Bening duduk di sofa empuk, berhadapan dengan tiga sahabatnya yang sejak tadi menunggunya dengan wajah penuh rasa penasaran. Ayla, yang paling cerewet, sudah menyiapkan notebook kecil dan pulpen—entah untuk mencatat apa. Tara, yang paling kalem, menyeruput latte-nya dengan tenang. Sementara Nina, si paling dramatis, menatap Bening dengan mata berbinar, seolah siap menyaksikan drama Korea versi nyata. "Jadi?" Ayla langsung to the point. "Kamu bilang ada yang urgent. Galang kenapa? Dia selingkuh? Mau cerai? Atau—" "ENGGAK!" Bening cepat-cepat memotong. "Bukan itu!" "Terus?" Nina condong ke depan. "Kamu hamil?" "ENGGAK JUGA!" "Lalu?" Tara ikut penasaran. "Tumben kamu sepanik ini menghadapi Mas Galang. Biasanya kan santai-santai aja." Bening menghela napas panjang, meletakkan tas di sam

