Pepatah bilang, kalau kita bertemu dengan orang baru tiga kali dalam sehari, berarti berjodoh. - Dylan Bhagaskara Mattew
***
Setelah sampai di apartement, Alessea tak langsung mandi. Gadis itu memilih untuk memakan lagi dua bungkus bakso tadi. Alessea tidak mau baksonya keburu dingin. Lagi pula, ia belum kenyang.
Aish, seberapa besar perutnya. Sehingga makan tiga mangkuk bakso di bilang belum kenyang. Benar seperti yang di ucapkan Dylan. Dirinya seperti tidak makan selama sebulan penuh.
Saat sedang makan bakso, pikiran Alessea melayang ke momen tadi. Saat dirinya di gendong oleh Dylan yang notabenya baru ia kenal kemaren. Tapi dirinya bisa sedekat itu, bak seorang kekasih. Tiba-tiba saja tubuhnya bergidik aneh.
"Amit-amit dah punya cowok kayak dia. Mending sama Seokjin ketimbang sama dia," ucapnya pada dirinya sendiri sambil mengunyah bakso.
Alessea menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Mending lanjut makan daripada mikirin makhluk aneh kek Dylan."
Ponsel Alessea berbunyi menandakan panggilan masuk. Ia melihat nama Anak Dugong tertera dilayar ponselnya. Keningnya berkerut menandakan dirinya sedang heran.
Tumben, dia menghubungi dulu.
"Aeda aiepa?" tanya Alessea sambil mengunyah baksonya.
"Telen dulu tuh makanan." Alessea hanya menuruti.
"Ada apa? Tumben lo nelfon dulu," tanya Alessea dengan nada tak santai.
"Lo lagi ngapain?" tanya orang disebarang sana yang membuat Alessea bingung.
Alessea memutar bola matanya. "Heh, lo tadi nyuruh gue nelen makanannya. Tapi, sekarang lo malah tanya gue lagi ngapain? Aneh lo,"
Orang itu tertawa. Benar juga yang di bilang oleh Alessea. Ah, sudahlah. Ia hanya ingin berbasa-basi saja.
Tetapi berbeda dengan Alessea. Yang Alessea kenal, dia tak akan berbasa-basi saat menelfon seseorang. Dia terlalu sibuk untuk hanya menanyai 'sedang apa'.
kebetulan dia menelfon Alessea dulu, jadi gadis itu tak perlu repot-repot menelfonya untuk menanyakan suatu hal. Tadi, waktu pulang dari makan bakso, ia kedatangan seorang yang mengantarkan sebuah motor sport merah. Dan Alessea yakin itu dari dia.
"Woy, lo yang udah ngirim motor buat gue, ya?" Tanya Alessea sedikit berteriak.
"Iya, biar lo kalau berangkat nggak lari. Udah kayak dikejar debt kolektor aja." Dia tertawa mengejek Alessea yang dengan polosnya berlari saat berangkat ke sekolah barunya. Iya kalau sekolahnya berada disamping apartement.
"s****n lo. Tapi, thanks ya. Lo peka juga." Alessea bangkit dan membawa mangkuk bekas baksonya untuk dicuci. Akhirnya ia sanggup menghabiskan dua mangkuk bakso lagi.
"Gue mah peka terus. Nggak kayak lo." sindir dia mengejek Alessea.
"Gue peka ya, buktinya gue tahu kalau si Jimin butuh belaian gue." Alessea berjalan menuju kamarnya setelah selesai mencuci mangkuk.
"Hahahaha-lu lo. Gue mau makan dulu, bye!"
Panggilan langsung terputus secara sepihak. Lagi-lagi Alessea tak di berikan kesempatan untuk membalas ucapannya sebelum panggilan terputus.
Alessea menatap ponselnya. Dia menelfon dirinya hanya untuk berbasa-basi? Aneh. Kemudian meletakkan diatas nakar.
"Gue mau mandi apa nggak ya?" tanya Alessea bermonolog sendiri.
"Kalaupun nggak mandi, gue tetep cantik. Tapi, mandi ajalah, biar si Jimin makin nempel." Alessea berjalan sambil bersenandung menuju kamar mandi.
***
Malam ini, Dylan pergi ke minimarket yang tak jauh dari taman. Hanya untuk membelikan cemilan Nessa. Dylan heran, padahal beru kemaren ia membelikan Nessa lima jenis cemilan. Tapi dalam sehari sudah habis dimakan.
Dan lagi, adiknya itu bisa tahan satu hari tanpa keluar kamar. Kecuali saat makan dan pergi mandi. Adiknya itu sangat penggila drama korea. Hobinya maraton nonton oppa-oppa korea.
Tak puas hanya menonton drama korea saja, gadis yang duduk dibangku kelas sembilan itu juga mengidolakan boyband yang sedang naik daun sekarang. BTS.
Selalu saja mengaku sebagai istrinya Taehyung, adiknya Jin dan Jhope, jodohnya Jimin, pacarnya Jungkook, selingkuhannya Namjoon, dan mantannya Suga. Dasar fangirl.
Saat Dylan hendak mengambil cemilan yang terbuat dari kentang, tiba-tiba sebuah tangan juga hendak mengambilnya. Spontan, Dylan memperhatikan tangan itu.
Dylan perlahan-lahan menelusuri pandangan siapa pemilik tangan itu. Matanya terbelalak ketika mendapati siapa pemilik tangan itu.
Begitu juga si pemilik tangan.
"Lo lagi lo lagi. Heran gue, nggak di sekolah, di taman, dan sekarang di minimarket, temunya lo mulu," sarkas Alessea yang ternyata pemilik tangan itu.
Alessea datang ke minimarket dengan stelan kaus hitam lengan pendek dan di temani sebuah headphone yang menggantung dilehernya.
"Udah tiga kali dong? Kayak resep dokter." Dylan terkekeh sendiri. Alessea menatap kesal Dylan. Untungnya minimarket dalam keadaan sepi. Kalau rame, pasti pada natap dirinya gila.
Mata Dylan melihat dengan teliti headphone yang di kenakan oleh Alessea. Terlihat elegan dengan warna putih mengkilap, namun ia tahu merk headphone itu. Seingatnya adalah Onkyo H900M.
Tunggu, Onkyo H900M? Yang benar saja!
Ia tahu berapa mahalnya untuk harga satu headphone merk tersebut. Bahkan dirinya belum sanggup untuk membelinya. Pasalnya headphone itu di banderol dengan harga 1,4 miliar!
Kalau dugaan Dylan benar soal merk headphone milik Alessea, berarti gadis itu berasal dari keluarga yang tak bisa di pandang sebelah mata. Dirinya semakin penasaran tentang sosok Alessea yang sudah mencuri perhatiannya sejak awal bertemu.
Dylan menyusul Alessea yang telah pergi. Ia ingin menanyakan soal headphone yang dikenakannya. Apakah ori atau tiruan.
Tetap saja, walaupun Dylan penasaran tingkat akut, ia tak berani bertanya sekarang. Takut gadis di depannya terganggu dengan privasinya. Dan sepulang dari minimarket, ia akan mencari tahu tentang headphone Alessea.
Dylan mensejajarkan langkahnya dengan Alessea. Menaruh belanjaannya bareng dengan milik gadis itu dimeja kasir. Membuat Alessea menoleh ke sampingnya.
"Ada pepatah bilang, kalau kita ketemu orang yang baru dikenal sampai tiga kali, itu artinya jodoh," ucap Dylan sambil tersenyum manis.
Alessea menatap Dylan dengan tatapan kesal. "Ngarep lo!"
Selesai membayar, Alessea langsung pergi. Tak lupa mengenakan headphone, lalu mengendarai motornya. Lagi-lagi, Dylan dibuat melongo melihat Alessea yang mengendarai motor sport.
"Berapa mbak?" tanya Dylan pada kasir.
"Rp. 176.000 mas."
Dylan yang belum merasa aneh, mengeluarkan dompetnya. Seketika ia melihat ke arah kasir dan memastikannya. Pasalnya ia hanya membeli jajan buat adiknya. Tidak mungkin bisa sampai seratus ribu ke atas.
Setelah melihat bungkusan belanjaannya, ia sadar kalau ternyata belanjaannya tertukar dengan milik Alessea. Segera Dylan membayar dan berlari menuju parkiran. Berharap Alessea belum jauh dari pandangannya. Ia harus menukar belanjaannya yang tertukar. Sekalian modus main ke rumahnya.
Alessea tak sadar kalau dirinya sedang diikuti Dylan. Mungkin karena Alessea terlalu fokus mendengarkan musik dari headphone.
Dylan terkejut bukan main. Bagaimana tidak, Alessea ternyata tinggal bukan di sebuah rumah. Melainkan sebuah apartement. Terlebih lagi, ini adalah kawasan apartement elit. Dan lagi, sahabatnya adalah salah satu penghuni apartement ini.
Cowok itu memasuki perkarangan apartement dan mengikuti Alessea dari belakang. Lagi dan lagi, pemuda itu di kejutkan dengan fakta terbaru. Alessea tinggal tepat sebelah apartement sahabatnya.
Kebetulan macam apa ini?
Kenapa banyak kejutan yang dia dapat malam ini?
Setelah Alessea masuk, tak lama Dylan menekan bel pintu apartement Alessea. Pandangannya terfokus pada pintu yang tertutup rapat di sisi kanan pintu apartement Alessea.
Alessea keluar. Matanya membulat sempurna saat melihat sosok Dylan berdiri tegap di depan apartementnya.
"Lo ngikutin gue, ya?!" Alessea berkacak pinggang.
Dylan mengangguk kikuk. "Belanjaan lo ketuker sama belanjaan gue."
Alessea langsung melihat plastik belanjaannya yang ternyata memang tertukar.
"Siniin belanjaan gue," paksa Alessea sedikit malu. Pasalnya ada barang spesial dalam belanjaannya.
Dylan terkekeh melihat tingkah malu Alessea. "Jawab pertanyaan gue dulu."
"Lo hobi banget bikin gue kesal. Apa?! Cepetan!" geram Alessea berkacak pinggang.
"Lo, kenal nggak sama penghuni apartement di samping lo?" Dylan menujuk apartement milik sahabatnya. Siapa tahu Alessea penghuni lama disini. Ah, lebih tepatnya, sudah tinggal lama di apartemen ini.
Alessea menoleh lalu mengendikkan bahunya. "Peduli apa gue."
"Cepetan siniin belanjaan gue," sambung Alessea.
"Iya-iya, apa karena ini?" tanpa rasa malu, Dylan mengeluarkan sebuah pembalut yang dibeli Alessea.
Seketika raut wajah Alessea merah padam. Dengan kecepatan kilat, Alessea merebut belanjaannya lalu melemparkan belanjaan Dylan yang masih di pegangnya. Setelah itu menutup pintu apartementnya.
Sebelum pintu tertutup rapat, Dylan mendengar teriakan Alessea yang mengumpat dirinya.
"MATI AJA LO DYLAN!!"
Tawa Dylan pecah seketika mendengar u*****n Alessea untuk dirinya. Dylan menggelengkan kepalanya karena tingkah Alessea. Kemudian melangkah pergi. Namun, ia berhenti sejenak tepat di depan apartement sahabatnya.
menatap lama pintu apartemen di depannya. Sudah hampir tiga hari tak berpenghuni. Mata Dylan beralih ke apartemen Alessea. Jika dipikir secara logis, ada yang mengganjal dengan hal ini.
Dihari pertama dirinya bertemu dengan Alessea, adalah hari yang sama sahabatnya itu pergi ke luar negeri untuk bisnisnya. Tempat tinggal yang saling bersebelahan, membuat Dylan jadi penasaran.
Apakah ada sesuatu hal besar yang tersembunyi di sini?
Pemuda itu mengacak-acak rambutnya. Frustasi dengan pikiran logis barusan. Entah hanya sebuah kebetulan atau memang ada yang menggganjal.
"Lo kapan balik sih, Lix?"
***
Sejak kejadian memalukan tadi, Alessea tak berhenti mengumpati Dylan. Berbagai k********r keluar dari mulutnya. Tingkahnya juga menjadi aneh. Alessea menghentak-hentakkan kakinya sambil marah.
"Sumpah, gue malu bangettt!!"
Alessea membaringkan tubuhnya. Ia berguling-guling di atas ranjangnya sambil memukuli guling. Melampiaskan emosinya pada Dylan. Membayangkan bahwa guling tersebut adalah Dylan.
"Besok gue nggak berangkat aja kali ya. Mana satu kelas sama dia lagi," rengek Alessea memukuli gulingnya.
Alessea mengubah posisinya menjadi duduk di tengah ranjang. Kedua kakinya di lipat sambil memeluk guling. Ia mengambil ponselnya, kemudian menghubungi sahabatnya.
"Cikaaaa gue malu banget sumpah!" sembur Alessea langsung saat panggilannya tersambung.
Jesica atau yang kerap dipanggil Cika, bingung dengan Alessea. "Bentar, lo malu kenapa? Nggak ngerti gue."
Alessea menceritakan kejadiannya sejak awal di mana dirinya tak sengaja bertemu Dylan di minimarket, lalu kesalahan mengambil belanjaan yang berujung memalukan.
Jesica yang mendengar cerita sahabatnya, tertawa kencang. Membuat Alessea semakin malu dan kesal secara bersamaan. Mungkin kalau Jesica berada di depannya, sudah kena tabokan maut dari dirinya. Sayangnya mereka terhalang jarak.
"Asli, kalau gue jadi lo, gue udah pengen pindah ke Pluto," komentar Jesica sehabis mendengar cerita Alessea.
"Apa gue telfon Jimin aja ya suruh jemput gue?" tanya Alessea yang kelewat halunya.
Jesica yang berada diseberang sana mengernyitkan dahinya. Tak paham dengan ucapan sahabatnya.
"Halu lo. Jimin mana mau sama butiran debu," sarkas Jessica membuat kedua mata Alessea melotot.
Alessea membaringkan tubuhnya. "Rese lo, gue yang cantiknya ngalahin Lee Ji-eun di bilang butiran debu,"
"Se, halu lo udah memasuki stadium akhir. Gue khawatir sama kondisi kejiwaan lo," balas Jessica yang kelewat pedasnya.
Lahi-lagi Alessea membulatkan matanya. Secara tidak langsung Jesica mendoakan bahwa dirinya bisa gila. Sahabat macam apa Jessica ini! Ingin sekali mencabik-cabik wajah Jessica.
"s****n lo, gue aduin ke Papa Bear baru tahu rasa lo," ancam Alessea.
"Nggak dengar, gue pakai kacamata," balas Jesica yang semakin membuat Alessea kesal.
Alessea kembali teringat pada topik awal. Membahas soal kejadian memalukan yang tak pernah terjadi sepanjang sejarah hidupnya.
"Cik, gue besok gimana?" Jesica yang berada di seberang sana mengernyit.
"Ya serah lo, gue mau tidur sama Taehyung dulu. Bye!" Kata Jessica mengakhiri panggilannya.
Belum sempat Alessea mencaci maki Jesica yang juga tak kalah halunya, Jesica sudah memutuskan panggilannya.
Jadi, siapa yang halu? Dirinya atau Jesica?
***
Dylan mengetuk pintu kamar adiknya yang berada tepat di sebelah kamarnya. Depan pintu kamar Nessa terpajang sebuah poster tujuh pria tampan dengan tulisan 'Jodoh Nessa'. Dylan tak heran lagi kenapa Nessa bisa sebucin itu sama BTS.
Dylan ingat kata Nessa waktu dirinya bertanya soal kpopers. Nessa bilang, kpopers itu tak semuanya buruk. Banyak orang yang termotivasi dengan kisah grub band sebelum tenar. Seperti Nessa yang termotivasi dengan boy grub beranggotakan 7 orang itu. Walaupun dicaci maki, mereka membalasnya dengan prestasi yang di perloleh.
Lalu, lewat album Love yourself - BTS, banyak orang yang sadar bahwa mencintai diri sendiri sangatlah penting sebelum mencintai orang lain.
Dan lagi, lewat kpopers, banyak orang yang tak memandang ras, suku, atau agama. Semuanya saling solidaritas. Dylan di buat kagum oleh adiknya yang bisa berpikir dewasa dan positif.
"Masuk."
Setelah mendapat izin dari Nessa, Dylan membuka kamarnya dan langsung mendekati Nessa yang fokus pada laptopnya.
"DraKor lagi?" tanya Dylan yang sudah tak heran lagi.
"Seperti biasa. Cemilannya mana Bang?" Nessa menutup laptopnya setelah selesai menonton DraKor Crash Landing On You.
Dylan menyerahkan bungkusan plastiknya. Dan di terima dengan senang hati oleh adiknya.
"Jadi sayang sama Bang Dylan." Nessa memeluk Dylan dari samping. Lalu membuka bungkusan berisikan beberapa cemilan kesukaannya.
Dylan memutarkan bola matanya. "Jadi, lo sayang ke abang lo ini kalau di beliin jajan doang?"
Nessa menyengir ke arah Dylan. "Hmm, kalau Abang beliin cemilan terus, Nessa makin sayang," ujarnya tersenyum sok manis.
"s****n lo."
Dylan mengacak-acak rambut adiknya itu dengan gemas. Nessa tak kesal dengan perlakuan abangnya ini, ia lebih memilih membuka kemasan snack yang terbuat dari kentang itu.
"Tapi, tumben Abang lama banget beli cemilannya?" tanya Nessa menatap sebentar Dylan kemudian memakan cemilannya.
"Mampir ke rumah temen dulu."
"Siapa? Kak Alva? Duo Bandit? Atau Kak Felix yang tampan itu?" Nessa menaik-turunkan alisnya.
Nessa memang sudah dekat dengan sahabatnya. Jika para sahabatnya bermain, gadis itu selalu ikut berkumpul walau sudah beberapa kali diusir oleh dirinya. Alasannya hanya satu. Wajah Felix yang tampan seperti aktor China. Membuat Nessa terkagum-kagum dan caper pada Felix.
"Bukan mereka." Jawaban Dylan membuat kening Nessa berkerut.
"Terus? Temen Bang Dylan kan cuman itu." Nessa menatap bingung Dylan.
Dylan memutar bola matanya. Adiknya ini selain memiliki kadar kehaluannya yang tinggi, juga memiliki kadar kekepoan yang sama tingginya. Berbeda dengan Nevan yang sok cool. Kembaran Nessa itu lebih tertutup dan pendiam. Sungguh perpaduan yang sangat pas.
"Kepo lo. Oh ya, Nes, gue mau tanya." Dylan ragu untuk menanyakan hal ini ke adiknya. Pasalnya Nessa itu ember.
"Tumben. Tanya apa? Pasti mau tanya kapan Taehyung main ke rumah ya?" Nessa menaikturunkan kedua alisnya.
Dylan berdecak kesal. "Nggak jadi. Males gue."
Dylan bangkit hendak keluar dari kamar adiknya. Tapi tangannya langsung ditarik Nessa, membuat Dylan kembali duduk.
"Iya-iya ini serius, tanya apa?" Nessa meletakan cemilannya. Lalu, ia mengambil bantal untuk di taruh di kedua kakinya. Ia menopang dagunya dan siap mendengarkan pertanyaan dari abangnya.
Dylan menarik napasnya. "Kalau kita ketemu orang baru tiga kali dalam sehari, emangnya bakalan jodoh?"
Nessa menatap curiga Dylan. Abangnya sangat jarang membahas yang kearah percintaan sejak putus dengan nenek lampir. Yang selalu dibahas pasti dangdut terus.
"Katanya sih iya. Kenapa Bang?" Nessa memincingkan matanya. Lalu tersenyum menggoda.
"Ngapain lo natap gue gitu?" Dylan menjauhkan wajahnya yang dekat dengan Nessa.
"Abang lagi kasmaran ya?" tuding Nessa mencolek dagu Dylan.
"Apaan sih lo!" Dylan mengusap dagunya.
"Tapi, Bang, gue rasa pepatah itu nggak bener deh." Nessa mengangguk-angguk pasti.
"Kenapa?" Dylan mengerutkan dahinya.
Nessa kembali mendekat ke Dylan. Kepalanya mendongak menatap langit-langit kamarnya. Dylan dengan polosnya mengikuti Nessa, menatap ke atas. Nessa yang melihat kepolosan abangnya, terkekeh pelan.
"Gue udah ketemu Taehyung hampir lima kali di konser. Tapi, kok Taehyung belum ngelamar gue ya bang?"
Detik berikutnya, Dylan langsung menampol kepala Nessa.
"Sadar woy! Halu terus!"
Pada akhirnya, Dylan memilih pergi keluar dari kamar adiknya yang sudah penuh dengan barang-barang berbau Korea. mulai dari poster yang tertempel rapi di dinding, lemari kaca yang hampir penuh dengan koleksi album dan merchandise lainnya.
Jangan di tanya seberapa mahal koleksi adiknya itu. Bagi Dylan, selagi Nessa bahagia dan tak merasa di rugikan, Dylan akan mendukungnya.
Sosok abang yang baik bukan?