Lima layar monitor mulai menampakkan bahwa program rancangan mereka telah berhasil.
"Aku akan memilih...." Sakti tiba-tiba terdiam saat menatap layar monitor di depannya, "Hei! Kenapa karakternya cuman wanita?!" seru Sakti ketika menggeser mouse dan tidak melihat pilihan karakter laki-laki yang tersedia.
"Anata!!" seru Sakti, Yoland, Rico, dan Pom bersamaan.
"Kenapa?" sahut Anata bertanya dengan raut wajahnya yang santai, "Apa masih ada yang kurang?"
"Kenapa tidak ada pilihan karakter laki-laki?!" tanya Sakti kesal.
"Oh! Maaf, maaf." Anata menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya saat menahan tawa kemudian keluar dari aplikasi dan mencoba menambahkan program untuk pilihan karakter laki-laki, "Sudah aku tambahkan..."
"Anata!!" seru Sakti, Yoland, Rico, dan Pom lagi.
"Apa lagi?" sahut Anata.
Rico beranjak berdiri lalu berjalan menghampiri tempat duduk Anata.
"Kalian ingin memakai job apa?" tanya Rico sambil menatap layar monitor dan mengutak-atik keyboard serta menggeser-geser mouse yang ada di depan Anata.
"Sesuaikan saja dengan game MMORPG seperti biasa," jawab Yoland.
"Baiklah!" Rico menekan tombol 'Enter' pada keyboard di depan Anata. Sementara Anata menunjukkan raut wajahnya yang mulai kesal.
"Lagian aku ini perempuan. Masa aku diajak main game kayak laki-laki sih?!" ucap Anata lirih sambil memonyongkan bibirnya, "Aku pulang aja deh!" Anata memukul meja di depannya seraya beranjak berdiri.
"Eh... I-iya, ja-jangan marah dong.." Sakti membujuk Anata yang mulai merajuk.
Anata memalingkan wajahnya sambil mendengus kesal kemudian kembali duduk.
"Naah, gitu dong..." ucap Sakti, "Ayo kita lanjutkan! Virus itu tidak akan menunggu kita untuk terus berkembang-biak!" seru Sakti.
"Aku pilih job penyihir!" seru Rico lebih dahulu.
"Hei, hei! Aku ingin job itu!" seru Anata.
"Kamu kan bisa memakai job sama..." sahut Rico.
"Aku nggak mau kalau ada yang sama!" ucap Anata dengan mata melotot ke arah Rico.
"I-iya..." Rico mengurungkan niatnya untuk memilik job penyihir, "Aku pakai job pedang saja..." ucap Rico pelan.
"Nah... Gitu dong. Ngalah sama cewe! Wee..." ucap Anata tersenyum kemudian menjulurkan lidahnya ke arah Rico.
"Aku juga memilih job pedang!" seru Yoland bersemangat.
"Aku pilih apa ya? Pedang, Pemanah, Penembak, Penyihir, atau Golem?" gumam Sakti sambil menatap layar monitor di depannya melihat lima pilihan job yang ada pada layar monitornya.
"Aku pilih job golem!" seru Pom seketika.
"Heeeh...!" Sakti berpikir sejenak, 'Sekarang antara pemanah atau penembak... Keduanya sama-sama harus bertarung dengan jarak jauh. Baiklah! Aku akan memilihnya dengan mata terpejam!' Sakti memejamkan kedua matanya kemudian menggeser-geser mouse di tangan kanannya lalu hanya dengan menggunakan insting ia memilih salah satu job, yaitu job pemanah. Sakti membuka matanya, "Haah! Kenapa aku memilih job pemanah?!"
"Baikah! Semua sudah siap! Ayo kita mulai!" seru Yoland seketika menekan tombol 'Enter' tepat pada keyboard di depannya.
"Tu-tung..." Sakti berniat ingin mengganti job yang tadi dipilihnya, tapi tidak sempat karena Yoland lebih dulu menekan tombol enter.
"Kenapa, Sakti?" tanya Yoland.
"Sebenarnya tadi aku mau ganti job.." sahut Sakti.
"Kenapa tidak bilang?! Nanti saja kamu ganti jobnya.. Sekarang sebaiknya kita harus melihat bagaimana keadaan di dalam game dulu..." ucap Yoland.
"Ya sudah.." sahut Sakti dengan lesu.
Seluruh anggota 'Trouble Maker' mulai menggunakan aplikasi yang sudah mereka rancang, dan aplikasi itu bernama 'Battle Network'.
"Aku akan melacak dimana virus itu berada." Yoland menekan tombol 'M' pada keyboard di depannya untuk memunculkan fitur map.
"Jika ada titik merah, itu artinya di sekitar sana ada objek tak dikenal," ucap Sakti.
"Titik merah? Dimana?" tanya Yoland heran karena tak menemukan titik merah satupun saat menatap layar monitor di depannya.
"Iya, dimana?" tambah Rico.
"Benar, tidak ada titik merah," timpal Pom.
"Sebentar." Sakti menekan tombol 'M' untuk membuka fitur map, "Di monitorku ada kok!" sahut Sakti.
"Mana?!" tanya Anata yang juga tidak melihat satupun titik merah di layar monitornya.
Rico menoleh ke arah layar monitor yang ada di depan Sakti, "Kenapa titik merah hanya ada di monitormu?" tanya Rico heran.
"Aku juga tidak mengerti." Sakti bingung sambil menggaruk kepalanya.
"Mungkin karena job yang kamu pilih itu adalah pemanah," sahut Yoland.
"Maksudnya?" tanya Sakti masih merasa bingung.
"Maksudnya adalah hanya dengan kemampuan jarak jauh yang bisa mendeteksi keberadaan objek tak dikenal," jelas Rico.
"Beruntung kamu memilih job itu, Sakti. Kalau tidak, aplikasi yang kita buat ini tidak akan berguna," ucap Yoland.
"Oh.. Begitu ya.." Sakti menggaruk kepalanya.
"Jadi, semua perintah saat ini ada di tanganmu, karena hanya kamu yang bisa mendeteksi dimana keberadaan objek tak dikenal," ucap Yoland.
"Baiklah, ayo ikuti aku.." ajak Sakti kemudian menjalankan karakternya menuju ke titik merah terdekat yang ada pada map di layar monitornya.
"Ya!" seru Yoland ikut menjalankan karakternya mengiringi karakter Sakti.
"Tu-tunggu..." ucap Rico.
"Ada apa, Rico?" tanya Sakti heran.
"Bukankah kita punya seorang penyihir disini?" sahut Rico balik bertanya.
"Ya! Itu aku!" seru Anata, "Kenapa?" sambung Anata bertanya.
"Bukankah penyihir punya skill untuk teleportasi?" ucap Rico.
"I-iya, kenapa kita lupa kalau ada nenek sihir disini?" sahut Sakti mengejek.
"Apa!!!" teriak Anata geram.
"Eh! Enggak, enggak..." Dengan seketika Sakti merasa takut saat melihat wajah Anata yang mulai memerah karena emosi.
"Baiklah Sakti! Tolong bagikan padaku lokasi titik merahnya!" seru Anata.
"I-iya, Nata." Sakti mengirim lokasi titik merah kepada Anata.
Namun, saat Anata ingin menggunakan skill teleportasi, fitur itu belum tersedia karena level karakterya belum mencukupi.
"Kenapa tidak ada pilihan skillnya?" tanya Anata heran.
"Coba kamu buka fitur 'Pohon Kemampuan'," seru Sakti.
"Bagaimana caranya?" tanya Anata.
"Pohon kemampuan bisa dibuka dengan tombol 'P'," sahut Rico memberitahu.
"Baiklah..." Anata menekan tombol 'P' pada keyboard di depannya dan mucullah fitur 'Pohon Kemampuan' pada layar monitor di depannya.
"Kenapa skillnya tidak bisa diambil?" tanya Anata heran ketika tidak bisa mengambil pilihan skill teleportasi pada 'Pohon Kemampuan' yang dimiliki karakternya.
"Sebenarnya bukan tidak bisa. Tapi, belum bisa," jelas Sakti.
"Belum bisa?" tanya Anata heran.
"Level karakter milikmu belum cukup untuk membuka skill teleportasi pada pohon kemampuan," jawab Sakti.
"Jangan lupakan tentang poin skill, setiap kenaikan level karakter, kamu juga akan mendapatkan beberapa poin skill yang digunakan untuk membuka skill pada pohon kemampuan," tambah Yoland.
"Kalau begitu, aku akan menambah level karakterku...." Anata keluar dari aplikasi dan ingin menambah level karakter miliknya, "Level 100 Max," gumam Anata tersenyum sambil menaikkan angka bar 'Experience' pada level karakternya.
"Ini sih namanya bukan hacker. Tapi, cheater!" ucap Sakti kesal karena merasa jiwa gamer sejatinya dinodai oleh Anata.
"Memangnya kenapa?!" tanya Anata kesal.
"Eh, enggak, enggak!" Sakti kembali takut dengan wajah Anata yang marah.
"Baiklah." Anata kembali menekan tombol 'P' untuk membuka fitur 'Pohon Kemampuan' yang dimiliki karakternya, "Waaah! Semua skill sudah terbuka!" seru Anata senang.
"Kau harus hati-hati memilih skill yang ingin kamu pakai," ucap Yoland.
"Kenapa harus hati-hati?" tanya Anata heran.
"Jangan sampai poin skill milikmu terbuang sia-sia," sahut Pom menambahkan.
"Iya, iya.. tenang saja..." Anata dengan bersemangat memilih skill yang akan digunakan karakterya.
Namun, saat skill yang dipilih Anata hampir menuju skill teleportasi, poin skill yang dimiliki Anata tidak mencukupi untuk mengambil skill itu.
"Ini kenapa tidak bisa?!" tanya Anata heran.