Chapter 2 - Rumah Sakit

1730 Words
Zoya merasakan kepala pusing, dia mencium bau obat-obatan. Telinganya juga mendengar suara asing yang tidak dia ketahui, dia menarik napas berkali-kali ketika mengingat apa yang terakhir terjadi kepadanya. Zoya ingin membuka mata tetapi kelopak matanya seperti di lem dan tidak mau terbuka. Seluruh tubuhnya terasa nyeri dan itu kembali membuat kesadarannya menghilang. Zoya kembali terbangun ketika mendengar suara-suara yang tidak dia kenali. Kelopak matanya masih sama, masih tidak bisa terbuka. 'Pasien dalam keadaan koma. Tidak tahu pasti kapan akan bangun karena semua tes sudah dilakukan dan keadannya normal.' Suara pembicaraan itu membuat Zoya semakin pening, dia kembali kehilangan kesadarannya. ... Bara menatap wajah istrinya dengan raut wajah cemas. Dia menggenggam tangan istrinya begitu erat dan tidak ingin melepaskannya sedetikpun. Dia merasa ini semua kesalahannya dan membuat istrinya bisa pingsan ketika sampai di kantornya. Bara menoleh ketika mendengar suara pintu menjeblak terbuka dengan keras. Itu kedua orangtuanya, "Bara? Nasha kenapa?" tanya Raima, ibu Bara. Bara menghela napas panjang, "Nasha pingsan, Ma." "Dia pasti kelelahan harus mengantar bekal atau apapun yang tertinggal di rumah. Seharusnya kamu menyuruh supir." Raima memarahi putranya. Bara hanya bisa menundukkan kepalanya, dia tidak pelupa. Hanya saja kadang ada berkas yang tertinggal di rumaha tau kadang dia sangat menginginkan makan masakan Nasha dan mnyuruh istrinya sendiri mengntarkan ke kantor. Selama ini, tidak ada masalah dengan Nasha. Tetapi, tiga bulan terakhir memang Nasha terlihat sangat mudah lelah. Energinya terlihat cepat terkuras padahal baru saja bangun tidur. Mereka sudah memeriksakan ke dokter tetapi tidak ada hasil yang mencurigakan. Semuanya normal sampai membuat keduanya melanjutkan aktivitas seperti biasa. Bara sama sekali tidak menduga jika istrinya akan pingsan dan tidak sadarkan diri lebih dari satu hari. Sekarang, dia tidak bisa bekerja dengan baik dan meninggalkan semua urusan perusahaan karena merawat Nasha di rumah sakit. "Apa kata dokter?" tanya Zufar, Ayah Bara. "Nasha dalam keadaan koma dan dokter tidak bisa memastikan kapan dia akan sadar." jawab Bara dengan suara pelan. Ibunya terduduk lemas tepat di sampingnya, "Apa dia terbentur sesuatu?" "Aku berhasil menangkap tubuhnya saat akan jatuh ke lantai." jawab Bara. Kedua orangtuanya terlihat sangat khawatir dan itu semakin membuat Bara menyalahkan dirinya karena terlalu membuat istrinya sangat sibuk. Mereka menikah satu tahun yang lalu dan sampai saat ini mereka masih seperti berpacaran, mereka bertemu saat kuliah dan bersama selama tujuh tahun sampai menikah. Tujuh tahun itu mereka habiskan bersama sampai kedua orangtuanya menganggap Nasha sebagai anak sendiri. Dia juga sudah menghubungi kedua orangtua Istrinya, mereka tinggal di Swiss dan baru saja akan sampai beberapa hari kemudian. Bara hanya menggenggam jemari istrinya sembari memejamkan mata. Saat dia hampir terlelap, Bara merasakan jemari Nasha bergerak. Matanya langsung sepenuhnya terjaga, rasa kantuknya hilang dalam sekejap, Bara langsung berdiri dan memanggil dokter. Mereka masuk dan memeriksa istrinya yang kejang-kejang di atas tempat tidur. Bara luar biasa kaget, dia hanya berdiri di sudut ruangan dan tidak tahu harus melakukan apa. Tangannya yang memegang ponsel untuk menghubungi ibunya bergetar parah karena melihat kondisi Nasha. Ponselnya terjatuh, Bara mengusap wajahnya kasar akrena tidak bisa melakukan apapun. "Dok, sebenarnya apa yang terjadi dengan istriku?" tanya Bara ketika dokter sudah selesai menangani Nasha. Dokter yang baru memeriksa juga menatapnya, dia terlihat sama bingung dan panik sama sepertinya. Bara hanya mengangguk dan membiarkan dokter itu pergi. Saat tiba di rumah sakit dia memang sudah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Dokter sudah mengatakan semua hasil pemeriksaan dan kondisi istrinya memang membuat mereka bingung. Bara kembali duduk tepat di samping Nasha, menggenggam tangannya. Dia menghela napas pelan karena mengira istrinya akan sadar tetapi kondisinya malah belum ada kemajuan. ... Zoya kembali sadarkan diri, kali ini dia bisa membuka sedikit kelopak matanya. Dia melihat dinding putih, bau obat yang semakin pekat. Zoya tiba-tiba merasakan denyut dadanya yang membuatnya meringis kesakitan, di saat itu Zoya melihat sosok laki-laki tengah berbaring di dekatnya. Dia terkejut karena kehangatan dari pria itu dan bersedia menunggunya bangun sampai tertidur. Zoya tiba-tiba tercekat ketika dia mengetahui jika usahanya untuk mengakhiri hidupnya gagal. Dia mungkin di selamatkan olh orang yang berada di pantai, Zoya melebarkan matanya dan menatap pria itu dalam diam, dia tidak pernah memiliki orang yang perhatian seperti ini seumur hidupnya. "Andai hidupku dulu seindah ini akan menyenangkan." gumam Zoya sebelum dia kembali kehilangan kesadarannya. ... Bara mengambil handuk yang tersampir di bahunya, dia mengeringkan rambutnya setelah mandi. Sudah seminggu dia tinggal di rumah sakit untuk menemani Nasha. Kedua orangtuanya juga terkadang datang untuk mengetahui perkembangan istrinya tetapi masih tidak ada kemajuan. Perusahaan juga sementara di ambil alih oleh aahnya. Dia tidak bisa fokus bekerja karena terlalu khawatir dengan Nasha. Sementara itu, kedua orangtua Nasha tiba di rumah sakit. Bara memperbaiki pakaiannya lalu memutuskan turun untuk menejemput mereka di lobi rumah sakit. Langkah Bara sangat berat ketika melihat kedua orangtua Nasha. Dia menyalami mereka lalu mengatarnya masuk ke kamar di mana Nasha di rawat. Ketika masuk ke dalam, ibu mertuanya langsung memeluk Nasha yang masih terbaring di atas tempat tidur. Mereka larut dalam kesedihan selama setengah jam. Bara akhirnya bisa menyalami kedua orangtua Nasha dengan sopan setelah mereka lebih tenang. "Sabar, Nak. Semoga Nasha cepat sadarkan diri." ucap ibu mertuanya. Bara ikut menatap Nasha yang berbaring dengan mata terpejam. Tampak sekali wajahnya yang kelelahan, Bara sama sekali tidak melihat kebahagiaan di wajah istrinya, padahal dia selalu ceria dan bahagia. Nasha terlihat berbeda setelah jatuh, Bara merasakan jika hanya kesedihan yang terlihat. Mereka masih berbicara tentang Nasha sampai tiba waktu makan malam. Bara mengajak mereka makan malam di luar, tetapi kedua mertuanya ingin makan malam di rumah sakit. Bara menyetujuinya karena tidak ingin terlalu lama meninggalkan Nasha. Ketika mereka makan malam, betapa terkejutnya mereka ketika Nasha mengalami kejang. Para perawat dan juga dokter berdatangan untuk menenangkan Nasha. Butuh waktu yang cukup lama sampai Nasha bisa tenang. Bara hanya mengamati dari jauh, dia harap-harap cemas ketika dokter memeriksa Nasha dna memanggil namanya. Tidak lama kemudian, Dokter berbalik dan mengatakan jika Nasa sudah sadarkan diri. ... Zoya menutup matanya kembali karena silau akibat cahaya lampu, dia mendengar suara-suara yang menandakan ada banyak orang di tempat itu. Dia melihat banyak perawat dan salah seorang dokter sedang menatapnya. Sesekali dokter itu mengarahkan senter tepat ke arah matanya. "Bu Nasha, bisa lihat jari saya?" ucap laki-laki paruh baya yang memakai jas putih. Zoya dengan perlahan mengikuti pergerakan jarinya. Dia diperiksa beberapa hal lain juga dan mengikutinya sesuai apa yang dia rasakan. Ajaibnya dia bisa melakukannya tanpa penolakan, dia hanya merasa sedih karena usahanya sudah gagal padahal dia sudah menghabiskan seluruh uang dan juga tidak memiliki tempat tujuan. Dia menatap sekeliling dengan hati-hati, orang yang menemukannya pasti orang yang mampu karena meletakkannya di ruangan mewah seperti ini, bukan di bangsal perawatan biasa. Dokter itu pergi untuk berbicara dengan seseorang, sementara dia mencoba memejamkan mata dan memulihkan kesadarannya. Zoya masih merasa linglung, kepalanya terasa sangat pusing dan penglihatannya masih samar. Saat itu, seorang pria dan pasangan paruh baya menghampirinya. Dia sama sekali tidak mengenali mereka, Zoya juga mengernyit ketika mengingat dokter itu menyebut namanya dengan salah. Nasha? Siapa Nasha? "Syukurlah, kamu sudah sadar sayang. Aku sangat khawatir." ucap pria itu dan langsung memeluknya. Dia masih tida ada tenaga untuk menolak, apalagi ketka melihat pria itu menangis. Zoya semakin bingun, apalagi pasangan paruh baya itu juga mengelus kepalanya sembari menangis. "Ada apa?" Itu kata pertama yang dia ucapkan dan langsung terbatuk, perawat langsung melepas masker oksigen yang dia kenakan lalu memberinya air minum. Zoya meminum sedikit demi sedikit agar tidak tersedak karena tenggorokannya sangat kering. "Kamu tiba-tiba jatuh pingsan saat ke datang ke kantorku dan baru siuman sekarang." ucap pria itu masih menghapus air matanya. Zoya mengerjabkan matanya bingung, dia tidak mengerti apa yang terjadi sama sekali. Bukannya dia menenggelamkan dirinya di pantai? "Siapa Nasha?" Seketika ruangan itu berubah menjadi hening, dokter juga terkejut dan langsung memeriksanya kembali. "Berikan dia waktu istirahat sebentar. Kesadarannya belum terlalu pulih, kalian boleh kembali besok pagi." Satu jam kemudian, tiga orang itu meninggalkan ruangan walaupun dengan terpaksa. Sementara itu, dia melakukan rangkaian pemeriksaan. Zoya mengikutinya tanpa bisa menolak, tenaganya benar-benar tidak ada untuk melawan. Ketika pemeriksaan seesai, dia di kembalikan ke ruangan perawatan. "Mbak, kenapa kita ada disini? Bukan di bangsal biasa?" tanya Zoya. Perawat yang mendorong tempat tidurnya tersenyum, "Itu karena Pak Bara sudah membayar semuanya." "Bara?" tanya Zoya dengan kening berkerut. "Suami anda, dia yang memakai kemeja coklat tadi." jelas perawat itu. Seketika kepala Zoya seperti di hantam palu besar sekali sampai membuatnya lebih fokus. Zoya menatap perawat itu serius, "Mbak, saya belum menikah." Bukannya bingung, perawat itu malah tersenyum. "Kata dokter, anda mungkin mengalami amnesia sementara. Mungkin besok ingatan anda sudah pulih. Jadi, silahkan beristirahat." Setelah perawat selesai mengecek infus dan juga beberapa kabel lain yang tertempel di tubuhnya, perawat itu keluar tanpa sepatah kata apapun lagi. Meninggalkan Zoya dalam kebingungan, dia sudah menjadi istri orang? Dalam waktu satu minggu? Tidak mungkin! Zoya menggosokkan kedua tangannya refleks, dia terkejut ketika merasa telapak tangannya sangat lembut. Rasa terkejutnya kian bertambah ketika melihat kuku jarinya juga terlihat cantik dengan menggunakan kuku palsu. Zoya memperhatikan telapak tangannya lebih jelas. Di sana tidak ada luka bekas terkena pecahan piring atau bekas luka bakar. Kulitnya benar-benar halus dan terjaga, Zoya terus menatap jemarinya dan merasa semakin aneh. Dia merasa tubuhnya sangat terjaga, tidak seperti dulu. Dia terus menatapnya sampai terlelap. Zoya bangun ketika mendengar suara langkah, dia melihat perawat datang dan mengganti infusnya. Dia kembali seorang diri ketika perawat itu pergi. Zoya menatap seluruh ruangan, dia baru memperhatikan karena kemarin kondisinya belum terlalu baik. Dia mengingat ketiga orang yang kemarin menungguinya, mereka jelas-jelas terkejut ketika dia menanyakan siapa itu Nasha. Dia berpikir, dirinya tidak ungkin di selamatkan dari laut dan tiba-tiba mendapatkan suami dan juga kedua orangtua. Itu hanya ada di sebuah drama atau komik yang pernah dia baca. Tidak mungkin terjadi di dunia nyata. "Lalu apa yang terjadi denganku?" tanya Zoya menatap langit-langit kamar. Dia dikejutkan dengan pintu geser yang terbuka, di sana masuk seorang pria yang menatapnya begitu dalam. Zoya memalingkan wajah dan menatap jendela. Tatapan pria itu membuat jantungnya berdebar, padahal dia sama sekali tidak mengenali siapa pria itu. "Sayang, aku datang bawa bubur kesukaan kamu." Zoya mengerjab ketika mendengar kelembutan suara pria yang bernama Bara itu. Dia tetap memalingkan pandangan, dia tidak ingin makan apapun sebelum tahu siapa pria ini dan kenapa dia bisa ada disini. Zoya baru saja membuka mulut ketika pria itu membelai kepalanya. "Semoga kamu cepat sembuh sayang, supaya kita bisa keluar dari rumah sakit." ucap Bara lembut. Zoya menepis tangan Bara, "Siapa kamu? Kenapa terus memanggilku seperti itu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD