Istimewa

1550 Words
Zara POV Aku terkejut bukan main ketika melihat sosok yang berdiri tak jauh dariku itu. Pantas saja kemarin aku merasa tak asing dengan sosoknya saat ia duduk membelakangiku. Jantungku rasanya akan meledak saat ini juga. Dia adalah pria yang pernah menghabiskan satu malam terindah dalam hidupku. Meski aku sama sekali tidak tahu siapa dia, namun aku yakin sekali jika mereka adalah orang yang sama. Aku mencoba mengendalikan diriku agar aku tidak kelihatan menyedihkan di matanya. Untung saja aku mengenakan kacamata hitam ini hingga ia tidak bisa melihat keterkejutan di mataku. Lagipula, dia pasti juga sudah melupakan aku. Aku kemudian duduk di jok belakang sambil menunggu Nadya mengambil barang milikku yang tertinggal. Pria itupun ikut masuk ke mobil dan duduk di kursi pengemudi tepat di hadapanku. Sungguh, jantungku berdetak tak karuan dan aku sendiri tak tahu mengapa. Yang jelas, aku tak nyaman ia berada di dekatku. Aku takut jika Frans tahu aku mengenalnya. Tak lama kemudian, Nadya datang dan duduk di samping pengemudi seperti biasanya. Ia mencoba untuk akrab dengan orang lain juga seperti biasanya. Yang tidak biasa kali ini adalah, orang yang mengantar kami adalah pria muda yang tampan dan tentu Nadya sangat tidak bisa menguasai dirinya saat ini. Ia mencoba berkenalan dan aku baru tahu jika nama pria tersebut adalah Galan. Dan dari cerita Frans, ia adalah mantan kepala pasukan khusus dengan pangkat yang cukup tinggi. Aku yakin, ia adalah pria yang sama dengan pria malam itu. Caranya berbicara dengan kata yang irit, teratur, kaku dan sopan, tentu menambah keyakinanku akan hal itu. Aku tidak tahu jika ia mengingatku atau tidak, karena saat kami bersama malam itu tidak begitu lama dan tentu ia sudah bertemu begitu banyak wanita yang jauh lebih baik dariku. Aku juga tidak berharap dia masih akan mengingatku. Akan lebih baik jika ia melupakan apa yang pernah terjadi di antara kami. Lagipula, itu hanya kegilaan semalamku yang hanya ingin memberontak pada orang tua asuhku. Aku hanya tidak rela memberikan kesucianku pada pria yang tidak aku sukai. Dan malam itu aku memang sudah gila. Entah karena dalam pengaruh alkohol atau karena pesona pria tersebut, yang jelas aku melakukannya dengan senang hati. Dan aku tidak menyesalinya. Aku cukup bahagia melakukannya malam itu. Paling tidak, ia memperlakukanku dengan baik, manis dan sopan malam itu. Ia tidak langsung meninggalkanku bahkan berusaha untuk menahanku. Andai saja malam itu orang suruhan orang tuaku tidak meneleponku dengan ponsel milik Sally, aku tentu tidak akan meninggalkannya dengan terburu- buru. Andai aku bisa menolak keinginan Frans akan ide pengawal pribadi ini, tentu aku juga akan semakin menolaknya jika tahu orang itu adalah pria ini. Dengan menolak ide ini saja semalam, aku sudah mendapatkan tamparan keras di pipiku dan tentu aku menangis semalaman. Dan kini, tentu aku sudah tidak bisa menolak apapun lagi. Aku sadar jika sejak tadi Galan merasa seperti mengenalku. Ia pasti cukup penasaran bagaimana aku bisa menjadi seorang nyonya Frans Adiatma yang lebih cocok menjadi pamanku meski ia masih terlihat muda dan gagah di usianya. Ia pasti berpikiran aku adalah w************n yang menjual dirinya dan menggoda pria kaya untuk menikahiku. Yeah, andai saja bisa segampang itu, maka aku akan sudah cukup bahagia. Namun tidak, semuanya jauh lebih rumit dari apa yang bisa ia bayangkan. Biarlah ia meyakini apa yang ada di dalam pikirannya. Aku tidak peduli dan itu tidak ada manfaatnya untukku. Tidak juga akan mengubah apapun. Jadi aku tidak perduli dengan penilaiannya. Aku mencoba untuk tidak memikirkannya dan kembali menghafalkan lagu yang akan aku nyanyikan untuk anak- anak panti asuhan yang bernaung di bawah yayasan milik Frans. Namun ini lebih sulit karena bayangan akan kejadian malam itu kembali berputar di ingatanku. Dulu, ketika aku mengingat kejadian itu, aku selalu tersenyum sendiri dan bahkan masih merona mengingat sikap pria itu padaku. Aku bahkan berharap akan bisa bertemu dengannya lagi. Bahkan, aku pernah bermimpi menikah dengannya di sebuah tempat yang asing dengan orang- orang yang juga asing bagiku. Namun kami terlihat bahagia. Namun kenyataan yang terjadi adalah, aku menikahi pria lebih tua yang bahkan tidak aku kenali sama sekali. Pria yang membuat hidupku yang sudah sengsara menjadi seperti di dalam neraka. Aku sendiri selalu berusaha untuk membuka hatiku pada Frans. Frans adalah seorang pria dewasa yang kharismatik. Wajahnya cukup tampan dengan tubuh yang fit dan gagah. Ia juga selalu berbicara dengan sopan pada siapa saja. Jika kami bersama, orang tidak akan mengira jika usia kami terpaut sangat jauh. Orang- orang juga tidak akan bisa mengira jika aku adalah bulan- bulanannya saat kami berada di dalam kamar tidur kami. Kadang ia bisa begitu manis padaku. Membelai rambutku saat aku tertidur, mengecup keningku dengan lembut, bahkan aku sempat ingin menyerahkan diriku padanya karena ia memang berhak akan hal itu. Hanya saja, sikap manisnya akan berubah total saat aku mengucapkan sesuatu. Apa saja bisa membuatnya menjadi sangat marah. Ia bisa saja langsung menjambak rambutku dan menamparku jika aku berbuat sedikit kesalahan. Dulu aku berpikir, aku lah yang salah karena aku selalu membuatnya marah. Namun, lama kelamaan aku tahu satu hal yang tidak pernah bisa aku bayangkan sebelumnya sampai hal itu terjadi di hadapanku sendiri. Frans benar- benar sakit. Kami akhirnya sampai di yayasan dan hanya akan mampir sebentar untuk menjemput Raisa. Raisa adalah istri Sean yang aku rasa, nasibnya tak jauh lebih baik dariku. Entah bagaimana kedua kakak beradik tersebut dididik dan dibesarkan hingga mereka tumbuh dengan pemikiran bahwa wanita itu bukanlah sesuatu yang berharga. " Halo, Zar..." sapa Raisa yang usianya setahun lebih tua dariku. " Hai..." " Kamu baik- baik saja?" tanya Raisa yang memang selalu bertanya akan hal itu. Entah karena ia tahu sesuatu atau hanya sekedar basa basinya belaka. " Baik." jawabku singkat sementara Galan kembali masuk ke mobil setelah tadi membukakan pintu untuk Raisa. " Kita langsung ke gedung saja, bu?" tanya Nadya. " Iya, Nad. Anak- anak yang akan tampil sudah menunggu kamu disana untuk di dandani. Mereka akan tampil setelah Zara." jawab Raisa yang sudah mendengar soal pengawal pribadi Zara dari suaminya. " Baik, bu." ucap Nadya dan memberi isyarat pada Galan. *** Zara membuka kacamata hitamnya sesaat sebelum ia memasuki halaman panti asuhan tersebut sementara Galan memarkirkan kendaraannya dengan baik. Ia kemudian berjalan dengan cepat agar posisinya tak jauh dari sang majikan yang kini sedang mengobrol dengan seorang wanita yang merupakan salah satu pengurus panti asuhan. Galan lalu berdiri di samping panggung kecil ketika Zara mulai melangkah naik dan akan memberikan pidatonya sebagai ketua yayasan milik suaminya tersebut. " Itu dia! Itu benar Tiana." batin Galan dengan yakin. Ia sama sekali tidak meragukan hal ini lagi. Terlebih saat mendengarkan suara wanita tersebut dari pengeras suara yang ada di hadapannya. Dan dari pengamatannya semalam melalui layar ponselnya, Zara adalah penyanyi yang pernah ia dengarkan beberapa kali. Meski tidak banyak informasi tentang wanita tersebut selain tentang karir dan kehidupannya setelah menikah, Galan yakin ada sesuatu yang salah disini. Zara atau Tiana, tidak memiliki informasi lainnya selain seorang penyanyi dan istri dari seorang Frans Adiatma. Seolah Zara dilahirkan dan langsung menjadi seperti saat ini. Zara yang sadar jika Galan terus menatapnya tentu saja merasa sedikit salah tingkah meski ia sudah biasa menjadi pusat perhatian saat berada di atas panggung. Namun nyatanya, tatapan mata tajam dari pria tersebut sukses membuatnya tegang dan sedikit ketakutan. Namun meski begitu, Zara tetap berusaha untuk menguasai dirinya dan mencoba tidak menganggap kehadiran Galan dalam kehidupannya. Galan adalah pengawal dan supir pribadinya. Ia akan tetap bersikap seperti layaknya majikan dan karyawan tanpa melibatkan kenangan masa lalu mereka yang tak ada artinya. Zara kemudian menyanyikan sebuah lagu yang diiringi oleh anak- anak panti asuhan tersebut dengan riang. Sesekali ia tersenyum bersama anak- anak tersebut dan memamerkan deretan gigi putihnya. Sungguh, di mata Galan saat ini, ia masih sama dengan gadis yang ia temui saat itu. Gadis polos pemberontak yang entah mengapa terlihat murung sejak tadi. " Aku senang bisa ketemu kamu lagi dan melihat kamu baik- baik saja dan bahagia, Tiana." batin Galan. *** " Mbak Zara ada tujuan lain?" tanya Nadya. " Ng... Iya... Saya mau mampir makan siang." jawab Zara dengan menatap layar ponselnya. Wajah cerianya tadi kembali terlihat datar dan tanpa senyuman sama sekali. " Temani saya ya..." sambungnya. " Boleh, mbak. Sekalian kita kenalan sama Galan. Galan nih sejak tadi diam aja. Kamu nanya apa kek. Aku tinggal dimana atau apa gitu..." ucap Nadya. " Maaf. Kamu tinggal dimana?" tanya Galan dengan sopan. " Ya ampun... Malah nanya beneran. Lucu banget sih kamu." " Saya salah ya? Maaf, saya nggak bermaks---" " Iya... Iya... Saya ngerti." jawab Nadya. Dan ucapan Galan tadi mengingatkan Zara akan sikap pria tersebut malam itu. " Saya ngasih tahu tempat tinggal saya aja kamu pasti juga nggak tahu. Tadi kamu bilang kamu baru beberapa minggu disini kan?" " Iya... Masih banyak jalan yang saya belum tahu." jawab Galan dan mau tak mau Zara ikut mendengarkan obrolan mereka. " Eh tapi jangan bilang kalau kamu juga nggak kenal sama mbak Zara atau dengerin suaranya selama ini? Bisa dihujat sama netizen loh kamu..." canda Nadya yang tentu bukan sekedar lelucon bagi Zara dan Galan yang menatap sang majikan dari balik kaca spionnya. " Tentu saja pernah." jawab Galan dengan penuh makna dan itu membuat detak jantung Zara berdetak lebih cepat. " Aku bahkan masih mengingat lembutnya suara desahan kami malam itu. Bagaimana lembutnya kulit dan pelukannya di tubuhku. Dia... Dia wanita pertama yang kusentuh seperti itu. Dia istimewa bagiku." batin Galan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD