Farel tersentak saat logikanya mulai berbicara, mencela apa yang barusan dia lakukan. Memeluk seorang gadis yang bukan mahramnya! Jelas ini salah! Ini bukan nilai-nilai yang selama ini Farel jaga. Kemana Farel yang dulu.. yang bahkan tidak berani menatap lawan jenis, yang selalu menjaga pandangan matanya, menjaga tangannya dan menjaga hatinya? Tapi sekarang? Astagfirullah!! Kemana prinsip yang sering Farel suarakan? Dimana prinsip cinta terbaik yang berlabuh di atas keridhoan ilahi ? Dimana itu semua? Tanpa malu sedikit pun, Farel memeluk Sania! Sania yang bukan siapa-siapa! Selemah itukah iman Farel! Selemah itukan prinsip itu hilang? Atau prinsip itu memang tidak pernah ada! Farel hanya berpura-pura bahwa dia memiliki itu semua! Nyatanya, liat sekarang, dia dengan mudahnya berb

