Bermain Peran

1094 Words
Dua hari setelah bertemu Warsih, Bara dan Nisya menikah. Paman dari Nisyalah yang bertindak sebagai wali, karena Nisya sudah tidak punya orang tua. Nisya dan Bara lalu memulai kehidupan baru sebagai pasangan suami-istri dengan berbulan madu ke Jogjakarta. "Mau telepon Lana lagi?" kata Nisya sambil melirik sebal pada Bara yang melangkah ke pintu. Wanita itu duduk di meja rias sambil memulas bibir dengan pewarna merah. "Iya, sebentar, ya." "Udahlah, ngapain si nelpon Lana terus? Ada yang cantik di depan mata malah dianggurin." Sambil menyemprotkan parfum ke tubuhnya, Nisya mengerucutkan mulut. Ia bangkit lalu melipat jarak. Sontak, aroma vanila di tubuh Nisya merangkak ke penciuman Bara. Sejenak kemudian lelaki itu membeku. Ia lalu mematikan ponsel dan memadamkan lampu. Satu minggu sudah Bara meninggalkan Lana. Selama itu pulalah, Lana tidak bertemu Nisya. Ibu rumah tangga itu menjadi bosan dan uring-uringan. Bahkan, drama Korea yang selalu sukses memperbaiki suasana hatinya tak mampu membuat perasaannya membaik. Beruntung Bara masih rutin menghubunginya. Hampir setiap malam, Bara selalu melakukan panggilan video. Namun, malam itu ponsel Lana tidak berbunyi, hanya terdengar nyanyian jangkrik di sana-sini. "Mas Bara kenapa belum nelepon, ya?" Lana terus memandangi foto Bara di layar ponselnya. Ia lalu menekan nomor Bara, tapi tidak diangkat. Sejenak kemudian, ia juga mencoba menghubungi Nisya, tapi nomor sahabatnya itu malah tidak aktif. *** "Nis, besok kita kembali ke Jakarta. Kamu ingat ya perjanjian kita, jangan sampai membuat Lana curiga. Aku tidak mau dia sakit hati." Nisya mendecap sebal. "Lana, Lana terus. kenapa si, Mas selalu mikirin dia? Aku ini kan juga istri Mas. Lagian aku tahu, kok, Mas lebih cinta sama aku daripada sama Lana. Kenapa sih Mas nggak cerain dia aja?" ucap Nisya yang membuat Bara tersenyum. Bara lalu memeluknya dari belakang. "Nggak usah cemburu. Sejak awal kamu kan yang mau seperti ini? Aku tidak bisa menceraikan Lana. Meski dia kuno dan tidak menarik, dia sudah banyak menolongku sampai aku bisa sesukses sekarang." Nisya melepas paksa ikatan tangan Bara di pinggangnya. Namun, Bara lekas menariknya lagi ke dadanya. "Aku sudah menyewa kontrakan yang tidak jauh dari kantor. Karena besok aku harus masuk. Sementara kita tinggal di sana sampai tiga minggu mendatang, sebelum aku bisa pulang ke rumah Lana." Setibanya di Jakarta, Bara membawa Nisya tinggal di rumah minimalis bertipe 36 di bilangan Jakarta Pusat. Rumah mungil yang cantik dengan banyak tanaman hias di halaman. Jendelanya yang besar membuat sinar matahari masuk bebas, hingga menghangatkan dua tubuh manusia yang masih berada di tempat tidur. "Hai Lan, lagi ngapain lo?" kata Nisya sambil menyandarkan tubuhnya di d**a Bara. "Ya ampun, Nisya. Gue kirain lo udah diculik Alien. Ke mana aja si lo? Gue telponin susah banget. Ke Semarang apa ke Uranus lo?" Nisya mencebik. Jika bukan karena Bara yang menyuruh, sebenarnya ia malas menghubungi Lana. "Susah sinyal. Maklum, rumah gue di kampung. Eh, gue bawain oleh-oleh, ni. Ntar sore gue ke rumah ya." *** Lana langsung memeluk Nisya sesaat setelah pintu dibuka. "Gue kangen, Sya. Lo tau nggak, selama seminggu kemarin gue ngapain? Ngedrakor dan ngemil. Nih liat badan gue, makin lebar." Nisya terbahak. "Lo bukannya diet malah makan mulu. Baek-baek laki lo diambil orang," kata Nisya seraya mengendurkan pelukan. Ia lalu mengangkat sekantong besar wingko babat ke depan wajah Lana. "Nggak mungkinlah, Sya. Mas Bara itu cinta banget sama gue. Lagi dinas ke Semarang aja tiap hari dia nelpon gue." Sontak, Nisya mengerutkan wajah. "Kemarin lo ketemu Mas Bara nggak di sana?" ucap Lana seraya melangkah ke ruang tamu. "Eng-gak, kok." Nisya menjeda kalimatnya sambil memikirkan alasan. Setelah memapankan tubuhnya di atas sofa, ia bicara lagi. "Gue kan jauh, kalau suami lo kan di kotanya." "Iya juga. Eh iya, Sya, Mas Bara kan masih tiga minggu lagi di Semarang. Lo nginep sini ya sampai Mas Bara pulang. Kesepian ni gue." "Pengen, sih. Tapi sorry nggak bisa, Lan. Gue kan harus ke salon. Udah seminggu gue tinggal. Nggak enak. Mau beli perlengkapan salon juga, ni. Banyak yang udah habis." Nisya lalu bangkit dan mendekati foto pernikahan Lana dan Bara yang terpajang di dinding." Seketika wajahnya memerah. Tangannya pun terkepal kuat. "Nggak bisa diwakilin sama karyawan lo aja?" Nisya menggeleng pelan hingga membuat Lana kecewa. Tiba-tiba pandangan Lana terpaku ke jari manis kanan Nisya. "Nis, lo sekarang pakai cincin? Lo udah nikah?" Wajah Nisya yang masih menghadap ke dinding semakin merah. Ia lalu menarik napas dalam sebelum memutar kepalanya. "Oh, ini cuma imitasi. Sengaja gue pakai biar nggak ada cowok yang gangguin." *** Lana sudah berpenampilan sebaik mungkin. Rumah sudah bersih dan wangi. Makanan di meja pun telah tersedia. Pagi tadi Bara mengabarkan kalau pesawatnya akan tiba di Jakarta pukul 10.00 WIB. Itu artinya dua jam lalu. Tak lama kemudian, terdengar suara mobil berhenti di depan halaman. Wajah Lana sontak merona. Dengan langkah cepat dia lalu menuju pintu. Bara yang baru turun dari taksi online tersenyum miring saat melihat Lana berdiri di depan pintu. Ia lalu mendekat dan memeluk Lana. "Kangen," ucap Lana manja. Mereka lalu berangkulan menuju ke dalam. Setelah membersihkan tubuh, Bara lalu menikmati nasi capcay yang Lana sajikan. "Kamu ngapain aja di rumah, Dek?" "Biasa, Mas. Nonton, beres-beres rumah. Bosen," ucap Lana sambil memandang lekat Bara dengan mata berbinar. "Oh, ya, Dek. Setelah ini, Mas masih harus bolak-balik ke Semarang. Seminggu sekali. Mau ngurusin proyek yang kemarin. Tapi nggak lama, kok. Paling lama tiga hari." "Yah, Mas. Masa baru pulang udah mau pergi lagi." Melihat wajah Lana yang cemberut, Bara tertawa. "Nggak sekarang, Dek. Lusa. Setelah Mas melepas rindu sama kamu." *** Dua bulan berlalu. Bara dan Nisya semakin mesra. Bahkan, mereka begitu pandai menyembunyikan pernikahan mereka di depan Lana. Dengan alasan dinas luar kota, Bara menghabiskan malam bersama Nisya. "Mas, bangun!" Nisya yang baru keluar dari kamar mandi mendekati Bara yang masih terlelap di ranjang. "Gara-gara kamu, nih!" "Kenapa, Nis?" ucap lelaki itu seraya menggeliat pelan dan membuka matanya setengah. Nisya lalu memberikan alat uji kehamilan ke tangan suaminya. Sontak, Bara membelalak. Kantuk yang masih mendekap semenit lalu lesap sudah. "Kamu hamil? Syukurlah," ucap Bara dengan mata yang sudah berkabut. Tak lama kemudian ia memeluk erat Nisya. Nisya lalu menjauhkan tubuhnya sambil menekuk wajah. "Aku nggak mau hamil, Mas. Tubuhku bisa melar nanti. Kamu sih nggak mau pakai pengaman." Namun, Bara yang saat itu sedang senang mengabaikan sikap protes Nisya. Ia malah mencium lembut perut wanita itu. "Kamu jaga baik-baik anak kita, ya." "Mas! Aku kan sudah bilang nggak mau punya anak! Kamu denger, nggak?" Kali itu suara keras Nisya membuat Bara tersentak. "Kamu cukup jaga dan lahirkan anak ini, setelahnya biar jadi urusanku." Nisya lantas mengangkat kepalanya. "Apa Mas berpikiran sama denganku?" ucapnya dengan kilat mata penuh muslihat. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD