bu Sari, Arya dan Bara. Bu Sari menjadi semakin canggung di buatnya. Sedangkan Arya dan Bara, mereka menahan tertawa melihat ekspresi wajah Mang Maman yang terlihat sangat kocak. Komuknya benar-benar tak terkendalikan. "b*****t Ar. Kocak anjir. Lihat noh komuknya, udah kaya orang mau ngompol," bisik Bara pada Arya. Cowok itu menutup mulutnya dengan telapak tangannya sendiri, berusaha menahan tawanya agar tak terdengar. Agar tak mengganggu dua insan paruh baya yang ada di depan mereka. "Fiks. Mang Maman nahan mau pingsan itu sih," balas Arya melihat Mang Maman sudab bergetar di tempatnya. "Heem," Bara mengangguk setuju. "Mang Maman nahan pingsan karena saking bahagianya. Bu Sari nahan lari karena saking gedegnya. Fiks no debat ini," lanjutnya. Cowok itu terlihat menyeka ujung matanya yang berair gara-gara menahan tawa. Tak ada lagi obrolan di antara Arya dan Bara setelahnya. Mereka sibuk memperhatikan Bu Sari dan Mang Maman yang ada di depan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD