Sakti bersama Rico dan Anata tiba di depan kamar.
"Ada misi apa lagi nih, Ketua?" tanya Rico dengan semangat kemudian masuk ke dalam kamar Sakti dan segera menghampiri Yoland yang duduk di atas kursi di depan komputer milik Sakti.
"Bukan misi, tapi masalah..." jawab Yoland yang tetap mengunci pandangannya pada layar monitor sembari menggerakkan ke sepuluh jarinya di atas keyboard dan sesekali menggeser sebuah mouse di samping keyboard dengan tangan kanannya.
"Masalah?" ucap Anata bertanya sembari menunjukkan ekspresi heran di wajahnya.
"Ya, sebenarnya sebelum Ketua kemari, komputerku di serang sebuah virus," sahut Sakti menjawab, "Dan berkat dari benteng yang sudah Rico program pada komputerku, komputerku bisa kembali ke keadaan semula," sambungnya menjelaskan.
"Memangnya apa bahaya dari virus itu?" tanya Anata.
"Sebentar," ucap Sakti kemudian mengambil ponsel pintarnya bersama sebuah baterai dari dalam laci pada meja lampu yang berada di samping tempat tidurnya, "Seperti ini," ucapnya lagi setelah memasang baterai ponsel dan menunjukkan ponsel pintarnya yang seketika mengeluarkan suara berisik.
"Mirip tv kehilangan sinyal saja, hihi," ucap Rico menyengir.
"Dasar kau," sahut Sakti kesal seketika menyikut perut Rico.
"Uuuhh..." jerit Rico, "Eh, bisa jadi kalau Pom juga mengalami hal yang sama, kan?" tanyanya seketika.
Sakti menganggukkan kepalanya, "Mungkin...."
"Pom tidak bisa di hubungi ya?" tanya Yoland.
"Iya, kata ibunya dia tidur," jawab Anata.
"Hhhmm...." Yoland mengangguk.
"Kalau memang seperti itu, lalu kenapa smartphone milikku dan Rico tidak terinfeksi virus itu?" tanya Anata heran.
"Apa ketika tidur, kalian berdua mematikan sambungan data di smartphone kalian?" tanya Yoland seketika memutar kursi yang di dudukinya dan menghadap ke arah Sakti, Rico dan Anata.
"I-iya sih... sebelum tidur aku selalu mematikan sambungan data di smartphone ku," sahut Rico menjawab, "Bahkan komputer ku juga ikut ku matikan," lanjutnya.
"Iya, aku juga sama..." sahut Anata ketika merasa melakukan hal yang sama dengan apa yang biasa di lakukan oleh Rico.
"Itulah sebabnya, smartphone dan komputer kalian tidak terinfeksi oleh virus ini," ucap Yoland menjelaskan.
"Jadi, virus ini menjangkit lewat internet ya?" tanya Sakti ketika mulai mengerti permasalahan yang mereka hadapi.
"Benar sekali," sahut Yoland menegaskan.
"Virus jenis apa ini, aku baru pertama kali menemui virus seperti ini," ucap Anata.
"Virus ini bernama Reinka-99, mereka memiliki kemampuan membelah diri dengan cepat setelah menginfeksi sebuah perangkat," ucap Yoland menjelaskan, "Aku juga baru pertama kali menemui virus ini, dan mungkin virus ini masuk ke dalam kategori pengganggu pada level tertinggi," sambungnya memberitahu.
"Benar, karena virus ini membuat komputer dan smartphone ku mengeluarkan suara berisik, dan itu sangat mengganggu," sahut Sakti.
Yoland menggelengkan kepalanya, "Bukan itu yang aku takutkan...."
"Lalu apa, Ketua?" tanya Anata.
"Jika virus ini menyebar ke seluruh negara ini, maka negara ini tidak akan bisa lagi menggunakan semua perangkat yang memerlukan sambungan internet," jawab Yoland.
"Dunia tanpa internet!" ucap Anata kesal, "Aku tidak akan membiarkan virus ini menyebar!" sambungnya lagi dengan semangat membara.
"Tenang saja, aku pasti akan membantumu," ucap Rico.
"Ada yang cari-cari kesempatan nih, hihi," ucap Sakti mengejek.
Anata berkacak pinggang sembari menatap tajam ke arah Sakti.
"Eh, enggak... enggak..." ucap Sakti merasa takut sembari menggelengkan kepalanya dan mendadahkan kedua tangannya.
"Belum juga terbebas dari virus Covid-19 yang membuat seluruh kehidupan di Bumi menjadi berubah drastis, muncul lagi virus Reinka-99 yang merambat melalui dunia internet, huuuuh...!" ucap Anata mengeluh.
"Apa tujuan sebenarnya pencipta virus Reinka-99 ini?" gumam Sakti sembari mengerutkan kedua keningnya.
"Yang pasti, untuk menghancurkan negara kita," sahut Anata kesal.
"Lalu, langkah awal apa yang akan kita lakukan?" tanya Sakti tampak bersemangat, "Aku sudah tidak sabar lagi untuk beraksi," sambungnya.
"Kita rundingkan besok bersama Pom," jawab Yoland, "Dan sebaiknya sekarang kalian bantu aku dulu untuk mencari celah dari virus Reinka-99 ini," sambungnya.
"Mau bantu gimana?!" tanya Anata kesal, "Komputer ku kan di rumah...."
Seketika Yoland menepuk dahinya, "Aaduuuh!" ucapnya, "Oh iya, aku lupa kalau di dalam jok motorku ada laptop," sambungnya segera beranjak dari kursi, "Sebentar, aku ambil dulu," sambungnya lagi kemudian bergegas menuju ke motornya yang terparkir di depan rumah Sakti.
Anata menggelengkan kepalanya, "Dasar nih Ketua, huh!" dengkusnya.
"Kalau Nata marah, semakin kelihatan aja aura cantiknya," ucap Rico merayu.
"Apa!" teriak Anata kesal sembari berkacak pinggang.
"Eh, enggak-enggak kok," ucap Rico takut seketika menggelengkan kepalanya dan mendadahkan tangannya.
"Ssstt Rico..." bisik Sakti seketika mendekat ke arah Rico, "Sudah tahu kalau Anata itu pemarah, jangan pancing kemarahan dia deh," bisiknya lagi.
"Kalian berdua ngomongin aku ya...!" ucap Anata geram.
"Hehe, enggak kok, Nata..." sahut Sakti.
"Nah, siapa yang mau bantu...." Yoland segera masuk ke dalam kamar Sakti sembari membawa tas berisi laptop kemudian meletakan laptop tersebut di atas lantai dan menyalakannya.
"Aku saja," ucap Rico menawarkan diri.
"Ayo, Rico..." ucap Yoland mengajak.
"Siap..." sahut Rico kemudian duduk bersila di atas lantai menghadap laptop.
"Hoooaammmh." Anata menguap, "Aku ngantuk nih," ucapnya seketika melompatkan tubuhnya ke atas tempat tidur Sakti.
"Hei hei, itu kan tempat tidurku..." ucap Sakti mengeluh.
"Sama perempuan saja enggak mau mengalah... wuuuu," ucap Rico membela Anata.
"Hedeh..." ucap Sakti menghela nafas, "Sesukamu deh...." Kemudian Sakti mendekat ke arah Yoland sembari ikut memperhatikan layar monitor komputernya.
"Bagaimana Rico?" tanya Yoland.
"Sebentar lagi, Ketua..." sahut Rico sembari dengan semangat menggerakkan ke sepuluh jarinya yang terlihat seperti menari di atas keyboard, "Berhasil!" ucapnya seketika mengejutkan Anata yang tertidur.
"Hah, sudah berhasil ya?" tanya Anata seketika beranjak duduk dan menatap ke arah laptop di depan Rico.
"Apa yang kau temukan, Rico?" tanya Sakti seketika duduk di samping Rico.
"Lihat ini," ucapnya sembari dengan rasa bangga menunjukkan layar monitor laptop di depannya, "Kode-kode ini sangat rumit, tapi ini masih bisa ku atasi," sambungnya merasa bangga.
Yoland berdiri kemudian ikut duduk dan menatap layar monitor laptop, "Sudah ku duga..." ucapnya.
"Emm... Aku masih belum mengerti," ucap Sakti bingung menatap layar monitor pada laptop yang berada di depan Rico.
"Ya, aku juga belum mengerti," ucap Anata seketika ikut duduk di samping Sakti.
"Biarkan aku menjelaskannya," ucap Rico, "Virus bernama Reinka-99 ini memiliki tingkah seperti makhluk hidup, mereka bisa berkembang-biak," sambungnya menjelaskan.
"Virus ini mampu berkembang-biak?" tanya Sakti terkejut.
Yoland dan Rico saling menatap dengan yakin.
"Virus Reinka-99 sudah di program oleh penciptanya dengan beragam tingkatan sesuai usia dari virusnya," jawab Yoland menjelaskan, "Semakin lama usia virusnya maka semakin sulit juga untuk memusnahkannya," sambungnya lagi menjelaskan.
"Lalu, apa ada cara untuk menghentikan virus ini?" tanya Anata.
"Ada sih, tapi sebaiknya besok jam sembilan pagi kita merundingkannya di Basecamp bersama Pom," jawab Yoland.
Sakti mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu, aku pulang dulu deh..." ucap Anata seketika melangkah keluar dari kamar Sakti.
"Anata, tunggu," ucap Rico seketika menyusul Anata, "Aku antar kamu ya..." ucapnya ketika berjalan beriringan dengan Anata.
"Enggak usah, rumahku dekat kok," sahut Anata cuek.
"Tapi, jam segini kalau perempuan jalan sendirian, bahaya loh," ucap Rico menakut-nakuti.
"Aku enggak takut," sahut Anata lagi kemudian mempercepat langkahnya setelah keluar dari rumah Sakti.
"Tunggu Anata...." Rico menyusul langkah Anata dan tetap berusaha membujuk Anata.
"Yoland, bagaimana kalau kau menginap di sini saja," ucap Sakti.
"Enggak deh, aku pulang saja," sahut Yoland menolak sembari memasukkan laptopnya kedalam tas, "Lagi pula di rumahku tidak ada orang," sambungnya.
"Orang tuamu ke luar negeri lagi ya?" tanya Sakti.
"Iya, mereka ke Singapore, sudah seminggu mereka di sana," jawab Yoland memberitahu.
"Ooh..." sahut Sakti mengangguk, "Bagaimana kalau aku yang menginap di rumahmu?" tanyanya seketika.
"Ide bagus."
"Sebentar, aku izin dengan ibuku dulu...." Sakti menuju ke depan kamarnya dan menengok ke sebelah kanan, "Mungkin ibu sudah tidur," gumamnya kemudian kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Bagaimana?" tanya Yoland.
"Sepertinya ibuku sedang tidur," sahut Sakti.
"Kalau begitu tidak usah deh," ucap Yoland, "Nanti ibumu jadi khawatir kalau tidak meminta izin," sambungnya.
"Huuh." Sakti menghela nafas, "Iya, kau tahu sendiri kalau ibuku itu orangnya suka marah," sambungnya.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya."
"Iya." Kemudian Sakti mengantar Yoland sampai ke depan pintu rumahnya.