Bandara Internasional Lombok terlihat ramai dengan hiruk-pikuk penumpang yang mondar-mandir. Suara pengumuman penerbangan bergantian terdengar dari speaker, bercampur dengan obrolan penumpang dan suara koper yang bergesekan dengan lantai. Di salah satu sudut ruang tunggu gate nomor 12, Bening duduk dengan postur tubuh yang kaku. Wajahnya datar, matanya menatap kosong ke arah jendela besar yang memperlihatkan pesawat-pesawat yang parkir di apron. Tangannya memegang ponsel, tapi tidak melakukan apa-apa—hanya menggenggamnya erat. Galang duduk di sampingnya dengan jarak sekitar dua kursi. Dia sudah mencoba untuk duduk lebih dekat beberapa kali, tapi Bening selalu bergeser menjauh tanpa mengatakan sesuatu. Akhirnya, Galang menyerah dan hanya duduk diam sambil sesekali melirik istrinya dengan

