DUA

1675 Words
Gyan mencoba memberontak, berhari-hari ia mencari cara untuk mengacaukan rencana itu. Bagaimanapun, ia tidak tahu siapa gadis ini. Tiba-tiba saja datang dan mengaku hamil anaknya lalu minta dinikahi. Namun tampaknya memang benar, ia tak punya pilihan. Gyan menikahinya atau tidak tetap saja ia dirugikan. Tapi masuk penjara benar-benar tidak etis. Namun menanggalkan jabatan idamannya? Ia mulai menggali ingatan, tentang sosok gadis misterius ini. Ia tentu ingat karena gadis itu adalah orang terakhir dan terlama yang dicumbuinya. Hanya saja secara sadar Gyan memang ingin melupakannya, menguburnya, bahkan memutuskan untuk tidak terlalu mengenalnya. Ia benar-benar blank dan minim pengetahuan dengan gadis itu. Yang Gyan ingat hanyalah kejadian hampir 2 bulan lalu. Ketika ia dan teman-temannya bermain undian dan memenangkan paket liburan ke Maldives. Tentu saja paket yang dimaksud bukan hanya sebuah kamar dengan view menghadap ke laut dan seperangkat perjalanan wisata. Di sana, seorang gadis berbikini biru sudah menunggunya, dan mereka menghabiskan 2 minggu penuh dengan liburan, makan dan berhubungan seks sebanyak yang bisa dilakukan. Perempuan itu adalah bonus dari paket liburannya. Gyan berpikir gadis itu memang melakukan pekerjaan seperti itu, ia tidak perlu repot-repot menjadi dekat dengannya. Gadis itu..tidak mungkin dia kan? Namun Gyan sendiri sangat sadar jika gadis yang dimaksud pasti adalah gadis itu. Mereka berhubungan seks 2 minggu penuh tanpa jeda sehari pun. Kemungkinannya untuk berhasil dibuahi sangat besar. Tapi untuk apa? Kenapa ia ingin menikah? Bukankah lebih baik ia melakukan aborsi saja? Setelah perdebatan yang alot dengan pihak keluarga Kamandayu–mereka menyebutnya begitu, Gyan akhirnya diberi kesempatan untuk bertemu dengan perempuan itu hari ini. Tentu saja ia harus mengenal dulu siapa calon istrinya. Meski pernah tinggal dan tidur bersama selama 2 minggu penuh, Gyan hampir tidak mengenali gadis itu. Bahkan ia pulang lebih dulu ke Korea dan entah kapan perempuan itu menyusulnya ke Bandara. Mereka bahkan tidak memesan penerbangan yang sama. Gyan tidak sering bicara dengannya, ia hanya ingat desahan dan lenguhan nafasnya. Hanya sebatas itu. Dan sekarang mereka harus menikah? “Anyeonghaseo.” Gyan tertegun, ketika yang dilihatnya adalah gadis itu. Ia tidak mungkin lupa siapa orangnya, Gyan hanya mencoba mengingkarinya. Mana mungkin gadis seperti dia hamil kan? Maksudnya, dia terlihat profesional melayani ketika di Maldives. Pasti dia tahu bagaimana caranya agar tidak kebobolan. Dan dugaannya salah, gadis itu bukan jenis wanita panggilan seperti yang selalu dia bayangkan selama ini. Gadis ini bahkan berasal dari keluarga kaya dan terpandang hingga ayah Gyan pun kesulitan untuk mengurus maupun menyingkirkannya. Awalnya Gyan sangat amat marah, perempuan ini tiba-tiba datang dan mengacaukan semuanya. Membuatnya terancam kehilangan jabatan dan hak waris dari ayahnya. Memberi opsi kedua yaitu masuk penjara. Jenis pernikahan macam apa ini? Bahkan saat ini Yudna besar kepala dan menendangnya semena-mena dari kabinet petinggi perusahaan. Namun melihatnya sekarang entah kenapa Gyan tidak ingin memuntahkan amukannya. Gadis itu sama persis seperti yang tinggal bersamanya di bungalow atas air. Mereka saling berbagi kehangatan dan makan bersama 3 kali sehari, setiap hari. Mereka tidak banyak bicara tapi terus bersama-sama layaknya pasangan. Gyan belum lupa rasanya ketika bersenang-senang di Maldives dengan gadis itu. Waktu yang ia habiskan dengannya terasa menyenangkan. “Namaku Kamandayu Aruna.” Ia mengulurkan tangan. Lucunya adalah, Gyan tidak pernah diberi tahu siapa nama gadis itu meski tidur dengannya selama 2 minggu. Gyan membalas jabatannya. “Aku minta maaf.” Ia mulai membuka obrolan, ada sisi dalam hatinya yang mengatakan dengan yakin bahwa gadis itu–Aruna, pasti sudah tahu namanya. Ia tidak perlu repot memperkenalkan. Namun Gyan juga tidak mengerti kenapa ia melontarkan kata-kata maaf tanpa sebab begitu saja. Gyan menatap gadis itu lama, dia tengah mengandung anaknya. Gyan akan punya anak darinya. Tidak peduli berapa banyak gadis itu tidur dengan pria lain, ia yakin jika saat ini gadis itu tengah mengandung benihnya. Entah kenapa kalimat itu tersugesti dalam kepala. Gesturenya yang sederhana, lembut, teratur membuat Gyan tidak tega untuk datang kemudian memakinya lalu pergi. Gadis itu terlalu berharga jika diperlakukan dengan bodoh, bahkan hanya melihatnya saja Gyan sudah meleleh nista. Kenapa sih dia? Tanpa berkata apa-apa, Gyan bisa merasakan gadis itu mengungkapkan rasa bersalahnya. Ia begitu diam dan sunyi. Mereka berdua diam dalam jeda yang sangat lama. Itu karena keduanya tahu, bahwa mereka tidak bisa berbuat apa-apa, dalam waktu dekat keduanya harus menikah sesuai kesepakatan. Masalah ini telah didengar oleh para orang tua yang berkuasa, sebagai anak mereka tak mampu berbuat apa-apa. Semuanya sudah diatur sedemikian rupa, sekeras apapun usaha Gyan memberontak, ia tahu hasilnya akan sia-sia. Keluarganya, terutama ayah dan istri pertamanya memegang penuh kendali atas apapun. Ditambah pula degan wewenang dari pihak perempuan ini. Gyan tahu ia sudah kalah sejak awal. Ia bisa melihat gadis di hadapannya sangat murung dan kesepian. Sama sepertinya, Aruna pun tidak mau dinikahkan. Gyan bisa melihat keengganan di matanya, bahkan hanya dari deru napasnya saja ia tahu, Aruna tidak dalam kondisi mendesak ingin menikah dengannya. Lalu ini kenapa? Gyan menghela nafas panjang. Ia harus segera memutuskan. “Baiklah, minggu depan kita menikah.” Dengan empat kalimat yang mengudara di pertemuan itu, keduanya sepakat bertemu di kantor urusan sipil tujuh hari kedepan. **** Gyan menyugesti dirinya berkali-kali, berhari-hari ia mengatakan bahwa semuanya akan berjalan lancar. Ia pernah hidup dengan Aruna tanpa mengenalnya selama dua minggu, meski terdengar mustahil namun itu benar-benar terjadi pada hubungan mereka terdahulu. Ke depannya, ia meyakinkan diri akan baik-baik saja, sama seperti waktu itu. Aruna bukan jenis orang yang sulit, ia tidak seperti perempuan pada umumnya. Gyan tahu gadis itu tidak akan menyusahkannya, mereka akan hidup nyaman. Ia percaya. Meski entah kenapa dengan bodohnya ia rela melepas jabatan direktur muda hanya demi menuruti tuntutan dari gadis itu. Gyan hanya yakin ia akan dapatkan harga yang pantas setelah membayar semua ini. “Perempuan itu menghancurkan kita bersama-sama!” Mayang Tahir berteriak untuk kali ketiga. Beliau sangat murka melihat putranya menandatangani kontrak dan melakukan perjanjian bodoh dengan ayahnya demi menikahi seorang gadis asing. Mungkin ayah Gyan terlihat dingin menanggapi berita tersebut, tapi ia tak main-main dengan hukuman yang ia berikan untuk anaknya. Gyan sudah mencoreng nama baik keluarga, itu intinya. Apalagi yang ia tiduri adalah putri seorang keluarga terpandang, Gema Tahir tak lagi memiliki muka untuk mempertahankan posisi putranya. Ia merasa malu sebagai orang tua, bukan sebagai atasan anaknya di perusahaan. Baginya, siapapun itu gadis yang sudah Gyan nodai secara tidak hormat, hukuman untuk putranya tetap berlaku. Entah gadis itu putri seorang raja sekalipun. “Kamu bahkan tidak memperkosanya, kenapa juga si tua bangka itu mempermasalahkan? Dasar b******n!” Lagi, ibunya mengumpat. Baginya kelahiran Gyan sebagai putra tunggal dari Gema Tahir adalah senjata, tameng sekaligus perlindungan. Kehadiran Gyan di muka bumi ini membuat statusnya sebagai istri kedua naik pesat. Ia adalah ibu kandung seorang penerus, ia lebih terhormat dari istri pertama suaminya yang hanya melahirkan seorang gadis tidak berguna. Dan sekarang karena hal begini sepele status dan hak Gyan dicabut dengan mudahnya oleh mereka. Apa jadinya ia dan Gyan jika putranya itu bukan direktur muda di perusahaan? “Perempuan pembawa sial!” Mayang Tahir menggeram marah. Sia-sia perjuangan dan pengorbanannya selama ini. Ia rela dipungut jadi istri kedua, melahirkan seorang putra dan bertahan ditengah badai kekuasaan istri pertama suaminya. Dan mendapatkan ini? Mendapati putranya hanya jadi seonggok sampah? “Kamu tidak bilang ayahmu jika kamu akan bercerai dengannya nanti? Setelah semua selesai! Maksud ibu, ayolah… ini bahkan bukan masalah besar, kan? Kamu hanya menghamili gadis itu dan kalian akan menikah, lalu apa? Kenapa bapakmu melakukan ini?” Ibunya hanya tidak mengerti, bahwasannya Gema Tahir tidak serta merta mengambil keputusan begitu saja. Ada pertimbangan matang di dalamnya. Toh, Gyan bahkan tidak memikirkan soal itu, ia layaknya pria yang akan menikah. Gugup dan tersiksa. Bingung harus sedih atau bahagia. “Tolong perlakukan dia dengan baik, Bu. Dia akan tinggal di sini beberapa saat,” ucap Gyan tanpa mengindahkan omelan ibunya. **** Tadi malam adalah sesi makan malam antar dua keluarga. Kedua orang tua Aruna maupun Gyan bertemu dan makan malam bersama. Hanya saja untuk beberapa alasan Mayang Tahir—ibu kandung Gyan tidak turut hadir, namun digantikan oleh Madam, istri pertama ayahnya. Sejauh ini semua berjalan dengan baik, meski agak kaku dan tidak terlalu harmonis, toh semua orang sudah bekerja keras agar hal-hal dapat berjalan dengan baik secepatnya. Gyan bisa membaca semua orang tampak enggan dengan pernikahan ini, tapi entah kenapa pula harus dipaksakan. Seolah bagi keluarga Aruna, Gyan bukanlah menantu idaman. Meski ia memiliki nilai-nilai plus sebagai seorang pria. Begitu juga dengan Aruna di mata keluarga Gyan. Perempuan itu bukan sosok idaman mereka sebagai pendamping satu-satunya penerus Tahir di keluarga mereka. Dan pagi ini keduanya bertemu untuk mendaftarkan pernikahan ke kantor urusan sipil dan keluarga. Secara tak kasat mata, mereka menikah. Hanya berdua saja. Ah tidak, sebenarnya Aruna datang dengan supirnya. Ia tidak tampak berdandan istimewa seperti seorang pengantin atau apa, mungkin Gyan yang terlalu berlebihan karena memakai setelan jas rapi demi menyambutnya. “Tanda tangan di sini.” Mereka membubuhi tanda tangan, menempel cap ibu jari dengan tinta merah dan mengecap stempel diatas materai. Keduanya secara resmi telah terdaftar sebagai suami istri di mata hukum dan negara. “Fiyuh….” Diam-diam Gyan melihat Aruna membuang nafas, seolah ia telah melakukan hal besar. Ah tentu saja, mereka baru resmi menikah. Keduanya sepakat melakukan ini tanpa pemberkatan, akan terasa canggung dan tidak nyaman, mereka hanya mengenakan cincin pernikahan dan mendaftar ke kantor sipil. Acara semat cincin berlangsung tadi malam saat makan malam keluarga, seperti pemberkatan sederhana yang disaksikan kedua pasang orang tua. “Kita ke rumahku,” ujar Gyan setelah urusan mereka selesai. Aruna dengan cepat mengikutinya tanpa bicara. “Kita naik mobilku saja.” Kata Gyan lagi begitu melihat Aruna kebingungan akan naik ke mobil mana. Lagi, gadis itu berjalan tanpa suara kemudian masuk dan duduk di kursi sebelah kemudi Gyan. Rasanya sangat aneh menyadari seorang gadis asing menjadi istrinya mulai detik ini. “Aku ingin mengatakan sesuatu,” ujar Gyan ragu. Aruna melirik ke arahnya. “Yang akan kau temui di rumah nanti adalah ibuku, maksudnya, orang yang berbeda dengan yang kamu temui semalam. Aku harap kamu memaklumi sikap Ibu dan keadaan keluargaku. Kami agak sulit.” “Ya, baiklah.” Aruna menjawab sungkan setelah terdiam beberapa lama. Aruna tahu semua kekacauan ini bersumber darinya. Ia mengerti perasaan tidak nyaman ini tercipta karena atmosfer buruk diantara mereka, padahal ketika menghabiskan 2 minggu bersama Gyan di Maldives semua terasa menyenangkan. Kenangan itu pupus begitu saja karena keadaan sekarang. Gyan pun jadi tidak ramah padanya. Aruna kira Gyan akan banyak bicara, bertanya dan menuntut penjelasan. Nyatanya laki-laki itu banyak diam dan menerimanya begitu saja. Meski tetap dalam artian yang kurang ramah. Aruna tidak menyangka akan menikah dalam suasana yang sangat canggung seperti ini. Tapi ia hanya berharap bahwa ke depannya tidak akan sulit untuk mereka. Di Maldives, mereka pernah hidup berdua dengan damai tanpa bersinggungan apa-apa. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD