"Oh ya, mungkin saya juga belum mengatakan, jika Ibu Anjani ini adalah...." "Dia asisten anda. Saya sudah tahu itu." "Bukan hanya itu, Pak Bara. Selain asisten, dia adalah calon istri saya." Lana mengangkat kedua alisnya. Sontak, ia memandang Mahar dengan raut wajah penuh pertanyaaan. Namun, Mahar hanya menjawab dengan sedikit anggukan seolah ingin mengatakan, Tenang, Jan. Percaya aja sama gue. Tak berbeda dengan Lana, Bara membelalak saat Mahar seketika menghancurkan harapannya. Sikapnya pun tidak seramah tadi. Aku yakin Anjani punya perasaan yang sama denganku. Dari tatapannya, gerak tubuhnya saat kami bersama dan dari raut wajahnya setiap kali kami bertemu. “Baik, mari kita mulai saja rapatnya. Nasihat apa yang Anda punya?” Bara kembali memfokuskan diri pada masalah pekerjaan. N

