“Kiya! “ Aliya menatap tajam Khiya yang kini tengah tersenyum kecil di depan kaca standing di hadapannya. Khiya berputar kecil, memperhatikan gaun hitam bermotif bunga yang di bordir rapi di bagian bawa, nampak menyatu dalam warna hitam gaun, tidak akan terlihat jika sekilas, namun akan terlihat indah jika terkena pantulan sinar lampu. “Lo masih sakit! “Aliya mengucapkan kalimat itu lagi. Entah sudah berapa kali Aliya mengucapkannya. “Gue mohon, berhenti Khiya! Sudah cukup ujiannya! Lo harus bilang pada Farel, kalo Sania itu Lo! “ Khiya masih terlalu asik memperhatikan gamisnya, tidak mendengar apa yang Aliya katakan. “Kiya! “Aliya menaikkan nada suaranya, dan caranya berhasil menarik perhatian Khiya. Khiya kini menatapnya dengan ekspresi bingung. “Lo harus bilang pada Farel sek

