Farel mengamati ekspresi Fatha yang sejak tadi tidak hentinya tersenyum, mahasiswa tingkat akhir itu bahkan tidak melepaskan sorot matanya dari benda pipih di tangannya. “Masyallah...” Sesekali Farel mendengar gumaman pelan dari Fatha. “Ya Allah jika dia takdir hamba, maka dekatkan lah....” Farel tersentak. Spontan menoleh pada Fatha yang duduk di sisi kanannya. Fatha kali ini menangkap tatapan Farel, pria itu meringgis seketika merasa malu sembari karena gumam-nya tadi. “Maaf, Pak, suara saya kebesaran ya, sampai ganggu kerjakan bapak? “ kata Fatha, tidak enak hati. Pria berparas manis itu spontan mengaruk tengkuk kepalanya yang entah gatal atau tidak. “Saya kebablasan pak, soalnya bahagia banget.” Fatha kembali tersenyum seperti senyumnya dari tadi. “Kayaknya kamu bentar lag

