Ibunya Sakti yaitu Bu Verita melangkah keluar dari kamarnya, kemudian menengok ke arah kamar Sakti dan di lihatnya pintu kamar tersebut tidak di tutup. Bu Verita menggelengkan kepalanya sembari berkacak pinggang, "Hmm... Kebiasaan kalau tidur, pintu kamarnya pasti lupa di tutup," gumamnya, kemudian Bu Verita melangkah masuk ke dalam kamar Sakti, "Begini nih jadinya kalau keseringan begadang, huuuh..." gumamnya lagi sembari membuka gorden yang menutup jendela kamar Sakti kemudian berjalan lagi keluar dari kamar tersebut.
Sakti yang sedang tertidur pulas seketika terbangun setelah kedua matanya terkena silau oleh cahaya matahari yang menyelinap masuk melalui jendela kamarnya. Sakti perlahan membuka kedua matanya yang masih terasa rait kemudian menggeliatkan tubuhnya dan tanpa di sengaja kedua matanya menatap ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan tepat.
"Aku telat!" sentaknya seketika beranjak bangun dari tempat tidurnya dan bergegas menuju ke kamar mandi. Setelah selesai dari kamar mandi, kemudian Sakti pun bergegas lagi untuk segera pergi menuju ke Basecamp di mana seluruh anggota Trouble Maker sudah menunggu. Sakti berjalan melewati ruang tengah yang menjadi jalan keluar satu-satunya di rumahnya, namun langkahnya terhenti karena mendengar suara yang berasal dari televisi di ruang tengah yang sejak tadi di tonton oleh Bu Verita.
"Yaah... acara sinetronku terputus karena berita ini..." keluh Bu Verita kesal kemudian mengambil sebuah remote televisi dan bermaksud hendak memindah chanalnya.
"Jangan di pindah, Bu," sergah Sakti sembari tanpa mengalih pandangannya ke arah televisi dan berjalan mendekat ke arah ibunya yang sedang duduk santai sembari menikmati secangkir teh di depan televisi.
Sebuah berita di televisi yang di lihat Sakti dan Bu Verika memberitahukan bahwa hampir seluruh perangkat elektronik yang memiliki fitur akses internet di negara tempat tinggal Sakti sudah terinfeksi sebuah virus, sehingga perangkat elektronik yang terinfeksi oleh virus itu tidak dapat di gunakan lagi.
"Sudah menyebar..." gumam Sakti kemudian bergegas melanjutkan langkahnya keluar rumah.
"Sakti, kamu mau kemana?"
"Ke Basecamp, Bu." Sakti tampak berjalan tergesa-gesa menuju Basecamp yang letaknya beberapa blok dari rumah tempat tinggalnya.
Setelah beberapa menit berjalan, Sakti pun sampai di depan Basecamp. Di dalam Basecamp terlihat lima buah komputer yang di rakit khusus untuk mempermudah aksi hacker dari seluruh anggota tim Trouble Maker.
"Akhirnya aku sampai juga..." gumam Sakti dengan nafas terengah-engah kemudian melangkah masuk dan segera mendekat ke arah Yoland, Rico, Anata dan Pom yang sudah menunggunya.
"Kebiasaan telat..." ucap Anata seketika menoleh ke depan pintu.
"Tidak apa-apa," sahut Yoland, "Ayo, kita mulai saja perundingannya." Kemudian Yoland melangkah menuju ke salah satu komputer dan duduk pada sebuah kursi.
Sakti, Rico, Anata dan Pom ikut mendekat dan berdiri di belakang Yoland.
"Mungkin Pom belum mengetahui maksud dari perundingan ini, dan aku akan menjelaskannya secara singkat." Yoland pun menjelaskan tentang virus Reinka-99 kepada Pom.
"Lalu, apa rencana kita?" tanya Pom setelah mengetahui masalah apa yang sedang mereka hadapi.
"Aku sudah punya rencana untuk menciptakan sebuah program yang mampu memusnahkan seluruh virus ini," jawab Yoland dengan yakin.
"Program apa?" tanya Sakti.
"Kita akan menciptakan sebuah aplikasi dengan taktik 'Hancurkan Monster'."
"Metode itu lagi ya?" tanya Rico tersenyum.
Taktik 'Hancurkan Monster' adalah sebuah strategi yang di rancang oleh Yoland sendiri karena ia sangat menyukai game seperti RPG yang Open World.
"Hedeuh... main game lagi ya..." ucap Anata lemas karena tidak suka bermain game.
"Ketua benar, taktik ini sangat jitu karena melihat virus Reinka-99 ini sudah menyebar ke satu negara," sahut Sakti menekankan.
"Aku mulai dari Sakti..." ucap Yoland setelah beranjak dari tempat duduk dan berbalik badan menatap ke arah Sakti.
"Kalau aku sih ikut aja," sahut Sakti menyetujui semua pendapat. Sungguh sebuah jawaban yang sangat praktis.
"Anata?" Yoland menoleh ke arah Anata.
Anata mengangguk tanda setuju.
"Rico?" tanya Yoland
Rico menatap Pom.
"Pom?" tanya Yoland.
Rico dan Pom mengangguk bersamaan memberikan isyarat bahwa juga setuju dengan rencana dari Yoland.
"Baiklah, ayo kita mulai!" seru Yoland dengan semangat seketika duduk dan menghadap ke layar monitor komputer di dekatnya.
"Ya!" sahut Sakti, Rico, Anata dan Pom serentak kemudian menuju ke arah komputer masing-masing.
"Temanya game apa nih?" tanya Rico sembari menggerakkan ke sepuluh jarinya yang beradu dengan keyboard di depannya.
"MMORPG," sahut Yoland.
"Baik," ucap Rico kemudian membuat program awal dari aplikasi, "Open world, kan?" tanyanya.
"Ya, Open world," sahut Yoland.
"Tapi, bagaimana dengan peta lokasinya?" tanya Rico lagi.
"Sebentar, aku akan memasukkan data lokasi seluruh dunia, dengan begitu kita akan dengan mudah melacak di mana virus itu berada," sahut Sakti yang juga terlihat ke sepuluh jarinya seakan menari di atas keyboard di depannya.
"Bagus," ucap Yoland kemudian menoleh ke arah Pom yang sedang asik melahap makanan ringan di depannya, "Pom, apa tampilan monsternya sudah siap?" tanya Yoland.
"Sebentar lagi siap, Ketua," sahut Pom sembari dengan menggunakan tangan sebelah kanannya untuk menggeser-geser mouse dan dengan tangan kirinya sedang memungut makanan ringan yang sudah di siapkannya di atas meja.
"Visual karakter dan kemampuan karakter sudah siap, Ketua," ucap Anata melapor.
"Proses pembuatan peta dan input data lokasi juga sudah siap," ucap Sakti.
"Aku akan membuat visual lokasi tempat," ucap Anata.
"Desain monster juga siap," ucap Pom.
"Visual lokasi siap," ucap Anata.
"Server siap," ucap Rico.
"Semua sudah siap, selanjutnya input semua program yang kalian rancang ke data inti," perintah Yoland.
"Baik," sahut Sakti, Rico, Anata dan Pom serentak sembari dengan waktu yang sama mereka menekan tombol enter pada keyboard di depan mereka.
Kemudian seluruh data program terkumpul menjadi satu pada komputer Yoland dan segera memprosesnya.
"Asiiik... aku sudah tidak sabar main game lagi," ucap Sakti bersemangat.
"Game sudah siap," ucap Yoland dengan semangat memberitahu.
"Apa nama game ini?" tanya Anata.
"Nama... hehe, aku tidak berfikir sampai kesini," jawab Yoland cengengesan sembari menggaruk kepalanya.
"Hedeuuh...." Anata menghela nafas panjang.
"Bagaimana kalau 'Hunting Battle' saja..." ucap Sakti memberi usul.
"Kurang sangar..." ucap Anata memberi penilaian.
"Kalau 'Hunting Network' gimana?" tanya Sakti lagi.
"Emmm... terlalu lebai...." Anata mulai kehilangan semangat.
Yoland bergumam dalam hati, "Hunting Battle... Hunting Network...." Kemudian mendapat ide dan seketika berkata, "Battle Network," yang ternyata sama dengan apa yang di katakan Sakti.
Yoland dan Sakti seketika saling menatap, kemudian tertawa bersama.
"Battle Network... aku rasa cocok dengan tema game ini," ucap Rico kemudian mengetik pada keyboard di depannya untuk menginput nama untuk aplikasi yang mereka ciptakan.
"Semua proses berjalan lancar," ucap Yoland memberitahu, "Aku akan membagikan ke komputer kalian," sambungnya kemudian mengirim data aplikasi ke seluruh anggota Trouble Maker, "Semua sudah siap, kapan kita mulai?" sambungnya seketika bertanya.
"Tentu saja sekarang," jawab Sakti dengan bersemangat.
Rico mengangguk.
Pom mengangguk sembari mengunyah makanan ringan dalam mulutnya.
Anata mengangguk.