Secret

1331 Words
" Istriku sayang..." sambut Frans ketika Zara memasuki ruangan kerjanya dengan pintu yang dibukakan oleh Galan. " Terima kasih, Galan." ucap Frans sambil mengecup pipi istrinya dengan lembut dan membuat Galan hanya bisa menunduk sopan lalu meninggalkan sepasang suami istri tersebut. " Ada apa? Kenapa kamu nyuruh aku kesini?" tanya Zara. " Apa salah kalau aku mau ketemu istri aku sendiri di jam kerja?" " Kamu mau apa?" tanya Zara lagi dan Frans hanya bisa menghembuskan nafas sambil tersenyum. " Aku suka kamu bisa paham isi hati aku. Andai kamu selalu sepatuh ini dan selalu paham apa yang aku mau, pasti kita nggak perlu selalu bertengkar." ucap Frans sambil membuka laci meja kerja besarnya. " Aku mau kamu ikut andil dalam acara ini. Ini acara besar dan akan dihadiri oleh banyak orang penting. Dan ini penting buat aku.” sambung Frans sambil mengulurkan selembar undangan pada istrinya tersebut. " Aku harus apa?" tanya Zara masih dengan ekspresi datarnya. " Seperti biasa. Menyanyi dengan sepenuh hati dan kamu harus membuat istri- istri mereka menyukai kamu. Nyanyikan lagu yang powerful dan bisa membuat wanita- wanita mereka merasa berarti dan bersemangat." jawab Frans. " Itu saja?" " Dan bersikap yang baik. Jangan pasang tampang datar dan menyedihkan kamu." jawab Frans yang kini raut wajahnya menjadi tidak lagi ramah. " Oke." jawab Zara dengan singkat. " Kamu nggak mau tanya berapa honor kamu, pakaian kamu atau apapun?" " Aku yakin kamu sudah mengatur semuanya." Frans lalu tersenyum dan bangkit dari duduknya untuk berjalan ke arah kursi yang diduduki oleh Zara. " Aku menyuruh mereka mendonasikan honor kamu ke yayasan." " Nggak masalah." " Kamu bisa ke butik untuk memilih gaun kamu. Dress code nya merah. Dan pilih lagu kamu secepatnya." ucap Frans. " Tentu, Tuan Frans. As you wish." ujar Zara dengan ketus. " Apa kamu masih marah?" tanya Frans dengan lembut. " Apa aku bisa? Apa aku berhak? Apa itu akan mengubah sesuatu?" tanya Zara dengan ketus. " Tentu saja tidak. Kamu tidak bisa berbuat apa- apa, Zara. Karena kenapa? Karena kamu istri yang sempurna." jawab Frans dengan seringai yang terlihat menjengkelkan. " Dan ingat, perhatikan sikap kamu. Kamu membawa nama besar aku dan aku tidak mau kamu merusak semuanya." " Mungkin kamu harus bilang hal yang sama ke Fiona." " Ah... Anak itu. Aku nggak tahu kenapa dia membangkang sekali akhir- akhir ini." ucap Frans. " Sebenarnya, dia bukan membangkang. Dia hanya cari perhatian." " Oh... Jadi kamu berusaha untuk jadi ibu tiri yang baik sekarang?" tanya Frans dengan senyum sinisnya. " Tidak. Aku sama sekali tidak tertarik. Aku hanya kasihan sama Fiona." jawab Zara dengan wajah datar seperti biasanya. " Kasihan? Kenapa?" " Dia pikir bisa bahagia dengan uang dan semua yang dia miliki. Tapi aku tahu, dia kesepian. Dia tidak bahagia. Dia berpura- pura bahagia, tapi dia akan lelah suatu hari nanti." jawab Zara yang kini menatap mata Frans dengan berani. Ia tahu Frans mengerti yang ia maksudkan. " Jangan sok tahu!" Zara lalu tergelak sesaat dan memalingkan wajahnya dari Frans yang tentu tidak suka jika sedikit saja perasaannya tersentil oleh orang lain. Ego dan harga diri pria tersebut memang setinggi Everest. " Apa yang lucu?" " Tidak ada." " Apa yang lucu, Zara?!" seru Frans yang terlihat marah. " Serius, Frans? Kamu mau bikin keributan disini?" tanya Zara yang kini merasa Frans bisa saja menyakitinya. LAGI. " Jawab aku lalu pulang!" " Dinda tidak bahagia. Dia akan menghancurkan dirinya sendiri kalau kamu nggak bertindak cepat dan tidak memanjakannya dengan cara seperti sekarang. Dia membutuhkan orang tuanya. Dia membutuhkan sosok teman atau orang yang bisa dia percayai. Jangan sampai kamu menyesal karena Fiona bisa saja bernasib seperti aku dan jatuh ke tangan pria bajingan." jawab Zara dengan tegas dan itu membuat Frans langsung mencengkeram rahangnya dengan cukup keras. " Sakit, Frans..." desis Zara. " Hati- hati kalau kamu bicara. Anak aku tidak akan semenyedihkan kamu! Kamu tahu, Zara? Kamu beruntung menikah dengan aku. Karena kalau tidak, kamu sudah pasti membusuk di penjara. Tidak akan ada yang mau memperdulikan nasib kamu dan kamu tidak akan hidup seenak saat ini!" ucap Frans dengan bengis dan melepaskan wajah cantik istrinya tersebut. " Haruskah aku berterima kasih?" " Kamu makin berani Zara. Dan kamu tahu betul apa akibat dari semua sikap membangkang kamu ini." " Apa aku kesini hanya untuk ini? Apa bisa kita lanjutkan di rumah saja? Aku lagi nggak enak badan." ucap Zara dengan malas karena mendengar ancaman Frans yang entah terdengar sudah sangat biasa di telinganya. " Kamu sakit?" tanya Frans yang langsung terlihat cemas dan kembali memegangi wajah Zara yang memang tidak terlihat cukup baik. " Apa kamu peduli?" tanya Zara dengan menyindir. " Kamu tahu kalau aku peduli sama kamu dan aku nggak mau kamu kenapa- kenapa." jawab Frans yang raut wajahnya memang berubah sendu. Bukan tanpa alasan Frans terlihat khawatir akan kesehatan Zara saat ini. Pasalnya, beberapa bulan yang lalu saat Zara mengeluh sakit perut, ia malah harus dirawat di rumah sakit karena batu empedu yang dideritanya. Hingga hal itu membuatnya kembali mengingat saat gadis tersebut mencoba untuk mengakhiri hidupnya dengan mengkonsumsi banyak obat penenang diawal pernikahan mereka. " Frans, aku mau pulang." ucap Zara lagi mencoba menampik sikap dari Frans saat ini. Andai saja pria tersebut tidak terlalu banyak menyakiti jiwa dan raganya, andai saja ia tidak sakit, andai saja ia normal dan ia bisa menjadi seperti suami pada umumnya, maka tentu tidak akan sulit untuk ia bisa jatuh cinta pada suaminya sendiri. Frans adalah pria dewasa yang tampan, gagah dan fit untuk ukuran pria seumurannya. Frans terkadang bersikap lembut dan perhatian pada istrinya meskipun semua ada timbal baliknya ataupun ia menginginkan agar Zara melakukan sesuatu untuknya. Namun itu semua hanya akan bertahan beberapa saat saja dan akan bisa berubah dalam hitungan menit hanya dengan satu pemicu kecil. Dan meski usia mereka terpaut cukup jauh, namun orang- orang selalu bisa menyebut mereka terlihat sangat romantis, harmonis dan serasi. Tentu hal yang tidak diketahui oleh orang lain selain mereka berdua. Juga Nadya yang mengetahuinya dengan tidak sengaja dan itupun ia tidak pernah tahu bagaimana kejadian persisnya. " Oke. Kamu pulang aja. Kamu istirahat dan aku akan minta dokter un---" " Nggak perlu. Aku hanya kecapean." potong Zara sambil bersiap meninggalkan ruangan Frans yang kini masih nampak cemas. " Aku antar sampai depan." ucap Frans yang mengusap lembut punggung istrinya seolah tadi mereka baik- baik saja. " Oh ya, bagaimana dengan Galan? Bagaimana sikapnya?" sambung Frans. " Biasa saja." jawab Zara dengan seadanya. " Pasti teman- teman kamu di yayasan berkomentar dengan seru." " Aku nggak perduli." ujar Zara. " Galan, tolong antar istri saya pulang. Dia sedang tidak enak badan." ucap Frans ketika membuka pintu ruangannya dan dengan sigap Galan menghampiri sepasang suami istri tersebut yang entah mengapa membuatnya merasa tak nyaman setiap kali mereka terlihat bersama. " Baik, pak." jawab Galan dengan sopan. " Kamu hati- hati ya, sayang. Kabari aku kalau kamu sudah sampai atau kamu butuh sesuatu." ucap Frans lagi lalu mengecup pipi sang istri dan membuat Galan mengalihkan pandangannya sedangkan Zara hanya memasang wajah datar. Tanpa menjawab apapun, Zara lalu berjalan meninggalkan Frans dan diikuti oleh Galan yang menggerakkan kepalanya dengan sopan sebagai isyaratnya untuk pamit. *** Sejak tadi Galan sesekali melirik Zara yang nampak merenung sambil menyandarkan kepalanya ke jok mobil dan memang terlihat lebih lesu daripada pagi tadi. " Apa ibu butuh sesuatu?" tanya Galan dengan memberanikan diri. " Tidak." jawab Zara dengan singkat. " Jangan bicara pada saya kalau saya tidak meminta kamu untuk bicara." sambungnya lagi. " Maaf, bu... Saya hanya mencoba membantu." " Diam saja. Kamu sudah sangat cukup membantu saya dengan diam." ujar Zara dengan lesu. " Baik, bu." Zara lalu memejamkan matanya dan tanpa sadar air matanya mengalir dengan perlahan. " Permainan apa lagi yang akan terjadi? Apa aku masih belum cukup menderita?" batin Zara yang kini tiba- tiba merasa sangat sedih dan merindukan dirinya yang dulu. " Aku lelah... Sangat lelah dengan semua ini. Seolah hidupku kurang menyedihkan, dan kini ditambah dengan kehadirannya. Semoga dia tidak mengenaliku..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD