Pagi ini, Alessea sudah siap berangkat ke sekolah. Ia berharap hari ke-dua sekolahnya tidak seperti kemarin. Alessea pikir, hari pertama sekolahnya akan seperti di cerita yang sering dibacanya.
Terlambat karena bangun kesiangan. Sedangkan Alessea hampir terlambat karena berangkat dengan berlari dari apartementnya dan dirinya yang kesusahan mencari dasi.
Lalu, akan bertabrakan dengan Ketua OSIS yang tampan, namun dingin. Alessea sih bukan bertabrakan. Tapi ditemani berkeliling sekolah oleh Ketua OSIS. Tapi Alvaro tidak dingin, melainkan menjengkelkan. Itu kesan pertama bagi Alessea untuk Alvaro.
Alessea menaiki motornya, namun ternyata ban motornya bocor. Alessea berjongkok untuk mengecek ban dan ternyata ia menemukan sebuah paku yang menancap indah di bannya. Gadis itu berdecak.
Dengan kesal, Alessea menendang ban motor barunya. Lalu mengaduh kesakitan.
"s**l, bisa-bisa gue telat lagi kalau gini."
"Lo juga, kenapa bisa kena paku sih. Bikin mood pagi gue rusak aja," lanjutnya memaki motor miliknya. Padahal motor baru, kenapa sudah tertancap paku saja bannya.
"Gue berangkat naik apa dong? Masa harus lari lagi sih." Alessea mengusap wajahnya frustasi.
Dengan langkah lesu di Pagi hari, Alessea berjalan kaki menuju jalanan. Berharap ada sebuah angkot yang lewat. Dengan terpaksa, Alessea naik angkutan umum. Ini merupakan pertama kalinya ia menaiki angkutan umum dalam hidupnya.
Alessea selalu diantar saat hendak berpergian. Tak di perbolehkan keluar rumah tanpa di temani oleh orang suruhan keluarganya. Hidupnya benar-benar terkurung saat di rumah.
Sebuah angkot berhenti di depannya. Alessea masuk tanpa bertanya kemana tujuan angkot itu.
Hampir lima belas menit ia menaiki angkot, namun belum sampai ke sekolahnya. Jika di bandingkan dengan ia lari kemaren, harusnya itu lebih cepat di bandingkan menaiki angkot.
Pasti ada yang salah!
"Pak, kok belum sampai di SMA Bintang?" Alessea bertanya pada supir angkot. Dan jawaban supir angkot itu membuat Alessea kaget.
"Ini bukan ke arah SMA Bintang, neng."
Saat itu juga, ia turun dari angkot. Tak lupa membayar.
"s**l banget sih!"
Alessea berjalan sendirian sambil menggerutu. Bahkan ia menendang sebuah botol bekas yang menghalangi jalannya. Beruntung tidak ada yang terkena botol dari tendangannya. Bisa-bisanya dirinya akan terkena amukan kalau mengenai orang.
Alessea terlonjak saat sebuah klakson motor terdengar jelas di telinganya. Ia langsung menoleh ke samping dan menemukan seorang yang mengenakan helm.
Dia melepas helmnya yang ternyata adalah Dylan.
"Lo ngapain disini? Bukannya ini bukan arah ke sekolah?" heran Dylan.
"Menurut lo?" Sebal Alessea. Moodnya benar-benar rusak pagi ini.
Dylan tersenyum simpul. "Buruan naik, ntar telat."
Alessea menatap tak percaya. Haruskah ia menerima tawaran berangkat bareng Dylan? Tapi ia masih malu dengan kejadian semalam. Dan sekarang pemuda itu menawari berangkat bersama ke sekolah.
Dylan terkekeh melihat Alessea yang menunduk. "Lo masih malu karena semalam?" tanya Dylan seakan tahu isi pikiran Alessea.
Gadis itu langsung mendongak. "Nggak usah di ingetin ya! Bikin gue makin malu aja."
Bukannya naik ke motor Dylan, ia memilih berjalan menjauh dari Dylan. Ingin sekali menerima tawarannya. Siapa yang menolak di beri tumpangan gratis sama teman?
Dylan menjalankan motornya pelan. Sejajar dengan langkah Alessea. "Yakin nggak mau bonceng gue? Lo bisa telat ke sekolah. Gerbang ditutup sepuluh menit lagi."
Alessea menarik napas panjang. Mencoba untuk melawan rasa malunya. Ia tak mau di hukum karena terlambat sekolah. Kalau itu terjadi, ia harus menerima sanksi dari Daddynya.
"Kalau lo masih diam, gue tinggal juga nih." Dylan menjalankan motornya sedikit lebih cepat.
"Gue ikut!"
Alessea berlari menuju motor Dylan yang berhenti dua meter dari jaraknya. "Gratis kan tumpangannya?"
Dylan terkekeh. "Kali ini gue ikhlas tanpa menerima imbalan."
"Pakai dulu helmnya." Alessea menerima helm dan mencoba membuka pengait helmnya. Sayangnya sangat susah. Dylan yang melihat Alessea kesusahan membuka pengait helmnya, mengambil alih dan langsung memakaikannya.
"Gini aja nggak bisa." Dylan mencubit hidung Alessea, membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.
"s****n lo."
"Udah belum?" tanya Dylan menunggu Alessea naik ke motornya.
"Udah, jalan!" seru Alessea sambil memukul bahu kanan Dylan.
"Peluk dulu. Ntar lo jatuh," pinta Dylan dengan suara keras agar Alessea mendengar.
Alessea memukul bahu Dylan keras. "Modus lo. Buruan jalan, ntar telat."
Dylan menyalakan motornya. Cowok itu langsung tancap gas tanpa memberitahu Alessea dahulu. Akibatnya Alessea hampir terjatuh. Reflek, Alessea memeluk erat Dylan karena merasa takut.
Dalam hatinya, Alessea mengutuk Dylan karena sudah membuat jantungnya berdegup cepat.
Tak sampai sepuluh menit, mereka berdua sudah sampai di sekolah. Dylan memarkirkan motornya. Alessea turun langsung berkacak pinggang.
"Lo sengaja ngebut ya?!" semburnya.
Dylan tak membalas ucapan Alessea. Ia malahan mendekat dan melepaskan helm yang dikenakan gadis itu.
"Tapi lo nyaman kan meluk gue." Dylan menaik-turunkan alisnya sambil tersenyum manis. Untuk beberapa detik, Alessea terpana akan senyum manis Dylan.
Tanpa membalas, Alessea menginjak kaki Dylan sebagai pelampiasan kekesalannya sekaligus menutupi rona merah di pipinya. Dan pergi meninggalkan Dylan yang meringis kesakitan.
Dylan langsung berlari menyusul Alessea. Menjajarkan langkahnya. Banyak pasang mata yang menatap mereka berdua. Padahal bel masuk sudah berbunyi, namun masih banyak murid yang berkeliaran di koridor.
Alessea tidak suka tatapan itu! Tatapan sinis dan tak suka yang ditujukan untuk dirinya. Tapi ia mencoba untuk biasa saja. Walau dalam hatinya ingin berkata kasar. Ia menahan sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan nyinyirannya.
"Lo ngapain sih harus dekat-dekat gue!" Alessea yakin, sumber tatapan sinis itu dari dirinya yang berangkat bersama Dylan. Kalau tahu akan seperti ini, Alessea lebih memilih tidak menerima tawaran Dylan dan pulang ke apartemennya.
Bukannya tak tahu berterimakasih. Tapi, Alessea kesal dengan tatapan para murid yang tak suka karena dirinya dekat dengan Dylan.
"Kelas kita sama, Se," balas Dylan.
"Tapi kan nggak harus sejajar. Pelanin dikit kek jalan lo!" marah Alessea. Gadis itu sudah tak tahan lagi dengan tatapan murid-murid di sekolahnya.
Dylan merasa aneh dengan nada bicara Alessea. Seakan Alessea tidak suka ada ia didekatnya. Lihat saja, Alessea berjalan dengan cepat. Menjaga jarak dengannya. Padahal tadi dan kemaren tidak seperti ini.
Ia baru sadar, ternyata banyak murid yang menatap tak suka pada Alessea. Dengan langkah cepat, Dylan menyusul Alessea.
Alessea melemparkan tasnya ke meja. April yang sedang membaca novel terkejut bukan main.
"Lo kenapa, Se?" tanyanya yang melihat raut marah Alessea.
"Gue nggak suka tatapan itu!"
April tidak paham dengan maksud ucapan Alessea. Tapi, cara penyampaian Alessea yang penuh dengan penekanan, April jadi paham. Bahwa teman sebangkunya itu sedang menahan amarahnya.
Sedangkan Dylan yang juga mendengar ucapan Alessea, jadi bingung sendiri. Tak mengerti maksud kalimat yang terlontar dari Alessea. Hanya karena tatapan beberapa murid yang ditujukan padanya, gadis itu bisa semarah ini.
***
Alessea dan April kebingungan karena tidak mendapat tempat untuk makan dikantin. Tak seperti biasanya kantin penuh seperti sekarang. Biasanya banyak murid yang memilih membawa makanan yang telah dibeli ke kelasnya.
"Mau ke kantin bawah?" tanya April menawarkan.
SMA Bintang memang memiliki dua kantin. Kantin di lantai dua yang sering dikunjungi. Dan kantin di lantai dasar dengan konsep outdoor, kebanyakan penghuninya adalah kelas satu.
"Keburu dingin baksonya, Pril. Gue juga males turun kebawah. Ke kantin sini aja gue rada males, apalagi kantin bawah." April hanya menganggukkan kepalanya.
Alessea mengedarkan pandangannya. Tapi tak menemukan meja yang kosong. Atau seenggaknya bangku yang muat untuk dirinya dan April.
Hanya ada satu, yaitu meja Dylan dan teman-temannya yang berada paling pojok.
Saat memutuskan untuk membalikkan tubuh karena malas bertemu Dylan dan para kurcacinya, tiba-tiba seseorang memanggil namanya yang sudah pasti itu suara Dylan.
"Sea!"
Alessea menghela napas pasrah dan menoleh ke sumber suara. Begitu juga dengan April yang reflek menoleh ke samping kanan mereka. Mungkin bukan mereka saja. Banyak penghuni kantin yang juga menoleh kesumber suara. Pasalnya Dylan memanggilnya dengan suara keras.
"Dylan manggil lo. Samperin yuk."
Dengan langkah malasnya, Alessea membututi April menuju meja Dylan.
"Gabung sini aja." Dylan menawari Alessea dan April.
"Gimana, Se?" April meminta persetujuan Alessea.
"Sebenarnya males banget gue ketemu lo semua. Tapi dari pada bakso gue dingin, yaudah makan disini aja," balas Alessea dengan santainya.
Alessea duduk tepat di samping Dylan. Sedangkan April duduk di depannya yang bersebelahan dengan Alvaro.
"Ada gitu ya, cewek modelan kayak Sea," gumam Arlan yang masih terdengar di telinga Alessea.
"Bukannya di sekolah ini udah ada ya? Kalau gue perhatiin, gebetannya Alvaro sifatnya mirip sama Sea," ungkap Rolan yang mendapat tampolan dari Alvaro langsung.
"Gebetan Alvaro yang mana lagi?" tanya Dylan yang belum terkoneksi.
"Emang Alvaro punya gebetan berapa?" mendengar Alessea yang bersuara, mereka semua langsung menatapnya.
"Kenapa? Gue cantik ya?" mereka semua berpura-pura mual saat mendengar ucapan Alessea yang tidak sesuai percakapan mereka.
"Kan, gue bilang apa. Alessea sama gebetannya Alvaro mirip banget sifatnya." Rolan menganggukkan kepalanya terus saat yakin akan ucapannya.
"Gue nggak punya gebetan ya. Ngaco lo," sarkas Alvaro yang tak terima.
"Jadi, Bulan lo anggap apa kalau bukan gebetan?"
"Uhuk uhuk"
Baik Alvaro dan Dylan, keduanya tersedak makanan mereka setelah mendengar nama Bulan keluar dari mulut Arlan.
"Lo kenapa ikutan batuk, Dy?" tanya April yang bingung sambil menyeruput minumannya.
"Jangan bilang lo juga ada rasa sama Bulan. Wah, jangan gitu dong, Dy. Main tikung gebetan sahabat lo sendiri. Masih ada Sea yang sifatnya mirip sama Bulan kok," cerocos Rolan yang langsung mendapat jitakan dari Alessea.
"Nggak sudi ya gue dijodoh-jodohin sama Dylan. Kalau dijodohin sama Seokjin baru gue terima." Kali ini, Alessea yang mendapat jitakan dua sekaligus. Dari Rolan dan juga Dylan.
"s****n lo berdua," umpat Alessea.
Alessea semakin kesal, karena sejak dirinya duduk bersama gerombolan Dylan, banyak pasang mata yang menatapnya sinis. Jujur saja, Alessea rasanya ingin menangis sekaligus memaki. Ia bukan cengeng. Tapi, hanya saja selama hidupnya, ia tak pernah ditatap sinis oleh banyak orang.
"Lo kenapa, Se? Lagi nahan kentut?" canda Rolan yang semakin membuat kesal Alessea.
"Mereka kenapa natap sinis ke gue?" bukannya menjawab Rolan, Alessea melemparkan pertanyaan yang sejak tadi di pendam.
Mereka semua langsung menatap seisi kantin yang ternyata memang menatap tak suka ke arah Alessea atupun April.
"Ini yang awalnya gue ragu mau gabung ke kalian. Mereka pada nggak suka," sedih April yang juga merasakan tatapan tak suka.
"Biarin aja, mereka iri sama kalian berdua yang bisa makan semeja dengan kita," kata Dylan sombong.
"Lah, kenapa harus iri? Emang makan makan semeja dengan kalian dapat hadiah apa?" ujar Alessea polos. Membuat Dylan gemas sendiri.
"Harusnya mereka nggak perlu iri. Baru kalau gue kencan sama Seokjin, mereka boleh iri," lanjutnya dengan pede.
April menyetujui ucapan Alessea barusan. Sedangkan para cowok menahan diri untuk tidak menampol Alessea yang kelewat halu.
"Gue nggak denger, gue lagi makan," kata Arlan yang mengundang tawa.
"Sirik lo semua!"
***
Alessea berdiri di samping gerbang sekolah. Dirinya bingung mau pulang naik apa. Tadi ia berangkat bareng Dylan. Rasanya ia males kalau pulang bareng Dylan juga. Apalagi Dylan ngebut kayak setan.
Sebuah motor berhenti di sebelah Alessea. Motor itu milik Dylan. Alessea kenal jelas.
"Gue antar pulangnya," kata Dylan langsung ke intinya.
Alessea jadi bingung. Di lain sisi ia ingin menolak. Namun disisi lain, ia tidak mau mengeluarkan uang lagi buat naik angkot. Apalagi takut salah jurusan. Kalau jalan kaki, Alessea udah terlalu lelah.
"Nggak ngebut kayak tadi kan?" Alessea memastikan terlebih dahulu.
Dylan menggeleng. "Buruan naik"
Alessea akhirnya menaiki motor Dylan. Ia tak memeluk Dylan lagi, melainkan memegangi bahunya. Dylan tertawa pelan melihat tingkah lucu Alessea.
"Kenapa nggak peluk sekalian?"
"Modus lo. Buruan jalan!" titah Alessea sambil menabok pundak Dylan.
"Peluk dulu. Berasa jadi kang ojol kalau gini."
"Dasar kang modus. Buruan jalan!"
Dylan hanya diam. Lalu menjalankan motornya. Tak secepat tadi pagi. Ia lebih memilih mengendarai dengan kecepatan sedang agar bisa lebih berlama-lama dengan Alessea.
Alessea menepuk bahu Dylan, saat Dylan tetap berjalan melewati kawasan apartementnya.
"Kelewat, Dy" teriak Alessea agar Dylan mendengar.
"Kerumah gue sebentar. Gue udah ditunggu Bunda," alibi Dylan. Padahal mah cuman mau ngajak Alessea main.
"Jangan lama-lama tapi." Alessea sedikit tidak yakin. Pasalnya ini pertama kalinya ia bermain ke rumah cowok yang bukan keluarganya.
Tak lama kemudian, Dylan memasuki perkarangan rumahnya. Alessea dibuat takjub dengan halaman rumah Dylan. Ada sebuah taman dengan kolam ikan beserta air terjun buatan. Banyak tanaman bunga yang tumbuh cantik.
"Ayo masuk."
Alessea mengikuti Dylan. Lagi-lagi ia dibikin takjub dengan seisi rumah Dylan yang sederhana, namun terkesan mewah. Banyak sekali foto keluarga yang terpajang didinding. Mulai dari ukuran besar, sedang sampai kecil. Dan itu membuat dirinya sedih hanya karena sebuah foto keluarga.
"Dylan pulang, Bun!" teriak Dylan menggelegar seisi rumah.
Alessea yang berada di belakangnya sampai reflek menutup telinganya.Dari arah dapur datang seorang wanita paruh baya yang masih mengenakan celemek.
"Kebiasaan Abang deh kalau pulang teriak-teriak."
Karina menatap ke arah Alessea sambil tersenyum jail. "Ini siapa? Pacaranya Dylan ya?"
Alessea menggeleng cepat. Sedangkan Dylan malah menjawab sebaliknya.
"Otw, Bun." Mendengar jawaban Dylan, Alessea langsung mencubit pinggang pemuda itu.
Karina-bunda Dylan menggelengkan kepala melihat tingkah dua anak remaja ini.
Alessea menyalami punggung tangan Karina. Dan mengenalkan dirinya. "Sea, tante,"
Karina tersenyum. "Panggil Bunda aja, temen-temen Dylan juga gitu." Alessea tersenyum kikuk.
"Bunda lanjut masak dulu ya. Dylan, buatin Sea minum." Karina kembali pergi ke dapur. Dylan menyuruh Alessea untuk duduk sambil menunggu dirinya membuatkan minuman.
"Pacarnya Bang Dylan ya?"
Tiba-tiba seorang gadis datang dan langsung di samping Alessea.
"Bukan, temennya."
Nessa menatap curiga. Dan itu membuat Alessea sedikit risih.
"Masa sih bukan pacaranya? Bang Dylan baru pertama kalinya bawa temen cewek ke rumah."
Alessea berpikir, itu artinya dirinyalah yang pertama diajak main kerumah Dylan? Alessea hanya bisa tersenyum.
Nessa yang tak sengaja melihat casing ponsel Alessea yang bergambar BTS, langsung memekik kegirangan.
"Kakak ARMY juga?"
Alessea bingung menjawab apa. Karena gadis di depannya spontan memekik membuat Alessea terkejut.
Nessa mendekatkan dirinya ke Alessea. "Bias kakak siapa? Gue Taehyung."
"Bias gue Park Jimin."
"Omoo, akhirnya gue punya temen ARMY juga!" seru Nessa kegirangan.
Dylan datang membawa nampan berisi minuman untuk ia dan Alessea. Dirinya bingung dengan Nessa yang kegirangan. Adiknya ini memang malu-maluin.
Dylan duduk di sofa yang lain. "Lo kenapa Nes?"
"Abang kok nggak bilang sih kalau punya temen ARMY juga,"
Alessea bingung sendiri berada dalam tengah-tengah kedua adik-kakak itu. Ia hanya menjadi penyimak dengan kecantikan yang paripurna.
"Mana Abang tahu kalau Sea itu ARMY," balas Dylan seadanya.
Nessa kembali menatap Alessea dengan senyum sumpringahnya. "Salam kenal ya Kak Sea. Gue Nessa, istrinya Kim Taehyung." Nessa mengulurkan tangannya.
"Salam kenal juga ya, dari kesayangannya Jimin." Alessea terkikik geli.
Dylan melempari kacang kulit ke Nessa dan Alessea. "Halu lo berdua!"
"Kak Sea jadi ARMY sejak kapan?" tanya Nessa semakin bersemangat. Tak memperdulikan Dylan yang menggerutu.
"Sejak awal mereka debut." Nessa membelalakkan mata karena tak percaya.
"Gue baru dua tahun jadi ARMY. Jadi nyesel ngefansnya nggak dari awal debut."
Harusnya sekarang Dylan yang sedang mengobrol dengan Alessea. Tapi malah kebalikannya. Adiknya malah merebut Alessea dari dirinya. Akibatnya Dylan hanya duduk diam sambil memakan kacang kulit.
"Nggak masalah kok kalau nggak dukung mereka dari awal. Asalkan tetap mendukung mereka sampai akhir."
Nessa takjub dengan Alessea. Ia senang sekali akhirnya bisa menemukan orang yang satu fandom dengan pikiran dewasanya.
Teman-temannya yang suka Kpop selain halu, ya kerjaannya war. Nessa sampai heran sendiri. Apa bagusnya war sama fandom lain coba? Biar dibilang keren? Yang ada fandom kita dicap jelek kan? Nggak ada faedahnya juga kalau war.
Yang Nessa tahu, setiap idol kpop memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Memiliki masa tersulit saat pertama kali debut.
"Se, jadi pulang nggak?"
Dylan tidak tahan lagi. Sejak tadi keberadaannya tidak dianggap oleh dua cewek di depannya. Padahal sejak tadi dirinya sudah mengkode dengan berdeham terus. Tapi tidak ada yang peka.
"Gue pikir lo dari nggak disitu, Dy."
Kan, apa yang Dylan pikirkan. Keberadaannya memang tak kasat mata bagi dua cewek tersebut.
"Gue mah apa atuh, cuman nyamuk bagi lo berdua."
Alessea dan Nessa terkekeh mendengar ucapan Dylan yang lebay.
"Jadi pulang nggak?" Alessea mengangguk dan berdiri.
"Yah kak, pulangnya nanti aja."
Nessa melarang Alessea untuk pulang. Nessa sudah nyaman dengan Alessea sejak pertama kali mengobrol bersama. Ia seperti memiliki kakak perempuan yang selalu ia impikan. Dan ia bisa merasakannya sekarang.
"Kapan-kapan gue main lagi deh. Ntar kita ngefangirl bareng lagi."
Nessa bersorak senang. Alessea bahkan lebih menyenangkan dibandingkan abangnya sendiri.
"Beneran ya kak!"
Alessea mengangguk. "Ini nomor ponsel gue, lo bisa hubungi gue buat ngobrol soal kpop atau curhat." Dengan senang hati, Nessa menyalin nomor ponsel Alessea.
Dylan yang menyaksikan tak percaya. Dengan mudah adiknya bisa mendapatkan nomor ponsel Alessea. Sedangkan dirinya, untuk mengobrol saja harus berpikir dua kali karena kesongongannya.
Alessea pamit ke Karina untuk pulang. Karina memberikan bungkusan kue yang dibuatnya tadi. Dengan senang hati Alessea menerima. Dylan meminjamkan helmnya. Sebelum menjalankan motornya, ia sempat menggoda Alessea hingga cewek itu bersemu malu.
"Adik sama bunda gue kayaknya suka sama lo. Gue yakin mereka mau lo jadi pasangan gue."
Alessea tidak menjawab. Ia hanya diam. Entah bagaiamana bisa dirinya bersemu malu hanya di goda Dylan demikian.