Una berjalan lemah, sambil duduk di pelataran rumahnya. Hatinya resah, airmata mengalir seiring dengan perasaannya yang hancur. Berkali-kali Una meraup poninya. Menyugar ke belakang. "Keen... aku harus minta dia untuk kesini?!" lirihnya. *** Sedang Keen sudah sampai di rumah. "Ma... Una mana?!" "Una... Una bukannya nyusul kamu Keen?!" Una memang tadi ijin ke Tika dan Utami untuk menemui Keen di luar. Ia tidak mungkin mengaku mau pulang "Nyusul aku?!" beo Keen. Ia melihat ponselnya. (Keen aku di rumah Ibu. Aku harap kamu kesini secepatnya. Ada yang mau aku tanyakan!) bunyi chat Una yang ia ketik penuh emosi. "Ooh... Iyah Una cari aku. Tapi mungkin tadi kita papasan jalan!" jelas Keen tak ingin kedua ibunya khawatir. "Ooh gitu Keen. Ya udah kamu susulin dia,yah!" titah Tika. "I

