Aliya membuang nafas keras, berharap bersamaan dengan nafas itu, kebuntuan di kepalanya segera hilang. Aliya tidak mengerti apa yang salah dengan dirinya, semua sudah ia lakukan, mulai dari makanan ringan, makanan berat, olahraga, istirahat tidur siang sampai olahraga ringan agar otaknya sehat ternutrisi untuk mau berpikir dengan keras. Aliya melahap potong terakhir cokelatnya. Final, semua makanan ringan Aliya sudah habis menyisakan bungkusan yang terkapar di atas meja di sebelah laptopnya. “Ide... dimana engkau? “ pekik Aliya, semi frustrasi. Rambutnya kusut-masat karena terus ia obrak-abrik sebagai pelampiasan kekesalannya. “Huffft......” Aliya harus tetap menjaga kewarasannya. Dia tidak boleh sampai drop karena skripsi ini. “Buka ponsel aja dulu deh, denger ceramah biasa tahu

