8. Aku tak ingin melihatmu 1.

1039 Words
Siang ini Clarissa baru saja duduk di bangku kelasnya sebelum Harumi menarik tangannya pelan untuk keluar dari kelas. Dia telah menolak pada awalnya, namun gadis cantik itu memiliki segudang alasan yang membuatnya tak dapat menolak dengan mudah. Pada akhirnya dia mengikuti Harumi dan berakhir di sebuah bangku taman di belakang universitas. "Cla, kau harus memakan ini." Harumi meletakkan sesuatu dari dalam tasnya dengan wajah riang penuh semangat. Clarissa mengerutkan keningnya saat melihat sekotak kacang Almond  di atas meja taman. Dia menatap Harumi kembali dengan tatapan tak yakin lalu kembali pada kotak di depannya. "Kau menyuruhku memakan ini?" Harumi mengangguk sekali lagi. "Kudengar, kacang ini-" "Sampai mati pun aku tidak akan memakannya," potong Clarissa mantap. "Aku alergi kacang Almond, kau pasti tahu itu." Harumi membelalakan matanya, "Aku lupa. Cla, aku benar-benar lupa, aku hanya ingin memberikan sesuatu saat kau hami-" "Sstttthhh," bungkam tangan Clarissa pada mulut Harumi hingga Harumi tak dapat melanjutkan kata-katanya. Harumi mengangguk mengerti dan setelah itu tangan Clarissa lepas dari bibirnya. "Ada apa?" Clarissa terlihat ragu untuk menceritakan segalanya. Namun saat melihat mata Harumi menatapnya, dia akhirnya mendesah. "Aku bertemu dengan pria yang di club malam itu," "Apa?" ungkap Harumi terkejut. "Kau benar-benar bertemu dengannya? Dimana? Dimana kau bertemu dengannya? Aku akan mendatanginya lalu membuatnya menyesal karena telah menyentuhmu!" Clarissa tersenyum miris melihat semangat Harumi yang berapi api. "Lupakan, aku tak berniat untuk bertemu dengannya. Lagi pula, aku tak ingin melihatnya lagi. Itu membuat perasaanku menjadi buruk," "Tapi, Cla, kau tak bisa. Kau tak bisa seperti ini. Kau harus membuat perhitungan. Biarkan aku, biarkan aku yang menggantikanmu untuk menyengsarakan hidupnya," Clarissa menggeleng. "Lalu kau ingin dia tahu, bahwa aku hamil? Dia tak akan tergerak. Ini anakku, aku akan bertanggung jawab atas apapun. Tidak, aku tak ingin dia tahu bahwa aku hamil," Harumi terdiam. Tekat bulat itu, dia benar-benar bangga dengan Clarissa. Tak peduli apapun, gadis ini mampu bertahan hirup sendirian dalam memenuhi kebutuhan hidup yang tak sedikit. Perlahan, dia menyentuh tangan Clarissa lembut. "Kau bisa datang padaku, jika mengalami kesusahan. Aku akan ada untukmu," Clarissa tersenyum dan mengangguk pelan. "Kelas akan di mulai, ayo kita pergi." "Tidak, aku akan membolos kali ini. Aku punya sedikit masalah dan keluargaku menuntut untuk segera diselesaikan." "Masalah?" tanya Clarissa memastikan dengan satu alis terangkat. Harumi mengangguk. Dan hal itu membuat Clarissa tertawa kecil. "Apakah itu soal perjodohan?" Harumi membelalakan matanya takjup.  "Bagaimana kau tahu?" "Apa kau lupa siapa aku? Tata cara keluarga kelas atas, aku sudah menebaknya. Jadi, apakah itu pernikahan bisnis?" Harumi menepuk jidatnya pelan. "Ya Tuhan, bagaimana bisa aku lupa bahwa bisnis keluargamu jauh lebih besar dari milik keluargaku." menatap Clarissa yang tersenyum tiba-tiba dia menggenggam tangan tangan Clarissa dengan dua tangannya. "Cla, kau harus memberi tahu aku, bagaimana cara menjadi wanita yang memikat? Bagaimana caramu memiliki kekasih yang dengan mudah di setujui oleh ayahmu? Aku tahu, ayahmu tak akan setuju jika itu tak berpengaruh pada bisnis keluarga," Clarissa menarik tangannya enggan. Cahaya matanya meredup saat tanpa terasa dia mengingat Evander. Ah, pria tampan itu kini dia harus merelakannya. Cintanya, janji manis dan seluruh hal yang telah mereka susun sebelumnya, dia harus benar-benar melupakan semuanya. Dia juga harus mengakhiri hubungan mereka. Ada raut sedih yang terlintas di mata Clarissa. Namun dia meraba perutnya yang datar dan kemudian tersenyum tipis. "Ya, semua terjadi begitu saja. Jadi apakah kau sudah bertemu dengannya? Pria yang di jodohkan denganmu," Harumi tersenyum malu dan mengangguk. Ada rona merah yang hadir di kedua pipinya melukiskan kecantikannya yang lembut. "Oh, benarkah? Beritahu aku, seperti apa dirinya," "Dia tampan, dingin, mapan dan dia memiliki sejuta penggemar wanita yang rela mengantri untuk dekat dengannya. Kau tahu, wajahnya itu," Harumi tak melanjutkan kata-katanya selain hanya tersenyum dengan menutup wajahnya melalui dua tangannya. "Ah, aku malu." "Kau terlihat sangat menyukainya." "Betul," jawab Harumi tanpa ragu. "Tapi, dia tak tertarik padaku." Clarissa mengerutkan alisnya, "Kenapa?" "Cla, apakah aku tidak menarik? Apakah aku tidak cantik?" Clarissa menggeleng. "Kau cantik dan menarik." "Kau mengatakannya bukan karena aku sahabatmu bukan?"  Clarissa menggeleng. "Apa masalahnya? Kau tak terbiasa tak percaya diri. Aku mengenalmu cukup lama, jadi aku tahu, ini bukan masalah sepele."  Harumi tak bergerak. Wajahnya sedikit lesu dengan tatapan sendu. "Dia tak tertarik padaku. Yah, di matanya aku tak menarik dan aku bukan tipenya. Apakah aku harus berubah untuk menjadi tipenya? Kau tahu, aku mampu melakukan itu semua." Clarissa tertawa kecil. "Lupakan, kau akan bertemu dengan pria yang lebih hebat darinya." "Tidak, aku tak bisa merelakannya. Aku akan mendapatkannya. Yah, aku akan mendapatkannya apapun caranya," "Kau terdengar sangat bersemangat." "Ahk, entahlah. Aku tak bisa membiarkannya pergi begitu saja setelah mengatakan aku tak menarik. Aku akan membuatnya berlutut dan jatuh cinta padaku berkali kali lipat selama dia hidup." "Baiklah, semoga kau beruntung." Clarissa berdiri dan mulai melangkah. "Aku akan masuk ke kelas," "Cla, Cla," Harumi memiringkan kepalanya sedikit saat melihat Clarissa hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh sedikitpun pada panggilannya. "Aku belum memberitahu dia, bahwa orang yang di jodohkan denganku adalah dosen seminar kemarin. Kenapa dia harus cepat pergi." Harumi bangun dan beranjak menuju tempat parkirnya. Dia mengendarai mobil dan meninggalkan kelas di dalamnya. Di dalam kelas, Keenan tak menyangka bahwa siang ini, dia rela meluangkan waktunya selama satu jam mendatang di tengah kesibukan jadwalnya yang padat demi mendapatkan sebuah kesenangan. Namun kini dia menatap datar saat matanya tak dapat menemukan orang yang tengah dia cari di antara banyaknya mahasiswa yang hadir. Melihat jam di pergelangan tangannya, dia sudah sangat yakin bahwa kelasnya telah berjalan selama lima belas menit. Dia bahkan sudah memberi penjelasan ringan namun sampai menit ini, Clarissa, gadis yang dia tunggu itu tak menampakan dirinya. "Apakah dia tak datang?" batinnya tak tenang. "Aku yakin sudah melihat jadwal kuliahnya lalu mencocokkan waktunya denganku." Matanya bergerak pelan menatap pintu samping bagian belakang ruangan yang masih tertutup rapat. Jika dia tak salah, harusnya Clarissa menggunakan pintu samping bagian belakang karena telah terlambat. Namun sampai saat ini, kenapa pintu ber cat hitam itu masih tetap tertutup. Menyandarkan tubuhnya sesaat sebelum berdiri untuk memberikan penjelasan, dia terpaku saat pintu hitam itu bergerak pelan, dan wajah cantik yang tengah dia tunggu itu terlihat di balik pintu. Dia diam, melihat Clarissa yang mengendap masuk sambil berjongkok untuk mencapai bangku terdekat. Gadis itu bahkan tak melihat dirinya yang telah mengetahui semuanya. "Kau!" tegurnya dingin namun sudut-sudut hatinya cukup terhibur untuk menunggu hal selanjutnya yang akan dia lakukan. "Kau yang di sana, perlihatkan wajahmu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD