Zara lalu melepaskan kedua tas miliknya di atas meja ruang tamu dan melepaskan topi dan kacamatanya dengan malas sambil berjalan ke arah kamar tidurnya. Ia benar- benar tidak tahu cara mengeluarkan apa yang sedang ia rasakan saat ini. Entah ia harus bahagia ataupun marah ataupun sedih karena kedatangan Galan yang tiba- tiba. " Apa dia sepengen itu mutusin aku sampai jauh- jauh kesini? Apa dia akan menikah dengan Mercy itu sebagai syarat warisan keluarganya. Perempuan itu juga kelihatan berpendidikan dan modis. Apa akhirnya Galan lebih memilih dia?" tanya Zara pada dirinya sendiri sambil berbaring meringkuk di atas tempat tidurnya. Air matanya pun kini telah membasahi seprai putih bersih tersebut. " Tapi aku juga nggak bisa sepenuhnya menyalahkan Galan. Dia berhak bahagia. Berhak mendapa

