Lana tidak langsung menjawab. Dia menatap ke arah laut lepas seraya mengambil kerikil dari sisi kirinya, lalu melemparnya jauh ke depan. Dahinya berkerut-kerut memikirkan syarat apa yang akan diajukan pada Mahar. Tadi sebenarnya ia hanya asal bicara, agar Mahar mengurungkan niatnya. Namun siapa sangka Mahar malah menyanggupi. "Gue pikirin dulu, Har. Nanti gue kasih tau." "Oke gue tunggu. Syarat apa pun dari lo, akan gue turutin." "Memang harus kayak gitu ya, Har?" Lana membatin sambil menatap Mahar yang tengah tersenyum ke arahnya. Lana sungguh tidak tega menyakiti lelaki itu. Mahar terlalu baik. Dia begitu tulus mencintai Lana, meski Lana belum bisa membalas perasaannya. Kadang Lana ingin marah pada dirinya sendiri. Kenapa hatinya selalu terpaku pada Bara dan bukan pada lelaki baik se

