Naura menghentakkan kedua kakinya sambil memanyunkan bibir ketika baru turun dari motor. Sepanjang perjalanan dia merasa nyaman dan aman saat dibonceng Dimas— eh ternyata karena tak ada pembatas diantara mereka. Dan, Naura menempel seperti cicak pada dinding. Saking malunya wajahnya sampai memerah. Putra tak henti-henti menggodanya padahal sudah ditegur oleh Dimas. “Masuk yuk— gak usah didengarkan manusia satu itu,” ujar Dimas. Naura memukul pelan lengan Putra sebelum masuk ke dalam toko cat. Meski sedang kesal bercampur malu masih sempat-sempatnya bersikap jahil. “Cieee— Naura, sudah berani peluk-peluk Ayang,” goda Putra. Naura pun berdecak kesal. Lalu menendang tulang kering lelaki itu hingga merintih kesakitan. Barulah dia menyusul Dimas yang sudah masuk ke dalam lebih dulu. M

