Bab 5 - PDKT?

1984 Words
Yang berat itu bukan rindu. Tapi centang dua abu-abu yang tak kunjung biru. Padahal status update beberapa detik yang lalu. *** Sehabis mengantarkan Alessea pulang dengan selamat tanpa lecet sedikit pun, Dylan mampir ke minimarket untuk membelikan cemilan Nessa. Bukan tanpa sebab, Dylan paham betul, adik perempuannya itu susah banget diajak negosiasi dalam bentuk apapun. Makanya harus disogok dengan cemilan dulu. Hatinya sudah memantapkan untuk meminta nomor telepon Alessea dari Nessa. Sesampainya di rumah, ia tak langsung menuju kamar Nessa. Takut gadis dengan kehaluan yang luar binasanya itu tidak ada dikamar. Ia mencari ke ruang keluarga, namun yang di dapat ternyata Nevan yang sedang bermain PS. "Nessa di mana?" tanya Dylan langsung ke inti. Nevan menoleh ke belakang. Lalu kembali menatap layar TV yang dijadikan PS. "Dikamar mungkin. Biasa, ngeDraKor," "Kenapa emang, bang?" lanjut Nevan menghentikan permainan gamenya. "Ada misi rahasia yang nggak perlu lo tahu," kata Dylan sok rahasia. "Palingan mau minta nomornya Kak Alessea kan?" Nevan kembali melanjutkan gamenya. Dylan melotot. Bagaimana adik cowoknya ini bisa tahu niatnya? Wah, tidak bisa di biarkan ini. "Kok lo kenal Alessea?" bingung Dylan padahal seingatnya tadi Nevan belum pulang ke rumah dari lesnya. "Nessa sendiri yang cerita barusan," balas Nevan tanpa menatap Dylan. "Kembaran lo ember banget sih. Tapi,Van, menurut lo Alessea orangnya gimana?" Nevan melirik sebentar abangnya yang tiba-tiba duduk disebelahnya. "Mana gue tahu. Yang pasti dia nggak cocok sama lo, Bang." Ucapan Nevan barusan itu menohok sekali di hati Dylan. "Nggak cocoknya dimana?" Dylan semakin dibuat penasaran. Melupakan cemilan yang dibelinya untuk menyogok Nessa. Nevan membanting stick PSnya karena kalah tanding. Lalu berdeham sebentar dan kembali melanjutkan permainannya. "Ya nggak cocok aja. Lo sama dia itu jauh banget. Dia matahari dan lo neptunus," sarkas Nevan. "s****n lo. Nyesel gue tanya sama lo. Mending samperin Nessa." Dylan langsung bergegas menuju kamar adiknya. Tak memperdulikan Nevan yang mengajaknya bermain bareng. Tangan Dylan mengetuk pintu kamar Nessa. Lama menunggu, akhirnya Dylan masuk tanpa seizin pemilik kamar. Nessa yang sedang fokus menonton DraKor, kaget saat abangnya tiba-tiba duduk disisi ranjangnya. "Abang, kan udah di bilangin, kalau masuk ketuk pintu dulu." Nessa menatap abangnya dengan ekspresi marah. Beruntungnya ia sedang menonton drakor. Bagaimana kalau abangnya masuk tanpa ketuk pintu saat dirinya sedang ganti baju. Dylan berdecih. Sefokus apa adiknya saat menonton DraKor? Padahal ia mengetuk pintu kamarnya dengan keras. "Gue udah ketuk pintu. Tapi lo nggak denger." Nessa menyengir sambil mengangkat jarinya membentuk V. Mata Nessa melihat bungkusan yang ia tebak isinya cemilan. Pas banget dirinya lagi maraton nonton DraKor. Tahu banget kalau dirinya butuh cemilan sekarang. "Itu buat gue?" Nessa menunjuk bingkisan tersebut sambil tersenyum penuh harap. Dylan meletakan cemilan yang tadi di belinya ke tengah ranjang. "Ini buat lo. Tapi ada syaratnya." Nessa memutar bola matanya. "Nggak ikhlas dong namanya." Dylan hanya mengendikkan bahunya. "Mau apa nggak? Kalau nggak gue kasih ke Nevan," Saat Dylan hendak mengambil kembali bungkusan cemilannya, Nessa dengan cepat mencegahnya. "Apa syaratnya?" kata Nessa menahan cemilannya. Ia tak bisa melepaskan atau membiarkan cemilan di depan matanya itu beralih ke Nevan. Benarkan yang Dylan bilang. Nessa itu gampang kalau disogok cemilan. Untungnya cuman sama keluarga. Coba kalau ke semuanya, berabe ntar. "Kasih nomornya Sea." Hanya tiga kata itu yang keluar dari mulut Dylan. Nessa mengernyit bingung. Lalu tersenyum menggoda. "Buat PDKT ya?" Kedua alis Nessa naik-turun. "Cepetan, gue ambil nih cemilannya," ancam Dylan. Ia tak mau berlama-lama di kamar adiknya sekarang. Yang ada nanti semakin di goda habis-habisan. Nessa menggerutu kesal. "Nih cari sendiri." Nessa menyerahkan ponselnya. Dengan senang hati Dylan menerimanya dan mencari nama Alessea di ponsel. "Kok nggak ada nama Alessea? Lo namain apa kontaknya?" bingung Dylan. Nessa yang sedang membuka cemilannya menoleh. "Kesayangannya Park Jimin." "Segitunya banget. Lihat aja ntar, gue ganti namanya jadi Kesayangan Dylan." Entah kenapa Dylan jadi kesal sendiri setelah tahu nama kontak Alessea di ponsel adikknya. "Dih, ngarep banget jadi pacarnya Kak Sea." Mulut Dylan sedikit membuka. Ingin sekali protes pada ucapan Nessa. Tapi, ia bakalan kelihatan benar-benar mengharap Alessea menjadi miliknya. Dirinya harus stay cool di depan Nessa atau Nevan. "Nih, HPnya." Dylan menyerahkan ponsel adiknya dan langsung di terima. "Bang, lo beneran mau PDKT sama Kak Sea?" Dylan bingung membalas pertanyaan adiknya. "B aja. Buat nambah kontak doang, sih," alibi Dylan mencoba terlihat biasa saja. Nessa merubah posisinya menjadi duduk. Ia memincingkan matanya. "Yakin cuman buat nambahin kontak doang?" "Apaan sih, Ness." "Yaudah, padahal kalau niatnya buat PDKT, gue bakalan kasih tahu apa aja kesukaan Kak Sea," Nessa kembali merebahkan tubuhnya. Ia sengaja menjahili abangnya. Dylan ikut merebahkan di sebelah Nessa. Ia heran dengan adik perempuannya ini. Padahal baru tadi saja ia kenal dengan Alessea. Kenapa bisa sudah tahu apa saja kesukaan Alessea? Sedangkan dirinya belum ada perkembangan dalam pendekatan sama sekali. Tidak adil sekali. "Kok lo bisa tahu?" Nessa menatap ke samping kirinya. Ia menyangga kepalanya. "Bisa dong, gue sama Kak Sea kan se frekuensi, jadi mudah buat bergaul bareng." Dylan masih kurang puas dengan jawaban adiknya itu. Apa maksud se frekuensi? "Maksud lo?" "Gue kan ARMY dan Kak Sea juga ARMY. Jadi, nyambung aja kalau kita ngobrol. Di tambah Kak Sea orangnya asik juga," Alessea orangnya asik? Hei! Padahal selama kenal Alessea, Dylan harus menyiapkan batinnya dulu. Karena sering sekali gadis songong itu menjatuhkan mentalnya. "Emang kesukaan Alessea apa?" kepo Dylan. Nessa yang mendengar pertanyaan dari abangnya, langsung tersenyum sumpringah. Benar bukan, Abangnya itu bukan hanya ingin memiliki kontak Alessea. Melainkan untuk PDKT juga. "Jadi, Kak Sea itu sukanya—" Nessa sengaja menggantung ucapannya. Membuat Dylan jadi geregetan sendiri. "Cepetan, Ness. Ntar gue beliin cemilan besok," Kedua mata Nessa berbinar langsung. Tak akan menyangka kalau dirinya akan mendapat cemilan gratis yang banyak. "Beneran, ya," "Iya.Cepetan kasih tahu apa kesukaan Alessea," Nessa mengangguk cepat. "Jadi, kesukaan Kak Sea itu Park Jimin." Kalian tahu apa yang terjadi dengan Dylan? Cowok itu sekarang ternganga mulutnya karena tak percaya dengan apa yang di ucapkan Nessa. Dirinya seperti merasa di tipu oleh adiknya. "Wahh, lo nipu gue, ya, Nes," tuding Dylan seketika berdiri. Nessa tertawa keras. Bahkan sampai memegangi perutnya. "Dahlah, nyesel gue tanya sama lo." Dylan langsung bangkit untuk keluar dari kamar adiknya. Tak lupa ia berterima kasih pada adiknya. Dylan memasuki kamarnya. Dan membaringkan tubuhnya ke ranjang. Ia membuka aplikasi w******p dan mengetikkan sebuah pesan ke nomor Alessea. "Ntar malam aja deh gue chatnya. Kalau sekarang, tuh cewek gue yakin songongnya bakalan kumat." "Bisa-bisanya gue di kibulin adik gue sendiri," Dylan memejamkan matanya. Mencoba untuk tidur. Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi dirinya. *** Pukul hampir menunjukkan waktu setengah sepuluh malam dan Alessea belum menunjukkan tanda-tanda hendak tidur. Gadis itu baru saja maratonan DraKor Hotel De Luna. Padahal sudah menonton tiga kali, namun tak membuat ia bosen dengan jalan ceritanya. Alessea berjalan menuju sebuah piano yang berada diruang tamunya. Sudah lama ia tak memainkan piano itu. Dirinya memang meminta seseorang untuk menata apartemennya dengan benda kesayangannya. Seperti piano ini. Ia merenggangkan otot jemarinya sebelum jemarinya menari diatas tuts piano. Mulutnya dengan fasih melantuntan sebuah lagu kesukannya yang berjudul Euphoria - Jungkook BTS. Sebuah lagu yang selalu ia nyanyikan ketika merasa bahagia. Entah kenapa, hatinya hari ini seperti berbunga-bunga walau dirinya tak tahu apa penyebabnya. Saking semangatnya bermain piano, Alessea tak sadar kalau pukul hampir menunjukkan sepuluh malam. Ponsel yang ia letakkan diatas piano menyala, sebuah notifikasi masuk. Alessea menghentikan permainan pianonya. Meraih ponsel dan mengeceknya. Kedua alisnya hampir menyatu karena bingung. Chat masuk dari nomor yang tidak dikenalnya. Ia yakin, kalau nomor ini dari Dylan. Alasannya, karena hanya Dylan orang yang dia kenal rese. Dan lagi, tadi siang ia mengasih nomornya ke Nessa-adik Dylan. Terlebih tadi dia dan Nessa langsung chat-chatan. "Woy!" Alessea membaca pesan tersebut dengan kebingungan. Setahunya, orang kalau mau kenalan di chat biasanya ngechat P atau Save. Berbeda dengan Dylan. "Ganggu ketenangan gue aja," geram Alessea kembali memainkan piano. Ia hanya membuka chatnya tanpa berniat membalas. Selang beberapa menit, notifikasi dari nomor yang sama masuk lagi. Kali ini isi chatnya bikin Alessea tergiur. Ia mengangkat satu sudut bibirnya. "Dengan KFC di sini," "Ini orang gabut apa gimana sih. Udah di read doang, masih aja spam chat." Diketiknya balasan chat yang sudah pasti membuat geram di pengirim. Alessea berjalan menuju kamarnya. Dan membaringkan tubuhnya. Lagi-lagi, ia mendapat balasan chat yang bisa dibilang cepat. Baru saja ia menjawab, sudah dibalas saja. "Dasar kang rusuh," Alessea tak membalas lagi. Gadis itu memilih beranjak menuju ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya. Besok ia harus berangkat sekolah lagi. Dirinya tak mau nanti di sekolah merasa mengantuk. *** "Kalian jangan tidur malam-malam. Abang ke kamar dulu," ucap Dylan pada kedua adiknya yang sedang menonton tayangan TV. Ia sudah tak sabar mengirim pesan untuk Alessea. Terlihat sangat bahagia bukan? "Tumben jam segini udah mau tidur, bang. Bentar lagi mulai lho acaranya." Nevan mengganti tayangan TV saat sedang jeda iklan. Biasanya, setiap malam kalau tidak ada PR Dylan akan menonton acara dangdut. Seperti malam ini juga. Nessa tersenyum simpul. "Dia mau chatan sama DOI. Lo nggak peka sih." Nessa memukul bahu kembarannya. Nevan menatap Dylan yang hendak berdiri dari duduknya. "Sama Kak Alessea?" tebak Nevan tak yakin. "Ya kali sama nenek lampir yang itu. Udah pasti sama Kak Sea." Nessa menjawab pertanyaan kembarannya. "Lo masih nyimpan rasa sama si nenek lampir itu, Bang?" Nevan menunggu balasan dari abangnya yang terfokus pada ponselnya. "Masa lalu biarlah masa lalu," jawab Dylan menyanyikan sebuah lirik lagu sambil bergoyang sedikit. "Dangdutan terus," kesal Nessa yang mendapat hadiah berupa lemparan bantal tepat di wajahnya. Jangan ditanya siapa pelakunya. Sudah pasti Dylan. "BUNDA, BANG DYLAN NAKAL!" adunya pada Bunda yang sedang berada di dapur. Mencuci piring bekas makan malam. "DYLANNN JANGAN JAHILIN ADIKMU." Dylan yang mendapat teguran hanya diam. Bisa-bisanya Nessa mengadu pada bunda. Emang tukang ngadu. "Nggak gue beliin cemilan lagi." Dylan langsung berjalan menuju anak tangga. Meninggalkan Nessa dan Nevan. "BODO, MASIH ADA BANG NEVAN!" teriak Nessa seolah tak masalah jika abang pertamanya itu tidak membelikan cemilan untuknya. "Siapa lo?" Nevan beranjak dan lari menuju kamarnya. Ia tak mau kena jambakan dari Nessa. Kini tinggal Nessa seorang yang tengah menyumpah sarapahi kedua abangnya. Dylan melumahkan tubuhnya di ranjang. Tak lupa sebuah benda pipih di pegangnya. Ia menyalakan Wi-Fi yang ada dirumahnya. Dan meluncur ke aplikasi w******p. Saatnya melakukan PDKT dengan gadis songong yang sudah mencuri perhatiannya. Cowok itu berpikir kalimat apa yang pas untuk mengirimkan sebuah pesan pada cewek songong. P? Itu sudah pasaran di kalangan orang. Save? Dylan mengetikan kata itu, namun dihapus lagi. Dylan berpikir, kalau ia mengirim pesan itu, Alessea bakalan melambung hatinya. Akhirnya ia menemukan satu kata yang pantas untuk dikirimkan ke Alessea. Setelah terkirim, ia menunggu balasan dari Alessea. Dan sialnya, pesannya itu hanya di read tanpa dibalas. "Eh buset, bisa-bisanya dia ngeread pesan gue." Dylan menggertakkan giginya. Ia kembali berfikir untuk mengirimkan pesan lagi. Ia teringat kalau Alessea doyan makan. Dylan mengetikkan sebuah kalimat sambil tersenyum. Tak perlu menunggu lama, ia mendapat balasan dari Alessea. Walaupun balasannya bikin kesal, namun seenggaknya dibalas. Daripada diread doang kan? Sakitnya itu sampai ke ginjal kalau kalian ingin tahu. Dengan senang hati, Dylan kembali membalas. Lagi-lagi ia harus menunggu balasan dari Alessea yang bikin ngaret. "Tuh cewek sok sibuk. Harusnya dia bangga karena di chat duluan sama gue yang gantengnya ngalahin Cenyol. Eh, Cenyol siapa lagi?" Dylan bermonolog sambil menunggu balasan Alessea. Setelah di balas oleh gadis itu, dengan gerakan cepat jari-jarinya menari dengan lincah di keyboard. Tapi, pesan terakhirnya hanya di read tanpa dibalas. Alessea tidak tahu gimana rasanya Dylan menunggu balasan darinya. "Bentar, ini kok kesannya gue yang seneng ya, chatnya di balas. Mana dari tadi gue yang cepet balas lagi." Dylan kembali membaca semua chatannya dengan Alessea. Dirinya jadi malu karena baru sadar sejak awal chat, ia yang membalas dengan cepat. Sedangkan Alessea ngaret banget balasnya. "Doraemon, gue butuh kantong ajaib lo buat memutar waktu. s****n, malu banget gue." Dylan melempar ponselnya. Untung ponselnya tidak terjatuh dari ranjang. Dylan mengubah posisi tidurnya. Ia menutupi kepalanya dengan bantal. Menutupi rasa malunya. "Tenang, Dy. Cuman Alessea doang. Bukan Bae Irene."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD