Ada helaan napas berat saat telepon itu berakhir. Clarissa menggigit bibir bawahnya pelan. Tatapannya tampak suram dengan jejak pikiran yang jelas. Namun saat ini, dia tak berharap akan melihat sosok wanita asing di rumahnya yang tengah duduk di bangku halaman dengan secangkir teh panas di meja depannya. Mengernyit, dia melangkah mendekat. Selama satu minggu lebih berada di rumah yang baru dia tinggali, ini adalah pertama kalinya dia mendapati seorang tamu. Namun dia tak berharap bahwa kehadirannya dengan cepat disadari. "Oh, akhirnya kau pulang." wanita itu berdiri dengan tersenyum hangat. Menatap Clarissa dari atas hingga bawah dengan penuh ketelitian. Seakan menilai penampilan gadis di depannya dengan sangat hati-hati. Tanpa terasa senyumnya melebar sangat puas dengan tata

