Saya Tiana 1

1473 Words
Sejak tadi Zara duduk sambil bercengkerama bersama Raisa dan juga beberapa wanita yang sama- sama mengurus yayasan milik suaminya. Wanita- wanita yang usianya berbeda beberapa tahun di atasnya namun terlihat masih sangat berjiwa muda dan tak jarang dari mereka diam- diam bahkan masih pergi ke club malam untuk bersenang- senang. Dan sungguh, Zara sama sekali tidak peduli dengan percakapan mereka yang malah terdengar seperti saling memamerkan harta dan kecantikan mereka. Mereka bahkan saling menyindir secara halus hanya untuk saling menjatuhkan. " Zara kamu semakin cantik saja. Kemarin aku sama anak cewek aku nonton penampilan kamu dan kami merinding loh dengarnya. Suara kamu baguuus banget. Sampe kadang kayak ikut pedih dengernya. Kayak gimana ya... Kayak dalem banget artinya daripada dinyanyikan sama penyanyi aslinya. Emosinya tuh nyampe banget." ucap salah seorang dari mereka dan Zara tahu itu bukanlah sebuah pujian. " Oke... Kita tunggu kalimat berikutnya." batin Zara. " Bener, mbak... Aku juga seneng banget tiap nontonnya." timpal salah satu yang lainnya. " Iya kan... Tuh Zar, kami ini semua penggemar kamu. Kamu tuh kalau nyanyi selalu sampai ke hati. Andai kami nggak kenal kamu, pasti juga akan ikut mikir kalau kamu tuh nggak bahagia dan kayak sedih banget. Untung saja---" " Makasih." potong Zara dengan senyum yang ia paksakan. " Saya minta maaf, tapi saya harus duluan. Saya masih ada acara setelah ini." sambung Zara. " Aku nggak apa- apa disini, Zar. Aku nunggu dijemput disini saja." ucap Raisa yang tahu jika Zara tidak suka jika orang lain mencoba mengorek kehidupan pribadinya. " Kamu yakin?" " Yakin... Kamu pergi aja." jawab Raisa. " Ya udah, kalau gitu saya duluan. Mari semuanya." " Eh Zar, pak Frans memang the best ya... Sampai nyariin kamu pengawal pribadi segala macam. Mana pilihannya kayak gitu lagi. Ganteng banget." ucap wanita lainnya lagi. " Iya, suami saya pasti tahu mana yang terbaik. Permisi." jawab Zara dengan wajah datarnya lalu berjalan meninggalkan wanita- wanita cantik tersebut untuk pamit pada para pengurus panti asuhan. *** " Galan itu orangnya diam ya, mbak." ucap Nadya tiba- tiba ketika mereka sedang menikmati makan siang mereka sedangkan Galan berada di meja lainnya. " Hmm..." gumam Zara. " Orangnya juga irit ngomong sama kayak mbak Zara." " Oh ya?" " Berarti pak Frans udah tahu banget kalau Galan orang yang tepat sama mbak." " Mungkin." jawab Zara dengan datar. Ia benar- benar tidak ingin membahas Galan atau apapun. " Ng... Ngomong- ngomong... Mbak Zara baik- baik aja kan?" tanya Nadya ketika Zara nampak mengedipkan mata beberapa kali dan membuat Zara tersenyum getir. " Aku nggak mau lagi protes soal apapun yang sudah dia putuskan kalau aku nggak mau pakai kacamata hitam sepanjang hari." jawab Zara. " Mbak di...---" " Udahlah... Aku nggak apa- apa. Beruntung kali ini aku mau ke yayasan jadi dia nggak marah lebih lama semalam. Kamu tahu kan, dia nggak mau kalau image aku jelek. Lebih tepatnya, image dia sendiri." ucap Zara. " Gara- gara apa lagi, mbak?" " Aku nggak mau punya pengawal pribadi karena itu terlalu berlebihan." " Lalu?" " Lalu terpaksa aku harus bangun lebih pagi untuk menambal pipi aku dengan banyak foundation." " Mbak, mau sampai kapan seperti ini?" tanya Nadya dengan sedih. Ia memegangi tangan Zara dengan lembut. " Sampai aku mati. Aku nggak punya pilihan lain. Semua identitas aku ada sama Frans. Adik aku masih bergantung sama aku. Dan kamu tahu kalau aku kabur, dia bisa melakukan apa saja." " Tapi kalau mbak Zara kabur, dia juga nggak punya pilihan lain. Mbak bisa aja ke daerah terpencil untuk sementara. Mbak bisa aja---" " Udahlah, Nad. Kamu nggak tahu apapun. Lupain aja. Yang jelas, aku benar- benar ada di dalam genggaman Frans." " Mbak, aku berharap suatu saat akan ada keajaiban dan akan ada orang yang bisa menyelamatkan mbak Zara." Zara lalu kembali tersenyum getir mendengarkan ucapan Nadya yang untuk membayangkannya saja ia tidak berani. " Kira- kira, siapa orang yang mau membantu aku dan membahayakan dirinya menghadapi orang seperti Frans?" " Saya. Saya... Dapat telepon dari pak Frans untuk mengantarkan ibu... Ng... Ibu Zara ke kantornya." sela Galan yang tiba- tiba berdiri di samping meja mereka dan membuat Nadya terkejut. " Ya ampun Galan. Kamu ngagetin aja. Kami bahkan nggak tahu kamu udah ada disini." ucap Nadya dan Zara hanya menunduk. " Maaf. Saya hanya mau menyampaikan pesan saja." " Oke. Kami habiskan makanan kami dulu ya Galan... Nanti aku biar turun di depan aja. Dan kalian bisa lanjut ke kantor bapak." ucap Nadya. " Baik. Saya tunggu di depan." ujar Galan lalu melirik ke arah Zara sesaat sebelum ia meninggalkan kedua wanita tersebut. " Zara! Itu kak Zara. Samperin yuk..." seru salah seorang remaja yang baru saja masuk ke kafe tersebut kepada kawan- kawannya. " Mana?" " Itu loh..." " Ya ampun beneran. Ayo ayo..." ucap yang lainnya dan membuat Galan terpaksa memutar langkahnya untuk kembali ke meja sang atasan sebelum para gadis remaja tersebut mulai mempercepat langkahnya. " Maaf, bu. Tapi saya rasa kita harus pergi sekarang." ujar Galan dengan sopan namun terdengar tegas. " Kenapa?" tanya Zara masih dengan menatap ke arah gelas minumannya. " Demi kebaikan ibu Zara." jawab Galan tepat disaat para remaja tersebut telah berada di dekat meja mereka. Dan siapa sangka, ada beberapa orang lainnya yang kini ikut mendekati mereka. " Kak Zara!" seru salah satunya. " Cantik banget...." " Bisa foto nggak kak?" " Wohoho... Sabar ya sayang... Kami sedang makan." ucap Nadya yang mencoba membantu Galan untuk menghalangi dan menahan para penggemar tersebut saat Zara mulai bangkit dari duduknya. " Guys... Pelan- pelan aja, oke..." " Oke... Oke... Baik. Kita foto aja ya..." ucap Zara yang berdiri tepat di belakang Galan hingga ia bisa mencium aroma parfum woody dan musk yang sama seperti malam itu. " Foto dong, kak..." seru salah satunya lagi. Manager restoran tersebut datang dan ikut membantu untuk mengamankan sang idola yang nampak terdesak tersebut. " Oke... Mbak Zara duduk dulu dan kita foto satu- satu." seru Nadya lagi. " Apa ibu nggak keberatan?" tanya Galan dengan sedikit menoleh melalui pundaknya. " Ng... Iya." " Baik." ucap Galan lalu mulai mengarahkan Zara untuk duduk ke tempat yang lebih leluasa dan tentu kini mereka menjadi pusat perhatian. Zara lalu kembali duduk sementara para penggemarnya yang terlihat bertambah tersebut juga mulai tertib untuk mengantri. Pasalnya, Zara termasuk penyanyi yang jarang berada di tempat umum yang membuatnya menjadi semakin terlihat ekslusif. *** Dari meja yang tak jauh dari Zara yang terlihat tersenyum saat beberapa penggemar mengajaknya berfoto, Galan tetap memiliki satu pertanyaan di dalam hatinya. " Apakah dia mengingat aku? Apakah dia benar- benar melupakan aku?" " Aku harap mbak Zara selalu bahagia." ucap Nadya yang tiba- tiba duduk di kursi dihadapan Galan. " Tentu. Dia nggak punya alasan untuk tidak bahagia bukan? Hidupnya cukup sempurna." jawab Galan sambil menunduk salah tingkah karena Nadya mungkin melihatnya yang terus menatap sang majikan. " Yeah... Who knows..." " Galan... Mbak Zara!" seru Nadya yang melihat seorang wanita muda terlihat memaksa menarik tangan Zara. Galan lalu bangkit dengan cepat dari posisi duduknya dan mencoba melerai wanita muda tersebut. " Jangan sentuh dia. Saya nggak apa- apa." ucap Zara pada Galan. " Maaf, mbak... Mbak mau apa?" tanya Nadya sementara kini pihak security restoran mulai membubarkan penggemar lainnya karena mulai mengganggu kenyamanan pelanggan lainnya. " Saya... Saya hanya mau foto. Saya penggemar Zara sejak dulu. Saya selalu bermimpi punya kehidupan seperti Zara. Dia panutan saya. Saya mau minta pekerjaan. Apa saja. Asalkan saya bisa melihat Zara setiap hari. Dulu Zara pernah membantu saya sebelum dia terkenal. Saya yakin itu dia." jawab wanita berusia sekitar 20 tahunan tersebut dengan terlihat kikuk. " Zara, kamu ingat kalau kamu pernah membantu saya di minimarket. Saat itu saya dituduh mencuri coklat dan s**u untuk adik saya dan kamu membayar semuanya dengan jam tangan kamu. Saya nggak akan lupa wajah kamu." sambungnya dengan antusias sambil menatap Zara yang masih merasa sedikit kesakitan karena cengkeraman wanita tersebut di lengannya. " Tiana. Kamu bilang nama kamu Tiana. Kamulah orangnya bukan?" tanya wanita muda tersebut dan membuat Galan langsung menoleh pada Zara seolah memiliki pertanyaan yang sama. " Ng... Bu--- Bukan. Saya bukan Tiana." jawab Zara dengan terbata. Ia tentu tidak ingin orang lain mengetahui masa lalunya. " Bukan...? Tapi... Saya yakin itu kamu. Saya---" " Maaf, tapi saya nggak pernah merasa membantu seseorang seperti yang kamu ceritakan. Maaf, saya sudah terlambat dan saya harus pergi. Saya ucapkan terima kasih sudah mendukung saya. Tapi saya bukan orang yang kamu maksudkan. Saya permisi." ucap Zara lalu mengenakan kacamatanya dan memeluk wanita tersebut dengan erat. " Saya Tiana. Jaga diri kamu dengan baik. Aku harap kamu bahagia." bisik Zara dengan lembut tepat di telinga wanita muda tersebut dan membuatnya langsung tersenyum. " Terima kasih, Zara. Terima kasih." ucapnya dengan sumringah. " Dia bukan Tiana? Apa benar? Apa mereka hanya mirip saja?" batin Galan sambil mengikuti Zara berjalan ke arah pintu keluar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD