CHAPTER 7

1533 Words
"Mmm, saya mau pinjam kunci penyiaran boleh Mang? Saya ada kepentingan disana," ujar Bu Sari to the point menyampaikan tujuannya. Wanita paruh baya itu benar-benar terlihat tak mau berlama-lama mengobrol dengan Mang Maman. "O-Oh, bo-boleh kok Bu, boleh. Apa sih yang enggak buat Bu Sari yang cantik ini," Mang Maman mengatakan itu sembari tersipu malu. Aneh. Harusnya Bu Sari yang tersipu malu. Kenapa jadi Mang Maman? "He he," Bu Sari terkekeh canggung, sekaligus garing sembari menggaruk belakang lehernya yang tertutup kain jilbab yang bisa diyakini bahwa itu saat ini tidak sedang gatal. "Tu-tunggu sebentar ya Bu. Saya ambilkan dulu kuncinya," izin Mang Maman yang tak butuh waktu lama, langsung di angguki Bu Sari dengan cepat. Dalam hati, Bu Sari berharap semuanya agar cepat berlalu. Wanita paruh baya itu benat-benar sudah tidak kuat berada di posisi seperti ini. Dia risih. Mang Maman menatapnya seperti penuh minat. Dan justru, di tatap seperti itu membuat Bu Sari mereka terintimidasi. Bu Sari tak suka di tatap seperti itu. Terlalu menggelikan. Mang Maman merogoh saku celana selututnya. Mencari sesuatu yang ternyata kumpulan kunci. Mang Maman memilah satu-persatu saat mencarinya. Dengan tangan gemetar Mang Maman melakukannya dengan waktu yang cukup lama. Atau bahkan sangat lama untuk sekedar mencari kunci. "Sengaja tuh Mamang-mamang di lambatin nyati kuncinya. Mau modus sama Bu Sari, supaya bisa lama-lama deket sama Bu Sari. Emang bisa banget modusnya," bisik Arya. Bara tak menyahuti. Cowok otu masih fokus menatap kedepan. 5 menit berlalu, Mang Maman belum juga selesai untuk mencari kunci. Hal itu membuat Arya gregetan di tempatnya. Sudah satu jam berlalu sejak cowok itu dengan Bara berpencar dari Abey dan Damar. Bisa dipastikan, Abey dan Damar akan sangat marah kepada Bara dan Arya karena mereka terlalu lama. Sialan Mang Maman ini. "Cepetan dikit bisa gak Mang?! Banyak yang nunggu ini," teriak Arya tak terlalu keras. Mungkin hanya orang yang ada di sekitaran teras kelas 11 MIPA 2 dan murid yang ada di kelas 11 MIPA 2 saja yang mendengarnya. Mang Maman tersentak kaget. Meskipun teriakan Arya tak terlalu keras. Namun karena Arya berteriak terlalu mendadak, Mang Maman menjadi terkejut. Pria paruh baya itu bahkan menjatuhkan kunci yang tadi di genggamannya. Bara bergerak cepat, cowok itu langsung melangkah cepat mengambil kunci yang terjatuh sebelum Mang Maman sadar dari keterkejutannya. "Nah dapet," ujar Bara setelah berhasil mendapatkan kunci yang terjatuh tadi. Karena ucapan Bara itu, Mang Maman tersadar dari keterkejutannya. "Kembalikan Bara!" Mang Maman berkata sembari menahan kesal. Disini ada Bu Sari, Mang Maman tak boleh kelepasan. Harus jaga image. "Gak mau. Mang Maman lama. Kasihan Bu Sari nunggunya kelamaan. Biar saya aja yang cari," tolak Bara kekeuh. Menatap Mang Maman dengan ekspresi datar. "Saya bisa cari sendiri!" ujar Mang Maman lebih tegas. "Iya Mang Maman bisa, tapi lama," jawab Bara tanpa rasa takut sedikitpun. Arya saat ini hanya menjadi penonton saja. Menikmati pertunjukan menyenangkan yang tersaji secara langsung di depan matanya. "Jangan lancang Bara, cepat kembalikan!" ujar Mang Maman mulai emosi. Dari nada suaranya, sarat akan memerintah. "Sudah Mang. Biarkan Bara saja yang cari," Bu Sari menyahut membela Bara. Mang Maman langsung menoleh menatap Bu Sari, Mang Maman yang tadinya sudah terlihat hendak memarahi Bara mendadak diam seketika. Kalau sudah Bu Sari yang bicara, Mang Maman mana sanggup melawan. "I-iya Bu," Mang Maman menunduk patuh. Ah, manis sekali, Bara dan Arya sampai ingin menampol rasanya. Sok imut sekali anda Mang Maman. Mengalihkan pandangannya dari pemandangan menggelikan di depannya, Bara mulai fokus mencari kunci ruang penyiaran. Dibantu juga dengan Arya. Tak butuh waktu lama, bahkan kurang dari 2 menit, Bara dan Arya berhasil menemukan kunci ruang penyiaran. "Nih dapet nih kita," ujar Arya sembari menarik kunci dengan tulisan ruang penyiaran itu keluar dari gantungan kunci. "Udah dibilang kan Mang, kalo saya yang nyari cepet. Soalnya saya carinya paket tangan sama mata kepala. Bukan pake tangan sama mata hati," sindir Bara kemudian. Mang Maman hanya diam. "Nih Mang," ujar Arya sembari menyerahkan sisa kunci setelah mengambil kunci ruang penyiaran. "Kita cuma ambil satu kunci loh ya ini. Kalo ada yang hilang berarti bukan kita yang hilangin," lanjutnya dengan menunjuk satu kunci ruang penyiaran yang sudah berada di genggaman Bara. Mang Maman mengangguk seraya menerima sisa kunci. "Iya," ujarnya malas. "Ehem," dehem Bu Sari setelah beberapa waktu terdiam. "Ya sudah, karena kalian sudah dapat kuncinya, cepat selesaikan masalahnya. Bu Sari mau ngajar kelas 11 MIPA 2 dulu. Kalian kalau sudah selesai, kuncinya cepat kembalikan ke Mang Maman. Ingat ya Bara, Arya, jangan lama-lama," ujar Bu Sari menatap kearah Bara dan Arya. "Siap Bu!" seru Arya dan Bara serempak. "Kalau gitu kita langsung pamit ya Bu. Kasihan Abey sama Damar kelamaan nunggunya. Bisa di cincang kita kalo nggak cepat-cepat kesana," lanjut Bara. "Iya. Hati-hati Bara, Arya," pesan Bu Sari. Arya dan Bara mengangguk. Keduanya kemudian bersalaman kepada Bu Sari dan Mang Maman bergantian sebelum pergi dari sana untuk menuju ruang penyiaran. Sekarang, tinggal lah Bu Sari dan Mang Maman berdua di depan kelas 11 MIPA 2. Mang Maman masih terlihat menunduk dengan senyum malu-malu salah tingkah. Bu Sari kembali merasakan kecanggungan. "Mmm Mang Maman, kalau begitu saya masuk dulu ya, mau mengajar. Nanti, kalau Bara sama Arya sudah selesai sama urusannya, kuncinya langsung di kembalikan ke Mang Maman," ujar Bu Sari panjang lebar. Mang Maman mengangguk kecil tanpa menghilangkan senyum malu-malunya. "Iya Bu," ujarnya. "Oh iya, Mang Maman juga jangan marahi Bara sama Arya, mereka di suruh Desta. Mang Maman tahu kan kalau Desta yang nyuruh, gak boleh ada yang menentang?" tambah Bu Sari lagi. Wanita paruh baya itu takut Bara dan Arya terkena marah. Meskipun mereka bandel, mau bagaimanapun juga mereka sedang menjalankan perintah Desta. Anak tunggal pemilik sekolah. Lagipula, Arya dan Bara juga sedang membantu Nesya untuk keluar dari masalahnya. Agar tak banyak lagi siswa-siswi yang menghujat gadis itu. "Baik Bu," ujar Mang Maman lagi. "Ya sudah kalau begitu, sama masuk dulu ya Mang. Mang Maman silahkan dilanjutkan pekerjaannya. Maaf mengganggu," Bu Sari sedikit membungkuk sebelum masuk ke dalam kelas 11 MIPA 2. "Tidak mengganggu Bu Sari," balas Mang Maman sembari melihat Bu Sari yang sudah berjalan masuk ke dalam kelas. Meskipun Mang Maman tahu Bu Sari tidak mendengarnya, namun pria paruh baya itu masih tersenyum. Senang di hatinya semakin terasa jelas. Bisa mengobrol dengan waktu yang lumayan lama dan dengan obrolan yang lumayan panjang membuat suasana hati Mang Maman terasa cerah hari ini. Mang Maman berjanji. Apapun yang akan dilakukan Bara dan Arya dalam waktu seminggu ini, Mang Maman tak akan memarahi kedua remaja itu. Meskipun mereka membuat kesalahan, Mang Maman akan mencoba memakluminya. Dalam seminggu ke depan, Bara dan Arya akan menjadi temannya. Mang Maman melakukan itu sebagai bentuk rasa terima kasih. Kalau bukan karena Bara dan Arya, Mang Maman tak begitu yakin dia bisa mengobrol dengan begitu lama dan panjang bersama Bu Sari. Wanita yang menjadi idaman Mang Maman. *** Abey dan Damar. Kedua remaja dengan wajah datar itu berjalan santai menuju ruang penyiaran. Setelah menyusun strategi, mereka mulai menjalankan rencana. Abey dan Damar jujur saja tak begitu yakin Arya dan Bara bisa menjalankan rencana dengan begitu mudah dan cepat. Kedua remaja itu terlalu tengil. Namun terkadang, tak bisa Abey dan Damar pungkiri, ketengilan mereka sangat berguna. Tak butuh waktu lama, Abey dan Damar sudah sampai di ruang penyiaran. Mereka langsung saja duduk di depan ruang tersebut dengan santai. Mereka bisa pastikan Arya dan Bara akan sangat lama dalam menjalankan rencana. Mereka lelet. Meskipun sifat tengil mereka bisa diandalkan, namun sifat tengil mereka juga memperlambat rencana. Mereka pasti banyak mengulur waktu hanya untuk hal-hal tak berguna. Mereka tak langsung fokus menyelesaikan rencana, mereka tak langsung fokus pada tujuan. Oleh karena itu, Abey dan Damar yang memang sudah memprediksi kalau Arya dan Bara itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan rencana itu memutuskan untuk bangkit dari duduknya setelah belum lama mereka sampai di ruang penyiaran. Mereka memutuskan untuk pergi ke kantin terlebih dahulu untuk membeli beberapa camilan dan minuman untum mengisi waktu kosong mereka. Akan sangat membosankan jika menunggu Arya dan Bara tanpa melakukan apapun. Akan sangat lapar dan haus pula jika mereka melakukan itu tanpa menyiapkan makanan dan minuman. Sebelumnya, di perjalanan menuju ruang penyiaran, Abey dan Damar sudah menyusun kegiatan apa yang akan mereka lakukan sembari menunggu Arya dan Bara selesai. Mereka akhirnya sepakat untuk menonton film. Film action yang memiliki durasi tak lebih dari satu jam tiga puluh menit. Sekembalinya mereka dari kantin mereka kembali duduk di tempat mereka sebelumnya. Di depan teras ruang penyiaran. Abey mengeluarkan ponselnya kemudian memilah film action yang akan mereka tonton. Film pun terputar tak lama setelah itu. Suara film terdengar sangat jelas di tengah keheningan yang melanda mereka. Abey dan Damar sama-sama irit dalam berbicara. Kedua cowok itu hanya akan banyak bicara saat menyusun strategi atau sedang marah. Kedua cowok itu juga terkadang akan banyak bicara saat bersama Desta. Jadi, ketika kedua cowok irit bicara disatukan, maka keheningan lah yang akan ada di antara mereka. Namun, tak jarang pula Abey dan Damar mengobrol berdua. Mereka memiliki selera yang sama. Mereka sangat nyambung saat berbicara berdua. Berbeda saat berbicara dengan Arya dan Bara yang penuh dengan ke omong kosongan. Abey dan Damar tak se-frekuensi dengan Arya dan Bara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD