Chapter 1 - Laut

1784 Words

Zoya menghembuskan napasnya, dia meminum botol bir yang ada di tangannya. Isi botol itu hanya tersisa setengah, dia baru saja sampai setelah berjalan cukup jauh. Zoya baru saja pulang dari sebuah bar yang menyediakan minuman beralkohol lebih baik. Kesadarannya masih cuku untuk berjalan jadi sekarang dia sudah sampai di pinggir pantai.


Dia lagi-lagi hanya menghembuskan napas ketika melihat keramaian orang di pantai seperti sedang merayakan sesuatu. Dia melihat dirinya yang lelah, merasa tidak bisa melanjutkan hidupnya lagi. Zoya memegang kepalanya, di saat yang saa dia juga mendengar ponselnya bergetar, itu tanda alarm dia harus segera kembali ke kantor.


Pekerjaannya sangat banyak, dia harus mengerjakan pekerjaannya sendiri, serta banyak tambahan dari rekan-rekannya. Zoya mau tidak mau mengerjakan itu semua karena dia akan di pukuli hingga tubuhnya lebam, apalagi bosnya juga tidak percaya dengan apa yang dia katakan.


Untuk tetap bekerja di perusahaan itu dia harus melakukan semua hal yang diperintahkan kepadanya. Zoya lagi-lagi memegang kepalanya, pandangan matanya berkunang-kunang, mungkin karena pengaruh alkohol. Zoya memang merasakan tubuhnya sedikit ringan.


Dia meletakkan botol birnya lalu berjalan ke bibir pantai. Zoya merasakan langkahnya ringan, seolah beban berat hidupnya terangkat semua. Dia memutuskan duduk dan merasakan air laut mengenai kakinya. Tanpa dia sadari, matnaya mengeluarkan air mata, dia mengingat semua kesulitan yang dia alami di hidupnya.


Mulai dari hidup di panti asuhan, hidup di sana seperti neraka dan dia memutuskan lari dari panti itu. Dia tidak membawa apa-apa dan hidup tanpa arah di jalan. Dua tahun dia hidup di emperan toko, mendapat kos-kosan yang jauh dari layak dengan harga muarh. Dia harus berjuang selama bertahun-tahun sampai bisa bekerja.


"Ah, hidupku penuh dengan kesialan. Tidak ada yang berjalan dengan baik." ucap Zoya pedih.


Dia pikir, bekerja akan membuat kehidupannya lebih baik, tapi kenyataannya tidak. Hidupnya sama saja, malah semakin hari semakin berat walaupun dia mendapatkan gaji setiap bulan. Semuanya habis untuk membayar tunggakan rumah kontrakan, semua hutangnya di rumah makan. Uang terakhirnya dia pakai untuk membeli alkohol sepuasnya hari ini.


Itu karena dia sudah tidak tahan lagi dengan bagaimana dia dipaksa untuk bekerja dikantor. Dalam semingu dia bahkan sudah empat kali mimisan karena bekerja terlalu lama. Seluruh tubuhnya sakit karena lelah, Zoya lagi-lagi menghela napas dalam. Seumur hidupnya sampai dia berumur 24 tahun tidak pernah ada kebahagiaan.


Dia sebatang kara tanpa siapapun, bahkan satu orang teman. Dia sendiri dan tidak pernah mempercayai siapapun karena kehidupan sangat kejam untuknya. Tidak ada kata teman di kehidupannya, tidak ada tempat untuk berbagi keluh kesah.


Zoya bangkit, dia berdiri dan berjalan menuju laut dengan tatapan kosong. Hidupnya tidak memberinya kebahagiaan, jadi apa salahnya untuk mengakhiri hidupnya sekarang? Menjalaninya pun seperti tinggal di dalam neraka. Zoya mempercepat langkahnya, jantungnya berdetak kencanag karena merasa hidupnya yang buruk akan segera berakhir ketika dia menenggelamkan dirinya ke dalam laut.


Ketika air laut sudah mencapai pinggangnya, dia berbalik kebelakang. Rasanya sekarang sudah begitu jauh dari tempat dia menyimpan sendal dan juga tasnya. Zoya menatap barang-barangnya dari kejauhan, rasa takut ketika tenggeleman lagi-lagi membuat niatnya berguguran.


Zoya berlari ke pinggir pantai dengan segenap kekuatannya, dia terengah ketika sampai. Pakaiannya basah, Zoya mengambil barang-barangnya dan kembali berjalan pergi dari pantai itu menuju rumahnya. Dia menaiki kreta terakhir, pakaiannya kering ketika berjalan menuju stasiun.


Setelah turun satu jam kemudian, dia kembali berjalan dari stasiun menuju rumahnya. Butuh waktu satu jam setengah jam lebih untuk berjalan kaki. Dia tinggal di pinggir kota di rumah-rumah kumuh, dia sudah terbiasa dengan bau menyengat. Zoya membuka pintu rumahnya dengan mudah lalu membaringkan diri di kasur busa tipis yang sama sekali tidak membuatnya nyaman.


...


Zoya kembali menjalani rutinitas paginya, mandi di kamar mandi seadanya dengan sekat kain yang sudah usang lalu berangkat ke kantor dengan pakaian yang baru saja kering tanpa di setrika dan hanya menggunakan farfum yang sudah dia pakai empat bulan. Baru saja tiba di kantor, dia sudah menangis melihat banyaknya pekerjaan bertumpuk di meja kerjanya.


Zoya menelanludah, padahal baru saja dia selesaikan semua pekerjaan rekan kerjanya semalam. Tetapi, kini kembali bertumpuk bahkan bertambah banyak. Zoya bahkan tidak terlihat ketika duduk di belakang meja kerjanya. Dia menutup matanya berusaha menahan kesal, tetapi rasa itu tidak kunjung hilang.


Dia menggigit bibirnya dan menguatkan tekat, hanya satu dorongan dia menjatuhkan semua berkas itu. Ruang kerjanya langsung hening dan semua orang menatapnya. Dia mengangkat bahu dan menyalakan komputer, Zoya menghitung dalam hati.


'1...2...3'


"Heh, anak baru. Jangan buat ulah ya! Ini masih pagi!" ucap rekan kerjanya galak.


Zoya tidak memperdulikannya, saat itu juga merasakan rambutnya ditarik. "Aku sudah tidak bisa lagi mengerjakan semua itu. Kalian kerjakan sendiri! Mbak Gina juga ambil pekerjaan Mbak, kerjain sendiri." ucapnya dengan suara pelan.


"Makin hari makin berani ya, pungut semua berkas itu dan selesaikan hari ini juga." ucap Gina.


Zoya menghela napas panjang, dia menarik lengan Gina untuk melepaskan jambakannya. Dia meringis ketika melihat beberapa helai rambut tersisa di telapak tangan wanita itu. Tetapi, Zoya tidak kunjung bergerak. Dia mengerjakan pekerjaannya sendiri. Mata Zoya memerah karena menahan tangis, hatinya sakit diperlakukan seperti ini berkali-kali.


Di saat itulah, dia merasakan tamparan keras mengenai pipinya. Zoya berbalik dengan air mata menetes, Mbak Gina menatapnya garang. Tidak ada rasa kasihan sama sekali di wajahnya. "Pungut! Kalau pekerjaan gue nggak selesai sampai siang ini, gue potong gaji lo."



Zoya hanya meraba pipinya yang terasa panas ketika Gina pergi. Dia tetap di tempat duduknya, Zoya tidak memperdulikan ratusan kertas terhambur di depan mejanya. Setengah jam kemudian, seorang cleaning servis masuk dna memperbaiki kertas itu dan menyusun di meja kerjanya.


Dia kembali bekerja tanpa memperdulikan apapun. Zoya serius untuk menyelesaikan pekerjaan terakhirnya di kantor ini, dia hanya melakukan tahap terakhir sebelum pekerjaannya itu selesai. Zoya bisa trsenyum tipis tiga jam kemudian, dia bangkit dan berjalan ke ruangan dimana atasannya berada diiringi tatapan tajam rekan kerjanya.



Zoya hanya berdiri diam, ketika selesai menyelesaikan pekerjaannya.


"Bagus, ini laporan yang saya tunggu-tunggu. Kamu melakukan pekerjaan dengan baik."


"Terimakasih, Pak." Zoya bangga dengan itu, walaupun dirisak dia tetap bekerja dengna baik.


Dia menunggu sampai atasannya itu membalikkan halaman demi halaman. Zoya menahan napasnya ketika atasannya menemukan amplop putih yang dia selipkan di sana. Itu surat pengunduran dirinya.


"Apa kamu benar-benar yakin? Sulit untuk kembali mask ke perusahaan ini setelah mengundurkan diri." tanya atasannya.


Zoya mengangguk tegas, "Saya yakin, Pak."


"Sayang sekali kamu harus pergi. Padahal saya sudah beri peringatan kepada rekan kerjamu untuk memperlakukanmu lebih baik lagi." ucap atasannya.


"Terimakasih, Pak. Saya sudah yakin ingin mengundurkan diri."


Atasannya itu menatapnya cukup lama, dia menghela napas panjang karena tahu jika mengundurkan diri seperti ini dia tidak akan dapat pesangon apapun. Zoya membungkuk sekali lagi sebelum keluar dari ruangan itu. Dia membuka pintu dan saat itu juga dia mendengar suara langkah mendekat.


"Ini, pesangon dan gaji kamu dua bulan terakhir. Walaupun tidak banyak, terimalah." ucap atasannya.


Zoya berbalik, dia menatap amplop itu dengan mata berkaca-kaca. "Terimakasih, Pak."


Untuk kali terakhir, dia memandangi ruangan di mana tempatnya bekerja. Zoya merasa senang ketika tidaka akan pernah masuk ke ruangan neraka itu lagi. Dia berjalan menuju lift dengan langkah ringan, setidaknya penyiksaannya berakhir ketika dia meninggalkan gedung perusahaan ini.


Zoya memeriksa uang pesangon dan juga gajinya di dalam toilet. Gaji yang dia terima lebih dari cukup, dia akhirnya tahu jika gajinya selama ini di ambil oleh Gina lebih dari separuhnya.


"Pantas saja!" gumam Zoya.


Untuk kali terakhir, Zoya ingin memberikan semua rekannya pelajaran. Dia membuka website perusahaan dan mengirimkan banyak video ke sana. Ini website yang akan dibuka oleh semua orang, jadi dia memasukkan video di mana dia di risak oleh semua rekan kerjanya sampai lebam berkali-kali.


"Sayang sekali aku tidak bisa melihat bagaimana kalian nanti. Aku akan menyelesaikan semua urusan hidupku untuk hari ini." gumam Zoya lalu keluar dari toilet dan pergi ke basement dimana semua kendaraan di parkir.


Dia mengambil batu untuk memecahkan kaca mobil milik Gina. Menggoresnya dengan batu, setidaknya ini pelajaran yang bisa dia kasih untuk wanita jahat yang sudah mengambil banyak gajinya selama dia bekerja diperusahaan.


...


Zoya pulang ke kos-kosannya, dia membayar penuh tunggakannya selama beberapa bulan dan mengatakan jika dia sudah tidak tinggal lagi disana. Zoya juga membayar semua hutangnya di rumah makan yang ada di depan lorong menuju kos-kosannya. Sekarang dia sudah tidak memiliki hutang lagi.


Uangnya masih tersisa banyak, Zoya memutuskan untuk naik taksi untuk pertama kali menuju pusat perbelanjaan. Zoya membeli pakaian dan tas mahal untuk pertama kalinya setelah bekerja. Dia juga pergi ke spa dan salon untuk merawat dirinya. Setelah selesai, dia melihat tampilannya di cermin.


"Anda sangat cantik, apa anda mau pergi berkencan?" tanya seorang pegawai yang sedang menyisir rambutnya.


Zoya menggeleng, "Hanya menikmati hari."


"Wah, iri sekali. Aku tidak bisa menadaatkan hal ini, anda beruntung bisa menikmat hari anda." ucap pegawai itu.


Dia balas tersenyum. "Terimakasih karenamu aku sangat menikmatinya."


Zoya memberikan tip sebelum keluar dari tempat itu. Uangnya masih terisa banyak, dia lalu pergi ke restoran untuk makan enak setidaknya satu kali. Dia memesan apapun yang dia inginkan. Zoya selama ini hanya memakan mie instan murah atau bahkan hanya meminum air ketika akhir bulan tanpa makan sama sekali.


Sekarang, dia bahkan tidak bisa memakan semua makanan karena terlalu kenyang. Zoya pergi ke toko baju dan membeli terusan berwarna putih. Terlihat cantik dan sederhana ketika dia memakainya.


"Terimakasih telah datang, silahkan datang kembali."


Zoya tersenyum, dia keluar dari toko itu dengan membawa beberapa tas belanjaan. Dia lalu pergi ke pantai, tujuan terakhirnya hari ini. Dia memesan tempat di tepi pantai, sebuah gazebo besar untuk dirinya sendiri untuk menikmati waktu. Zoya membuka ponselnya, satu-satunya benda yang tidak dia ganti.


Satu persatu makanan datang sementara Zoya menikmati matahari terbenam. Dia sudah bertekad, malam ini dia akan bahagia. Zoya sudah mengganti pakaiannya dengan terusan berwarna putih. Dia melewati malam itu tanpa memikirkan pekerjaan dan beban apapun.


Berjam-jam berlalu, pantai itu berangsur-angsur sepi dan yang tinggal hanya beberapa orang saja. Seperti dirinya yang masih tetap tinggal untuk menatap ombak di tepi pantai. Satu jam kemudian, ketika pantai itu benar-benar sepi Zoya beranjak berdiri. Dia meninggalkan sendalnya di dalam gazebo lalu berjalan tanpa alas kaki menuju pantai.


Hari ini dia benar-benar merasakan sedikit kebahagiaan, Zoya tersenyum tipis dan tetap berjalant anpa niat untuk berhenti. Ketika merasakan air pantai sudah mencapai lehernya, dia baru berhenti dan berpikir sesaat. Inilah yang dia inginkan, tidak ad lagi yang berharga di dalam hidupnya, dia akan mengambil jalan ini.


Zoya kembali melangkah sampai tubuhnya benar-benar tenggelam, napasnya mulai tercekat. Dia berusaha naik ke permukaan tetapi sia-sia karena sudah terseret arus dan sama sekali tidak bisa berenang. Zoya benar-benar tidak bsa melakukan apa-apa, akhirnya dia benar-benar memutuskan untuk pergi dari dunia dengan cara yang kejam.


Walaupun begitu, ada senyum di wajahnya, dia bahagia bisa mengakhiri kehidupannya tanpa rasa bersalah.

...


Di sebuah rumah sakit.


Ambulans melaju kencang dan berhenti tepat di depan rumah sakit. Paramedis berlarian cepat mengeluarkan seseorang yang tidak sadarkan diri dari ambulans dan dibawa ke ruang gawat darurat dengan kondisi kritis.

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd