Ini sudah hari kedua Aruna tidak bangun atau merespons apa pun di tempat tidurnya, sedangkan Gyan dengan setia terus berada di sana. Sesekali pria itu menuju tempat bayi mereka dirawat dan memandanginya dari dinding kaca transparan. Jam besuk yang Gyan peroleh sangat terbatas baginya untuk berinteraksi dengan bayi mereka. Selama dua hari beberapa jam, Gyan mondar-mandir di sana. Tidak makan apa pun dan hanya minum sesekali saat ia ingat. Gyan tidak tahu jika hatinya bisa merespons kesedihan sedahsyat ini, ia kira merana dan sedih karena ditinggalkan pasangan itu hanya bualan belaka. Kini Gyan merasakannya sendiri. “Mbakyu…” Gyan mengangkat ponselnya entah setelah dering ke berapa dengan suara tak berselera. “Di mana kamu?” Kakaknya terdengar marah di seberang sana. “Apa kamu tidak tahu i

