Apartemen yang selama lebih dari dua minggu terasa sunyi kini kembali dipenuhi kegaduhan—bunyi pintu lemari yang dibanting, laci yang ditarik kasar, serta langkah kaki tergesa yang mondar-mandir. Galang terbangun dari tidurnya di sofa ruang keluarga—tempat dia tidur sejak mereka pulang dari Lombok tiga hari lalu—dengan mata yang masih setengah terpejam. Dia mengusap wajahnya sambil mencoba fokus pada sumber keributan. Bening. Istrinya bergerak cepat ke seluruh penjuru apartemen—dari kamar ke dapur, dari dapur ke ruang kerja, lalu kembali lagi ke kamar. Rambutnya diikat asal, kemeja kerjanya bahkan belum dikancingkan di bagian atas, dan wajahnya tampak begitu sibuk. Terlalu sibuk. "Bening?" panggil Galang sambil bangkit dari sofa. "Kamu mau berangkat sekarang? Ini masih jam setengah tuj

