Gyan memasuki rumah besar itu, tempatnya pernah bertumbuh dan diasuh dengan mengerikan oleh istri pertama ayahnya. Gyan tidak pernah memanggilnya ibu, pun wanita itu tidak pernah ia akui sebagai ibu tirinya. Ia lebih suka mengatakan istri pertama Bapak, ketimbang julukan lain.
Rumah bergaya The Federal di kawasan Bareng – Kota Malang itu begitu mengintimidasi, pilar-pilarnya rumit dan menakjubkan. Rumah ini sedikit banyak mengisi kenangan masa kecilnya, yang sayang sekali agak kelam. Gyan lupa kapan terakhir ia bersenang-senang saat datang ke tempat ini. Dan sekarang ia tidak tahu apa yang terjadi sehingga harus datang. Yang pasti, itu adalah hal penting. Mereka tidak pernah berkumpul untuk sesuatu yang tidak perlu.
“Ah, Gyan sudah datang.”
Kakak perempuannya, Yudna tersenyum ketika Gyan mendorong pintu ruang keluarga dan melihat seluruh anggota keluarga inti berkumpul di sana. Bahkan ada ibu kandungnya juga. Dan Yudna adalah putri tunggal dari wanita itu, istri pertama Bapak yang tidak lain merupakan kakak tiri Gyan. Yang baru ia sadari adalah Yudna satu-satunya orang yang bersikap hangat di ruangan itu.
“Asisten dan pengacara keluarga Kamandayu dari Surabaya datang,” ujar Ayah Gyan lamat-lamat, bahkan sebelum ia sempat mendudukkan diri. “Mereka minta keluarga ini dan putranya bertanggung jawab atas hubungan singkat yang terjadi antara anak kami dengan putri dari keluarga mereka. Mereka mau putra keluarga ini menikahi anak gadisnya, karena dia sedang hamil 10 minggu.”
Gema Tahir, ayah kandung Gyan berbicara panjang lebar sambil memegang selembar kertas di tangan. Terlihat pura-pura membacakan sesuatu, padahal Gyan tahu bahwa beliau bahkan sudah mengingat semua isi surat peringatan itu di luar kepala.
Gyan hanya mengerutkan alis, sementara ibunya—ibu kandungnya, istri kedua Gema Tahir, tercengang mendengar berita tersebut. Gyan paham sejauh ini bahwa dirinya adalah sang terdakwa, karena hanya dia satu-satunya putra kami yang disebutkan sang ayah berulang kali.
“Bikin malu.” Nada dingin itu keluar dari bibir seorang wanita paruh baya berbusana merah gelap yang duduk di samping kanan ruangan itu dengan gaya angkuh seperti biasanya. Ibu—beliau ingin dipanggil seperti itu namun Gyan lebih suka menyebutnya sebagai, istri pertama ayah, menatapnya seperti sedang melihat seonggok sampah yang dihinggapi lalat.
“Kamu benar-benar melakukan ini?” Gema Tahir, alias Ayah Gyan kembali bersuara. Tidak puas melihat ekspresi putranya yang kebingungan.
“Aku tidak tahu gadis itu siapa.” Gyan menjawab sekenannya.
“Kamu menghamili seorang gadis dan tidak tahu gadis itu siapa?” Madam, istri pertama ayahnya menimpali dengan sinis.
“Aku lupa,” jawab Gyan singkat. “Maksudku, aku tidak dalam hubungan dengan gadis mana pun 2 tahun ini.”
Kenapa ia malah membongkar informasi pribadi?
“Ceroboh,” maki Gema Tahir geram. Tidak menjalin hubungan bukan berarti tidak meniduri seseorang, bukan?
“Kamu ingat-ingat lagi dua bulan yang lalu, Gyan. Tidak mungkin gadis ini tiba-tiba mengutus ajudan mereka dan menuntut pertanggung jawaban. Mereka bukan orang sembarangan.” Yudna menimpali, membuat Gyan mencerna kalimatnya dan mulai menggali ingatannya.
Dua bulan lalu? Mana mungkin.
“Yah, untungnya gadis itu berasal dari kelas yang sama dengan kita. Setidaknya kamu tidak sembarangan meniduri dan menghamili gadis yang kamu temukan di pinggir jalan.”
Ibu Gyan—Mayang, terbelalak marah ketika suara istri pertama suaminya menginterupsi, jelas sekali itu sebuah sindiran untuknya. Namun ia tidak bisa, tidak akan pernah bisa melawan perempuan itu. Kelas mereka berbeda, dia berasal dari keluarga kaya dan terhormat, hanya rahimnya yang tidak beruntung karena tak mampu memberi Gema Tahir seorang putra. Ya, setidaknya Ibu Gyan boleh bangga karena memberi seorang pangeran yang ditunggu-tunggu keluarga ini.
“Mereka minta kau menikahi putrinya, paling lambat 2 minggu dari sekarang. Kalau tidak, akan datang tuntutan kepada kita, silahkan kau pikirkan,” jelas Gema Tahir dingin.
Gyan mengernyit, siapa perempuan yang dimaksud? Ia mulai tidak tenang.
“Aku tidak akan menikahi orang yang bahkan tidak aku kenali,” bantah Gyan cepat. “Aku akan mengatasinya, jika tidak berdasar aku akan hadapi tuntutan itu.”
Gema Tahir tersenyum masam, anak lelakinya, penerus satu-satunya bertingkah seperti gigolo yang melupakan perempuan pemuas nafsunya sendiri. Menggelikan.
“Apa yang terjadi jika Gyan menikahi gadis itu, Pak?” Hara, kakak kandung Gyan yang diam sejak tadi mulai bersuara. Tentunya ayah mereka bukan tipikal manusia yang gampang. Pasti ada konsekuensi dibalik semua ini.
“Dia akan menanggalkan jabatannya.”
“Bapak!” Gyan tersentak. “Aku bahkan tidak tahu siapa itu, kita belum mengkonfirmasinya! Aku tidak mungkin menikah dengan orang itu!”
“Kenapa juga kamu melakukannya?” Mayang—ibu kandungnya, angkat bicara. “Gadis itu berasal dari keluarga kaya, dia tidak mengincar uang atau apa. Dia hanya mau harga dirinya terselamatkan, kenapa harus mengancam Gyan dengan posisinya? Bisa saja setelah menikah mereka bercerai. Gadis itu hanya butuh pengakuan.”
“Apa yang terjadi jika Gyan tidak menikahinya?” Hara kembali bersuara, mengindahkan ibunya.
“Mungkin dia akan dipenjara.”
“Kita bahkan belum membuktikannya, siapa gadis itu dan apakah benar Gyan melakukannya? Bagaimana jika mereka berniat menipu?”
Gema Tahir tertawa sinis mendengar ocehan istri keduanya, memangnya ia kelihatan sebodoh itu dalam menelan informasi bulat-bulat?
“Gyan tidak punya pilihan lain. Meninggalkan jabatan dan menikah atau tidak menikah lalu masuk penjara.” Istri pertama Gema Tahir menimpali, ada nada gembira dalam suaranya. Membuat ibu Gyan geram bukan kepalang.
Gyan tampak kebingungan. Ini akal-akalan siapa sebenarnya? Perempuan itu? Atau ulah buatan istri pertama ayahnya?
“Mereka bukan jenis orang seperti itu.” Yudna bicara. “Sedikit banyak aku mendengar kabar tentang mereka. Gyan,” Ia beralih pada adiknya. “Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu tapi kamu tidak bisa mengelak sekarang. Gadis itu, kamu menghamilinya. Mereka membawa semua bukti dan kami sudah melihatnya. Kamu harus menikah dan kemudian menanggalkan jabatanmu di perusahaan bapak lalu tinggal keluar dan hidup dengannya.”
Menikah dengan orang tidak dikenal? Atau dipenjara? Gyan harus pilih yang mana?