CHAPTER 8

1302 Words
Satu jam lima belas menit berlalu, Abey dan Damar berhasil menyelesaikan satu film action dengan khidmat tanpa suara sama sekali. "Lo ada rekomendasi film action lain gak Dam? Gue mau maraton nonton film action, tapi gak tau mana yang bagus. Selera lo sama gue kan sama," tanya Abey tanpa menatap Damar. Cowok itu sedang mengambil ponselnya yang tadi dia sandarkan di tiang teras. Cowok itu kemudian memasukkan ponselnya kedalam saku miliknya. "Ada banyak Bey," balas Damar. "Ntar deh gue list. Gue kirim ke line lo," lanjutnya kemudian. "Netflix semua kan Dam?" tanya Abey memastikan. "Heem," balas Damar sembari mengangguk. "By the way, lo ada rekomendasi film horor? Gue lagi banyak kumpulin daftar film horor. Supaya, ntar kan kalo gue udah selesai maraton film action, gue bisa ganti maraton film horor." "Ada beberapa sih. Ntar gue list juga. Gue kirim ke line lo," balas Abey. "Lo gak ada niat cari film fantasi? Gue ada suka beberapa. Mau gue rekomendasiin gak? Gak kalah keren. Meskipun mungkin kerasa khayalnya, tapi bagus," ujar Abey lagi. "Boleh deh sekalian," Damar setuju. "Kalo yang paling gue suka cuma ada dua sih," ujar Abey. "Apaan judulnya?" tanya Damar penasaran. "Harry potter udah pasti. Semua episode gue udah nonton. Semuanya keren parah, lo harus nonton deh. Itu film ter-favorit gue," ujar Abey antusias. "Sama satu lagi Avatar. Itu gak kalah keren juga. Sayang banget gue baru nonton episode satu. Episode dua baru tayang tahun depan soalnya," lanjutnya. "Lo masih ada film nya gak?" tanya Damar tertarik. "Masih ada di flashdisk gue. Kenapa? Lo mau minta?" balas Abey. Cowok itu menatap Damar dengan menaikkan alisnya sebelah. "Heem," balas Damar. "Bisa kali gue pinjem flashdisk lo, gue salin datanya ke laptop gue." "Atur aja lah. Biasanya malming kita ada kumpul kan, nginep di rumah Desta. Nah, hari itu aja deh ya," tawar Abey. "Iya. Jangan lupa lo bawa flashdisknya," peringat Damar yang hanya dibalas Abey dengan acungan jempol. Lama mereka membahas tentang film, sampai pada akhirnya dua manusia yamg mereka tunggu sampai dengan peluh yang bercucuran dimana-mana. Mereka sepertinya lari. "Hosh hosh," napas Arya dan Bara tak beraturan. Kedua cowok itu menopang tubuhnya di lutut sebelum menjatuhkan tubuhnya sembarangan. Tepat di tengah-tengah teras ruang penyiaran. "Mana kunci?" tagih Abey tanpa menanyakan kondisi kedua sahabatnya itu. Laknat kau Abey. "Abey mah, temennya capek gini bukannya di tanyain kabarnya, di kasih minuman, atau apalah gitu, di kipasi kek. Ini malah nanyain kunci," Bara memberengut kesal. "Bacot. Gak usah sok imut. Cepet sini kunci," sahut Damar menimpali. "Ish," Bara semakin mencebikkan bibirnya kesal, cowok itu segera merogoh saku celananya mengambil kunci. "Nih kuncinya, ambil aja noh," ujarnya sembari menyodorkan kuncinya di depan Damar dengan kesal. Tanpa perasaan Damar merebut kunci tersebut dengan kasar. "Damar monyet! Kasar banget jadi cowok," Bara berteriak protes. "Mulut lo gak bisa diem gue lakban sekarang tau rasa lo," ancam Abey menatap Bara penuh peringatan. "Diem bisa kan lo? Tidur aja sono, kaya Arya. Anteng, gak banyak ganggu," tambahnya. Mendengar itu, refleks Bara menoleh ke sampingnya, melihat keadaan Arya yang memang sedari tadi anteng, tenang, tanpa bersuara. Dan ternyata benar saja apa yang dikatakan Abey. Arya sedang tertidur. Gampang sekali cowok itu tidur. Memang dasar kebo. Ah, tapi sepertinya Arya seperti itu karena kelelahan. Mereka tak berhenti berdiri selama satu jam lebih. Tentu saja itu sangat melelahkan. "Malah molor ini anak astagaaa," Bara menggeleng heran. Namun tak urung, Bara ikut memejamkan mata setelahnya. Melihat kedua sahabatnya terkapar di lantai dengan acak membuat Abey dan Damar menggelengkan kepalanya. Sekarang, giliran Abey dan Damaryang bergerak. Mereka mulai membuka kunci pintu ruang penyiaran. Setelah berhasil terbuka, mereka segera masuk ke dalam sana. Sebelum itu, mereka menyalakan lampu terlebih dahulu. Meskipun masih pagi, tapi penerangan di dalam ruang penyiaran sangat minim. Hanya sedikit cahaya yang bisa masuk. Maka dari itu, mereka membutuhkan lampu untuk meneranginya. "Gelap banget anjir. Pengap lagi," keluh Abey. "Udah lah Bey, itu gak penting. Sekarang yang perlu kita pikirin, kita mau bilang apaan disini?" sahut Damar. "Kalo soal ngomong yang jago itu si dua curut yang lagi terdampar di depan," tambahnya. "Terus gimana?" tanya Abey. "Bangunin aja. Mereka paling semangat kalo suruh kasih wejangan soal ginian," saran Damar. Abey setuju. Arya dan Bara memang paling bisa diandalkan untuk urusan berbicara seperti ini. Mereka selalu merasa senang bisa berbicara menggunakan mic ataupun alat-alat lain yang bisa membuat suara mereka terdengar se-penjuru sekolah. Mereka senang saat suara mereka dapat di dengar oleh seluruh anak sekolah. Mereka bangga dengan itu. "Gue aja yang bangunin, lo tunggu sini," ujar Abey yang di angguki Damar. Abey segera keluar dari ruang penyiaran untuk menghampiri dua curut terdampar itu. "Bangun!" ujar Abey menendang badan Arya dan Bara pelan. Abey masih cukup waras untuk tak menendang keras kedua curut terdampar yang sialnya adalah sahabatnya ini. "Arya! Bara! Bangun!" seru Abey lagi. Namun kedua cowok itu belum juga bangun. Mau tidak mau, Abey harus jongkok untuk membangunkan dua cowok di depannya itu. "Arya! Bara!" teriak Abey tepat di samping telinga kedua cowok itu sembari menepuk keras lengan tangan mereka. "Bangun!" tambahnya lagi. Arya dan Bara tersentak kaget. Kedua cowok itu refleks bangun dan menoleh. Lalu, yang terjadi adalah kepala Arya dan Bara bertemu. Keduanya terpentok. "Awh anjir!" ringis keduanya memegang kepalanya. "Makanya gak usah banyak tingkah," cibir Abey. "Banyak tingkah pala lo," umpat Bara kesal. "Gara-gara lo nih Bey!" tambahnya. "Salah gue dari mananya?" tanya Abey dengan wajah datarnya. Alisnya terangkat sebelah. "Halah udahlah," Arya menghentikan. Cowok itu benar-benar sedang lelah. Dia perlu mengisi energi terlebih dahulu dengan tidur agar dia bisa kembali aktif seperti sedia kala. Mendengar Abey dan Bara adu mulut saja sudah cukup membuat kepala Arya rasanya ingin pecah. "Kenapa sih Bey?!" tanya Arya tak santai kemudian. "Lo berdua yang ngomong di ruang penyiaran. Gue sama Damar gak bisa," ujar Abey. "Cepet gih. Waktunya gak banyak sebelum bel istirahat kedua bunyi. Udah ditungguin Damar di dalem," lanjutnya lalu langsung berlalu kembali masuk ke dalam ruang penyiaran tanpa permisi. Arya dan Bara bengong sejenak. Sebelum kedua cowok itu berhasil mencerna maksud dari ucapan Abey. "Ayo Ar. Gue udah lama gak tausiyah. Udah lama gak ngebacot, udah lama gak kasih anak sini wejangan," ujar Bara mendadak semangat. Arya yang memang benar-benar sedang kelelahan itu tak banyak bersuara, dia tak seantusias biasanya. "Heem, ayok," balasnya tak terlalu bersemangat. Bara tentu saja bisa menangkap raut wajah tak bersemangat Arya. "Lo kenapa Ar?" tanya Bara menatap Arya bingung. "Hm?" Arya menoleh menatap Bara bingung. "Gak apa-apa gue, lagi capek aja," lanjutnya kemudian setelah paham maksud dari pertanyaan Bara. Bara terdiam sejenak. Cowok itu menatap Arya peduli. "Kalo gitu lo tidur aja deh Ar. Biar gue sendiri yang urus. Lo tau kan kalo soal gituan gampang banget buat gue," ujarnya meyakinkan Arya. "Gak apalah, gue bisa kali Bar gitu doang," balas Arya. "Lo mau menguasai tausiyah sendirian tanpa gue gitu? Mana bisa. Kita biasanya collab," lanjutnya. Bara tersenyum kecil. "Iya deh, collab," ujarnya. "Ya udah, yok kita masuk, sebelum Abey lebih ngomel lagi," tambahnya. Arya hanya mengangguk kecil menanggapinya. Kedua cowok itu kemudian bangkit dari duduknya, lalu segera memasuki ruang penyiaran yang sudah terdapat Abey dan Damar di dalamnya. "Yo whats'up mamennn," sapa Bara bersemangat. Sangat kontras dengan Arya yang memang terlihat jelas sedang kelelahan. "Kenapa temen lo?" tanya Damar sembari menujuk Arya dengan dagunya, cowok itu juga bisa melihat raut wajah kelelahan Arya. "Capek dia," balas Bara menjawab. "Kalo capek suruh istirahat aja Bar. Gak usah ikut-ikutan. Ntar kalo sakit malah repot, mending dia tidur aja lagi," saran Damar juga peduli. "Udah gue bilangin, gue suruh tidur. Tapi dia gak mau, dia tetep mau ikut ngisi tausiyah," ujar Bara. "Ya udah. Terserah dia aja," ujar Damar pasrah. "Gue sama Abey tunggu depan aja. Jaga-jaga kalo sampe ada pengganggu," lanjutnya yang di angguki Arya dan Bara serempak. Damar dan Abey keluar kemudian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD