“Ma-mas Bara?” Lana menutup mulutnya dengan kedua tangan. Napasnya tiba-tiba tersengal saat melihat Bara tengah memandang ke dalam jendela. Untung saja kaca mobilnya dilapisi kaca film 80%, sehingga Bara belum melihatnya secara jelas. "Permisi. Anda baik-baik saja?” Karena tidak mendapat jawaban, Bara mengetuk-ngetuk kaca jendela sekali lagi. “Saya Bara, suami Nisya. Kita bertetangga di kompleks Bersemi Indah.” Sontak, Lana seperti berada di tengah-tengah pasukan bersenjata dengan mulut senapan mengarah tepat ke kepalanya. Suara Bara yang berasal dari luar jendela kian membuat otaknya dililit sarang laba-laba. Bahkan, suhu mobil yang begitu dingin tidak mampu mencegah keluarnya bulir-bulir hangat dari pori-pori kulitnya. Dengan tangan gemetar, Lana merogoh tasnya untuk mencari benda apa

