bc

Sumpah Tanah Larang - Sesion 1

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
BE
family
HE
time-travel
drama
tragedy
scary
campus
small town
brutal
like
intro-logo
Blurb

·       1. Suara dari Lubang Pembuangan Aris pindah ke Unit 402. Teror pertama dimulai dari rambut dan mata di lubang pembuangan kamar mandi.·       2. Koridor Tanpa Ujung Aris mencoba kabur tapi terjebak di koridor yang muter-muter. Ketemu hantu wanita tanpa wajah yang kulitnya robek.·       3. Gali Kubur Sendiri Aris tiba-tiba ada di kuburan, melihat nisan namanya sendiri. Muncul sosok penggalu kubur dan Unit 610 terungkap.·       4. Perjamuan Dua Iblis Duel antara Utari (wanita rambut putih) vs Penjaga Tanpa Hidung. Aris nemu rahasia kakeknya di bawah beringin.·       5. Darah yang Memanggil Aris nemu Jenglot/Janin Batu. Muncul penampakan Maya (tunangannya). Jenglot itu manggil Aris “Ayah”.·       6. Manifestasi Balik Cermin Aris bangun di kamarnya (kayak mimpi). Tapi dia muntah rambut panjang. Rahman (temennya) ngasih info soal aliran sesat Suroso.·       7. Kota yang Berubah Wajah Teror meluas ke kota. Semua wajah orang berubah jadi wajah Maya yang nangis darah. Aris disuruh “bunuh diri” di mimpi buat bangun.·       8. Siuman di Liang Lahat Aris bangun di dalem peti mati beneran (dikubur idup-idup). Dia nemu tengkorak bayi asli inisial “S”.·       9. Pecahnya Perjanjian Darah Aris adu mekanik sama roh Suroso. Dia milih ngasih tengkorak itu ke Penjaga buat musnahin Suroso. Apartemen Kalindra amblas.·       10. Penumpang Tak Kasat Mata Aris kabur ke hotel, tapi ternyata “anak” itu ngikutin. Dia sadar kutukannya nggak ilang Cuma karena apartemen hancur.·       11. Hotel Para Pendosa Hotel tempat Aris nginep jadi chaos. Aris nyayat tangannya sendiri buat mutusin kalung perak pake darah keturunan.·       12. Sisa-Sisa yang Tertinggal Aris bangun di koridor hotel. Semuanya balik normal, tapi dia dapet pesan kalau Suroso Cuma bisa mati kalau “Nama”-nya dilupakan.·       13. Pencarian Sang Pemutus Aris ke Banten ketemu Kyai Shiddiq. Dikasih tau kalau dia harus nyabut “Pasak Bumi” di titik nol apartemen sebelum jadi Suroso.·       14. Titik Nol Aris balik ke reruntuhan apartemen. Masuk ke ruang bawah tanah (tanah merah). Nyabut pasak tulang belakang manusia.·       15. Nama yang Terhapus Ending Arc 1. Aris ketemu roh Maya dan Suroso di ruang putih. Perjanjian selesai. Aris selamat, tapi ancaman baru muncul dari kontraktor serakah.​Protagonis: Aris Guntoro (Jurnalis, keturunan ke-3 Suroso).​Antagonis: Suroso (Kakek Aris) & Utari (Penjaga rahim tanah/Hantu rambut putih).​Almarhum Tunangan: Maya (Tumbal yang dijadikan wadah oleh Suroso).​Sidekick: Rahman (Pengarsip berita) & Kyai Ageng Shiddiq.​Benda Terkutuk: Kalung perak inisial "S" & Janin batu (Jenglot).SINOPSIS: Sumpah Tanah LaranganAris Guntoro, seorang jurnalis lepas yang sedang krisis finansial, merasa mendapatkan keberuntungan besar saat menemukan unit apartemen murah di Apartemen Kalindra, Jakarta Selatan. Namun, keberuntungan itu berubah menjadi teror mematikan sejak malam pertama ia menempati Unit 402.Satu per satu rahasia gelap mulai terkuak melalui kejadian-kejadian di luar nalar: suara garukan dari lubang pembuangan, koridor yang tak berujung, hingga penampakan sosok wanita dari masa lalunya, Maya, yang tewas secara tragis dua tahun silam. Aris menyadari bahwa ia tidak hanya sekadar menyewa kamar, melainkan masuk ke dalam jerat perjanjian darah yang dibuat oleh kakeknya sendiri, Suroso, puluhan tahun yang lalu.Ternyata, Apartemen Kalindra dibangun di atas “Tanah Larangan”—sebuah pusat ritual Tanam Nyawa di mana nyawa keturunan laki-laki pertama harus dikorbankan sebagai pasak bumi agar kekayaan keluarga tetap mengalir. Aris kini diburu oleh dua entitas mengerikan: Utari, sang penjaga rahim tanah yang haus raga, dan roh Suroso yang ingin bangkit kembali menggunakan tubuh cucunya sendiri.Ditemani oleh Rahman, seorang pengarsip berita yang skeptis, dan bimbingan mistis dari Kyai Ageng Shiddiq, Aris harus memilih: melarikan diri dan membiarkan kutukan itu memakan korban jiwa di seluruh kota, atau kembali ke titik nol apartemen untuk menghancurkan jantung kutukan tersebut dengan risiko nyawanya sendiri.Di tengah tarik-ulur antara dunia nyata dan dimensi gaib, Aris harus menghadapi kenyataan pahit bahwa musuh terbesarnya bukanlah setan yang terlihat, melainkan darah yang mengalir di dalam nadinya sendiri.“Satu rumah, satu lubang. Karena tanah tidak pernah lupa pada janjinya.”

chap-preview
Free preview
Sumpah Tanah Larangan - Bagian 1
Bab 1: Suara dari Lubang Pembuangan Malam di Jakarta Selatan biasanya berisik oleh raungan knalpot dan dentum musik dari kafe-kafe hipster. Namun, di unit 402 Apartemen Kalindra, kesunyiannya terasa tidak wajar. Kesunyian itu seolah memiliki berat, menekan gendang telinga Aris hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu gelisah. Aris baru pindah tiga hari lalu. Apartemen ini murah—terlalu murah untuk ukuran lokasi strategis dan luas bangunan yang ditawarkan. Sebagai jurnalis lepas yang isi dompetnya sering kali "kritis", ia tidak banyak tanya saat agen properti memberikan kunci dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia pikir, mungkin agen itu cuma butuh kopi. Ternyata, Aris-lah yang butuh lebih dari sekadar kafein untuk menghadapi apa yang ada di balik tembok beton ini. Pukul 01.14 pagi. Aris sedang duduk di depan laptopnya, berusaha menyelesaikan draf artikel tentang urbanisasi. Tiba-tiba, suara itu muncul lagi. Srit... srit... srit... Suara itu berasal dari kamar mandi. Seperti bunyi kuku yang menggaruk porselen dengan perlahan namun bertenaga. Aris membeku. Jarinya tertahan di atas papan ketik. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu mungkin hanya tikus yang terjebak di pipa atau pergeseran struktur bangunan tua. Namun, logika itu patah ketika suara garukan itu berubah menjadi suara seretan sesuatu yang basah. Slep... slep... brukk. Aris menarik napas panjang, bangkit dari kursinya, dan menyambar ponsel sebagai senter darurat meski lampu ruangan menyala terang. Ia melangkah menuju kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka. Semakin dekat, bau itu semakin menyengat. Bukan bau bangkai tikus yang tajam, melainkan bau tanah kuburan yang basah terkena hujan, bercampur dengan aroma amis darah yang sudah mengental. Ia menendang pintu kamar mandi hingga terbuka lebar. Kosong. Hanya ada wastafel, kloset duduk, dan lubang pembuangan air di pojok lantai yang sedikit berlumut. Namun, ada yang aneh. Air di lantai tidak mengalir masuk ke lubang pembuangan. Air itu justru meluap keluar dari sana, membawa serta gumpalan rambut hitam yang panjang dan kasar. Gumpalan itu begitu banyak hingga menutupi jeruji besi lubang air. "Sialan, mampet lagi," umpat Aris, mencoba mengusir rasa takutnya dengan amarah yang dipaksakan. Ia berjongkok, merogoh kantong plastik untuk membungkus tangannya, berniat menarik rambut-rambut itu. Namun, saat jarinya baru saja menyentuh helai hitam tersebut, rambut itu bergerak. Bukan terbawa arus air, tapi bergerak secara mandiri—melilit pergelangan tangan Aris dengan kecepatan yang tidak masuk akal. "b*****t!" Aris tersentak ke belakang, menarik tangannya sekuat tenaga. Gumpalan rambut itu tertarik keluar dari lubang, dan dari kegelapan pipa yang sempit, muncul sesuatu yang membuat jantung Aris seolah berhenti berdetak. Sebuah mata. Hanya satu mata yang terbuka lebar, berwarna putih keruh tanpa pupil, menatapnya tepat dari balik jeruji besi lubang air yang sekarang sudah bengkok. Suara bisikan yang serak, seperti gesekan amplas pada kayu, memenuhi ruangan sempit itu. "Bukan... milikmu... tanah ini... bukan... milikmu..." Aris jatuh terduduk, merangkak mundur hingga punggungnya menghantam bak mandi. Di depannya, dari lubang yang lebarnya tak lebih dari sepuluh sentimeter itu, mulai keluar jemari yang panjangnya tidak proporsional. Jari-jari itu pucat, membiru, dengan kuku yang sudah lepas separuh. Jari itu mencengkeram pinggiran lubang pembuangan, seolah sesuatu yang besar di bawah sana sedang mencoba memaksa tubuhnya keluar melalui lubang kecil tersebut. Suara tulang yang berderak—krak, krak, krak—memekakkan telinga saat sesuatu itu melipat dirinya sendiri, melawan hukum fisika demi mencapai permukaan. Aris tidak menunggu lebih lama. Ia lari keluar dari kamar mandi, membanting pintunya, dan langsung menguncinya dari luar. Ia terengah-engah di tengah ruang tengah, matanya melirik ke arah pintu keluar apartemen. Namun, langkahnya terhenti. Di bawah celah pintu utama apartemennya, cairan hitam kental mulai merembes masuk. Dan dari balik pintu itu, terdengar ketukan yang berirama. Tok... Tok... Tok... "Aris... kamu di dalam? Ini Pak RT," suara itu terdengar normal, namun ada nada datar yang sangat janggal di ujungnya. "Saya cuma mau antar kunci gudang yang tertinggal." Aris mendekat ke lubang intip pintu dengan gemetar. Ia menempelkan matanya ke sana. Di luar, memang berdiri seorang pria tua dengan seragam batik. Tapi saat pria itu menoleh sedikit ke arah cahaya lampu koridor, Aris melihat bahwa wajah pria itu tidak memiliki hidung. Hanya ada dua lubang gelap yang mengeluarkan uap dingin, dan mulutnya dijahit kasar dengan benang nilon hitam yang masih menyisakan sisa darah kering. "Buka pintunya, Ris. Tanah ini lapar," bisik pria itu tanpa menggerakkan bibir yang dijahit tersebut. Aris mundur perlahan, menyadari satu hal yang mengerikan: ia tidak sedang berada di sebuah apartemen. Ia terjebak di sebuah ruang antara, di atas tanah yang menuntut janji lama yang belum dibayar. Tiba-tiba, lampu di seluruh unit apartemen padam. Dalam kegelapan total, suara garukan di pintu kamar mandi tadi terdengar lagi. Kali ini, pintunya tidak lagi terkunci. Cklek. "Ketemu," desis sebuah suara tepat di belakang telinga Aris.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
672.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.3M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
912.5K
bc

A Warrior's Second Chance

read
323.6K
bc

Not just, the Beta

read
327.5K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook