Hari keempat dan tidak ada perubahan berarti pada Aruna. Andai alat-alat penopang hidup itu dilepas dari tubuhnya, pasti dia sudah terbang entah kemana. Gyan tahu tidak ada tanda kehidupan di sana, Aruna tidak memiliki semangat untuk itu. Ia begitu diam dan tenang, seolah tidak pernah terjadi apa pun pada dirinya sebelum ini. Berbanding terbalik dengan bayi mereka, anak itu tumbuh semangat dengan s**u sapi sebagai asupan utamannya. Meski ia harus makan lewat selang yang langsung masuk ke lambung, tapi tanda kehidupan dan semangatnya terpampang nyata. Kian hari matanya kian berbinar, bibirnya berusaha meracau kecil dan tangannya menggapai-gapai. Sayang sekali waktu mengunjunginya sangat terbatas. “Aku menamainya Zayn Tahir, bagaimana menurutmu?” Gyan tiba-tiba bertanya pada orang yang ter

