Firma hukum Argantara, S. H, Jakarta 2023
Mahar Guntara, S. H, dikejutkan dengan berita penangkapan seorang wanita yang diduga penculik. Tak sampai di sana, air teh yang sebagian sudah berkumpul dalam mulutnya pun berlompatan keluar saat membaca nama si tersangka. Alana Keumala. Wanita yang ia cintai sejak masa SMU.
Tak perlu menunggu hingga jarum panjang jam beralih, Mahar lekas mencari informasi mengenai kasus Lana. Ia pun langsung mengajukan diri ke atasannya untuk menjadi pengacara Lana tanpa harus menerima bayaran. Tentu saja atasannya menolak. Kantor pengacara yang terbiasa menangani kasus besar itu tidak ingin membuang waktu dengan mengurusi hal yang tidak menguntungkan. Namun, Mahar memutus sifat tamak atasannya dengan satu kalimat. "Pakai gajiku untuk bayaran kasus ini."
Keesokan harinya, Mahar mengunjungi Lana di Bareskrim Polri.
"Hai Lan, masih inget gue?" Mata Mahar seketika berbinar saat ia menjabat tangan Lana. Namun begitu, tetap ada sorot empati di sana. Melihat keadaan Lana tak ayal membuat dadanya menyempit. Tanpa Lana sadari ia pun sudah menarik dan membuang napas berkali-kali.
Lana yang semula menunduk mengangkat wajahnya. Matanya yang sudah bengkak langsung menyipit seraya mengingat sosok lelaki tegap yang tengah menatapnya. Akan tetapi rambut ikal dan senyum hangat dengan garis wajah tegas tidak jua membangkitkan ingatannya. Lana menggeleng pelan.
"Gue Mahar. Temen SMA lo. Si kacamata kotak?" kata lelaki itu yang membuat garis-garis halus di dahi Lana merapat serentak.
Mahar anak SMA 6? Kenapa sekarang ganteng banget? Terus ngapain dia ke sini? Dari mana dia tahu gue ditahan di sini?
"Ma-har? Mahar yang dulu?" Lana memutus kalimatnya dengan menggembungkan pipi tirusnya. Mata sayunya pun membesar seketika.
"Iya, Mahar yang itu," ucap Mahar menyambung dengan tawa renyah.
"Sorry gue nggak ngenalin." Sekeras mungkin Lana memasang senyum di bibirnya yang pucat.
"Nggak pa-pa. Wajar kalau lo lupa. Kita udah belasan tahun nggak ketemu. Gimana kabar lo?"
"Seperti yang lo liat, Har." Seketika ia ingin menghilang. Bertemu dengan kawan lamanya seperti itu sungguh tidak ada dalam rencana hidupnya. Pandangan Lana lalu terpancang di d**a Mahar,
"Lo pengacara gue? Tapi gue belum mengajukan apa pun ke pihak LBH."
Mahar lalu mengangguk cepat seraya duduk di kursi. "Soal itu udah gue atur. Lo tenang aja."
Dengan hanya terpisah oleh meja kayu selebar 30 senti, Mahar bisa melihat jelas jejak air mata di wajah Lana. Lelaki 35 tahun itu lalu membuka berkas di mejanya. Tak lama, mata almond di balik kacamata bulatnya sesekali membesar dan menyipit bergantian.
"Lo diduga melanggar pasal 328 KUHP. Sekarang cerita. Selengkap mungkin. Biar gue bisa bantu lo."
Lana tersenyum sumir seraya menahan air matanya dengan telunjuk. "Bukan gue yang nyulik Rajata, Har. Gue juga nggak tau bahwa dia hilang." Seiring puluhan huruf yang keluar dari mulutnya, air matanya pun ikut berlompatan. Lana memejam. Dadanya kembali bergemuruh, memanas dan menyesak. Kejadian beberapa bulan lalu kembali menyerbu kepalanya.
"Yang hilang itu adalah Rajata, anak gue. Anak angkat gue tepatnya. Dia anak suami gue sama orang yang udah gue anggap sahabat. Di belakang gue, mereka nikah diam-diam. Dan bodohnya selama tujuh tahun, gue sama sekali nggak curiga. Suatu hari suami gue ngajakin adopsi anak karena gue nggak juga hamil, gue setuju karena gue pengen bahagiain dia. Ternyata suami gue kerjasama sama pemilik yayasan. Anak yang gue adopsi itu anak suami gue sama selingkuhannya. Anak yang udah gue rawat dan besarkan sepenuh hati dengan penuh kasih sayang." Lana menyusut hidung lalu menyeka wajahnya dengan punggung tangan. Ia lalu mendongak untuk mencegah air mata yang mulai meluncur.
Mahar mengangguk pelan seraya memberikan sapu tangan. "Pelan-pelan aja, Lan."
Lana lalu bercerita lagi.
***
Siang itu Lana tengah membereskan lemari pakaian sang suami. Ia mengeluarkan semua isinya karena ingin menata ulang tata letak kamarnya. Namun, saat sedang mengeluarkan tumpukan pakaian di rak kedua, ada sebuah map yang meluncur turun. Lana memicing.
Seingatnya ia tidak pernah menyimpan map apa pun dalam tumpukan baju.
Setelah menuntaskan rasa penasaran, sontak mulut Lana membulat. Di depannya adalah akte kelahiran milik Rajata. Namun, yang membuatnya bagai kehilangan nyawa adalah karena nama Nisya yang tercantum sebagai pasangan Bara: ibu Rajata. Seketika dunia Lana jumpalitan. Taman-taman bunga yang selama ini tersusun rapi dalam hatinya hancur berantakan bak terkena tornado. Ia pun meremas kertas putih itu lalu beranjak ke luar, menuju kantor Bara.
Setibanya di kantor Bara, dia disambut pandangan sinis sang resepsionis.
"Selamat siang, Mba."
"Siang, Bu," kata Dita seraya tersenyum.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Kantor Pak Bara di lantai berapa? Saya istrinya."
Sontak, bola mata Dita membulat sempurna. Ternyata Pak Bara punya dua istri. Padahal Bu Nisya cantik banget, kenapa dia masih cari yang lain? Wanita di depanku ini bahkan tidak bisa dibandingkan dengan Bu Nisya.
"Kantornya di lantai dua, Bu. Tapi Pak Baranya sedang istirahat. Sebentar saya telepon beliau dulu. Biasanya dia menolak menerima tamu saat jam makan siang. Ibu silakan tunggu di sana dulu." Dita menunjukkan arah kursi tamu.
Namun, d**a Lana yang tengah berselimut abu panas, mengabaikan kalimat Dita. Dengan langkah panjang dia menaiki tangga dan mencari satu per satu nama yang tertera di pintu kantor yang baru pertama kali didatanginya itu. Ia bahkan tidak menghiraukan panggilan Dita yang mencegahnya naik. Resepsionis yang mulai panik itu lalu menghubungi pihak keamanan.
Tidak perlu waktu lama, nama Bara Hardijaya terlihat. Tanpa mengetuk, Lana membuka pintu. Seketika itu pula kejutan kedua diterimanya. Bara dan Nisya sedang bersenda gurau seraya saling menyuapi. Sontak, Bara dan Nisya berdiri. Bahkan sebagian nasi di mulut Bara tersembur keluar.
"Dek, ka-kamu kenapa ada di sini?"
"Ku**ng ajar lo, Nis!" ucap Lana seraya mendaratkan telapak tangan di pipi Nisya hingga wanita itu memekik. Sejenak kemudian, Bara pun mendapat perlakuan serupa. "Itu balasan atas pengkhianat seperti kalian." Lana yang histeris terus memukuli Bara dan Nisya dengan rantang dari meja Bara.
"Gue udah nganggap lo sahabat, bahkan saudara! Dasar musang berbulu domba!"
"Pukuli Mas saja, Dek. Lampiaskan semua amarahmu ke Mas! Jangan ke dia!"
Tentu saja Lana mengabaikannya. Tak lama, Lana menarik kuat rambut panjang Nisya hingga wanita itu memekik kencang. Bertepatan dengan itu, petugas keamanan menerobos masuk. Mereka segera menghentikan aksi Lana.
"Pak, yang ditangkap itu harusnya mereka! Mereka pengkhianat!"
Petugas keamanan itu tampak bingung. Pandangannya berganti-ganti antara Nisya, Lana dan Bara.
Sambil meringis, Nisya mendekati Lana. "Lo pikir mereka percaya? Dengar, Lan. Semua orang di kantor ini memanggil gue Bu Bara. Bukan lo! Lagian lo ngaca sana! Pake juga otak lo sedikit. Kenapa Mas Bara nggak pernah memperkenalkan lo sebagai istrinya?" bisik Nisya sambil mencibir. "Masih bagus Mas Bara nggak ngebuang lo dan ngizinin lo merawat Rajata."
"Iblis kalian!" Lana memandang Nisya bagai ingin menghancurkannya dengan sekali tatap. Ia ingin menampar wajah wanita itu lagi, tapi tangannya terkekang. Ia pun bangkit dan menghampiri Bara yang hanya diam di depan mejanya. Seraya menatap tajam sosok monster dalam wujud lelaki yang sepuluh tahun menjadi suaminya itu, ia meludah tepat ke wajah Bara.
"Dasar bre**sek! Pengecut! Ceraikan aku!"
Sejenak kemudian petugas keamanan membawa Lana turun dan menyuruhnya pulang. Mereka bahkan menawarkan untuk memesankan taksi online, tetapi langsung ditolak oleh Lana. Dengan perasaan seperti kaca yang beradu dengan lantai, Lana berjalan pulang. Tidak dipedulikannya pandangan aneh orang-orang saat ia berjalan melewati mereka. Deras air mata yang turun di pipinya juga tidak dapat dihalau. Walaupun berkali-kali disekanya dengan punggung tangan.
***
"Setelah dari sana gue langsung pulang, Har. Itulah kali terakhir gue ketemu Rajata. Dia emang sempet ngehalangin gue, tapi gue tetep pergi. Dan melalui pesan w******p, Mas Bara juga udah nyerein gue." Setelah bercerita panjang lebar, Lana kembali menyeka wajahnya. Ia kemudian menandaskan segelas air mineral yang Mahar berikan.
"Setelah itu, apa lo masih ngubungin Rajata?"
Lana mengangguk. "Malamnya gue telpon dia. Biar gimana pun gue sayang sama dia, Har."
"Lo bilang apa?"
"Gue bilang kalau gue nggak bisa lagi jadi bundanya. Dia juga nanya alamat gue tinggal."
"Lo kasih tau?" ujar Mahar yang ditanggapi anggukan Lana.
"Aduh, Lan. Dia itu pasti pergi dari rumah dan pengen ketemu lo."
"Iya. Malam itu dia juga bilang kalau mau nyusul gue. Tapi gue larang."
"Bagus. Itu bisa jadi bukti yang meringankan. Lo tenang aja. Besok pasti lo bebas."
Cahaya di wajah Lana kembali berpendar bagai purnama. Wajah Bara dan Nisya yang ketakutan tergambar di kepalanya.
Bersambung.