Beberapa menit lamanya Lana terdiam. Bola matanya memandang tajam ke arah Nisya. Ia tidak menyangka jika Nisya tiba-tiba mengunjunginya. Dengan malas ia menerima uluran tangan Nisya seraya menahan aneka rasa yang sudah berkecamuk dalam dadanya. Amarah yang berusaha keras ia enyahkan selama lima tahun ke belakang, hari itu kembali muncul pelan-pelan ke permukaan. Sabar Lana, Sabar. Kendalikan dirimu. Lana memasukkan udara sebanyak mungkin ke paru-parunya lalu mengembuskannya perlahan lewat hidung. Biar bagaimanapun ia kini adalah seorang Anjani dan bukan lagi Lana si buruk rupa. "Anjani," ujar Lana dengan wajah datar. Meski berusaha bersikap tenang, tetap saja nada sinis teralir dalam suaranya. "Te-ri-ma kasih sudah datang, Bu Nisya. Jadi merepotkan." "Nggak repot, kok, Jeng. Namanya t

